Saturday, September 7, 2024

Faktor-faktor Adversity Quotient

 


Dalam pengembangannya Stoltz (2000) merumuskan faktor–faktor
pembentuk adversity quotient seseorang diantaranya yaitu :
a. Daya Saing
Orang-orang yang merespon kesulitan secara lebih optimis bisa diramalkan
akan bersikap lebih agresif dan mengambil lebih banyak resiko, sedangkan
reaksi yang lebih pesimis terhadap kesulitan menimbulkan lebih banyak
sikap pasif dan berhati-hati.
b. Produktivitas
Dalam sejumlah penelitian yang dilakukan di perusahaan-perusahaan,
orang yang merespon kesulitan secara destruktif terlihat kurang produktif
dibandingkan dengan orang yang tidak destruktif.
c. Kreativitas
Orang-orang yang tidak mampu menghadapi kesulitan menjadi tidak
mampu bertindak kreatif.
d. Motivasi
Orang-orang yang memiliki adversity quotient tinggi merupakan orang-
orang yang memiliki paling memiliki motivasi.
e. Mengambil Resiko
Orang-orang yang merespon kesulitan secara lebih konstruktif bersedia
mengambil lebih banyak resiko.
f. Perbaikan
Perbaikan secara terus menerus akan membantu seseorang untuk bisa
bertahan hidup.
g. Ketekunan
Ketekunan adalah kemampuan untuk terus-menerus berusaha, bahkann
manakala dihadapkan pada kemunduran-kemunduran atau kegagalan.
h. Belajar
Anak-anak yang merespon secara optimis akan banyak belajar dan lebih
berprestasi dibandingkan anak-anak yang memiliki pola-pola yang lebih
pesimistis.
i. Merangkul Perubahan
Orang-orang yang memeluk perubahan cenderung merespon kesulitan
secara lebih konstruktif dengan memanfaatkannya untuk memperkuat niat
mereka.
j. Keuletan, Stres, Tekanan, Kemunduran
Psikolog Anak Emmy Werner menemukan bahwa anak-anak yang
merespon secara positif akan menjadi ulet, dan akan bangkit kembali dari
kemunduran-kemunduran yang besar

No comments:

Post a Comment