Setiap orang dihadapkan pada berbagai pilihan dalam menentukan proporsi
dana atau sumber daya yang mereka miliki untuk konsumsi saat ini dan di masa
yang akan dating. Investasi dapat diartikan sebagai komitmen untuk menanamkan
sejumlah dana pada saat ini dengan tujuan memperoleh keuntungan pada masa
yang akan datang. Dengan kata lain, investasi merupakan komitmen untuk
mengorbankan konsumsi sekarang (sacrifice current consumption) dengan tujuan
memperbesar konsumsi di masa datang (Tandelilin, 2010:1).
Dalam melakukan investasi, setiap investor pasti mengharapkan keuntungan
atas investasi yang dilakukannya guna memenuhi kebutuhan konsumsi di masa
datang. Berikut ini adalah beberapa tujuan seorang investor melakukan investasi
(Tandelilin, 2010) :
1. Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masa datang. Seseorang
yang bijaksana akan berpikir bagaimana meningkatkan taraf hidupnya dari
waktu ke waktu atau setidaknya berusaha bagaimana mempertahankan
tingkat pendapatannya sekarang agar tidak berkurang di masa yang akan
datang.
2. Mengurangi tekanan inflasi. Dengan melakukan investasi dalam pemilikan
perusahaan atau obyek lain, seseorang dapat menghindarkan diri dari risiko
penurunan nilai kekayaan atau hak miliknya akibat adanya pengaruh inflasi.
3. Dorongan untuk menghemat pajak. Beberapa Negara di dunia banyak
melakukan kebijakan yang bersifat mendorong tumbuhnya investasi di
masyarakat melalui pemberian fasiitas perpajakan kepada masyarakat yang
melakukan investasi pada bidang-bidang usaha tertentu.
Hal mendasar dalam proses keputusan investasi adalah pemahaman
hubungan antara return harapan dan risiko suatu investasi. Hubungan risiko dan
return harapan dari suatu investasi merupakan hubungan yang searah dan
linear. Artinya, semakin besar return harapan, semakin besar pula tingkat risiko
yang harus dipertimbangkan oleh investor. Dasar keputusan investasi terdiri dari
tingkat return harapan, tingkat risiko serta hubungan antara return dan risiko
(Tandelilin, 2010). Berikut akan dibahas masing-masing dasar keputusan
investasi tersebut.
1. Return. Alasan utama orang berinvestasi adalah untuk memperoleh
keuntungan. Dalam konteks manajemen investasi tingkat keuntungan
investasi disebut sebagai return. Suatu hal yang wajar jika investor
menuntut tingkat return tertentu atas dana yang diinvestasikannya.
Return harapan investor dari investasi yang dilakukannya merupakan
kompensasi atas biaya kesempatan (opportunity cost) dan risiko
penurunan daya beli akibat adanya pengaruh inflasi. Dalam konteks
manajemen investasi, perlu dibedakan antara return harapan
(expected return) dan return aktual atau yang terjadi (realized return).
Return harapan merupakan tingkat return yang diantisipasi investor di
masa datang sedangkan return aktual atau return yang terjadi
merupakan tingkat return yang telah diperoleh investor pada masa
lalu.
2. Risiko. Sudah sewajarnya jika investor mengharapkan return yang
tinggi dari investasi yang dilakukannya, namun berapa besar risiko
yang harus ditanggungnya perlu dipertimbangkan. Risiko sendiri yang
berbeda dengan return harapan. Investor yang rasional tentunya tidak
akan menyukai ketidakpastian atau risiko. Sikap investor terhadap
risiko akan sangat tergantung kepada preferensi investor tersebut
terhadap risiko. Investor yang berani akan memilih tingkat risiko
investasi yang lebih tinggi yang diikuti oleh tingkat return harapan
yang tinggi pula. Demikian pula sebaliknya, investor yang tidak mau
mengambil tingkat risiko yang terlalu tinggi tentunya tidak akan bisa
mengharapkan tingkat return yang tinggi pula.
3. Hubungan Tingkat Risiko dan Return Harapan. Seperti yang
sudah dijelaskan, bahwa hubungan antara tingkat risiko dan return
harapan adalah hubungan yang searah dan linear, artinya semakin
besar tingkat risiko atas suatu investasi maka akan semakin besar
pula tingkat return harapan atas investasi tersebut
No comments:
Post a Comment