Monday effect merupakan anomali musiman yang terjadi pada pasar
finansial, yaitu ketika return saham secara signifikan negatif atau terendah pada
hari Senin (Mehdian dan Perry, 2001). Monday effect merupakan salah satu
bagian dari day of the week effect yang menyatakan bahwa return pada hari
Senin cenderung negatif, sedangkan return positif terjadi pada hari - hari selain
hari Senin. Menurut (Cahyaningdyah & Setyo, 2010) Monday effect terjadi
disebabkan karena adanya bad news pada hari Jumat sore yang juga menjadi
faktor bagi investor menjual sahamnya di awal pekan untuk mengurangi
terjadinya kepanikan pada investor sehingga terjadi penurunan harga saham
pada hari Senin.
Miller (1988) menyimpulkan bahwa Monday effect terjadi karena selama
akhir pekan hingga pada hari perdagangan Senin, investor memiliki
kecenderungan untuk menjual sahamnya daripada membeli saham sehingga harga
saham cenderung lebih rendah. Hal ini disebabkan terdapat datangnya informasi
yang buruk yang diterima investor setelah aktivitas hari perdagangan ditutup.
Rsytorm dan Benson (1989) berpendapat bahwa Monday effect muncul karena
perilaku investor individual. Menurut mereka dalam penelitiannya, dalam
menentukan keputusan finansial, investor dipengaruhi oleh perilaku tidak rasional
seperti mood atau emosi investor. Psikologis investor yang menganggap bahwa
hari Senin adalah hari buruk (bad day) sebagai hari kerja pertama dalam seminggu
membuat investor melakukan perilaku tidak rasional dalam melakukan transaksi.
Tindakan tersebut membuat investor cenderung memperoleh return terendah pada
hari perdagangan Senin dibandingkan hari – hari lainnya. Lakonishok dan
Maberly (1990) meneliti faktor – faktor yang dapat mempengaruhi dari return
daham harian di NYSE, yang dimana memberikan hasil dari penelitian bahwa
saham pada hari Senin negatif disebabkan karena tingginya transaksi aktivitas jual
dari investor dibandingkan dengan aktivitas beli
No comments:
Post a Comment