Sunday, September 8, 2024

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Stres Kerja

 Rosid (dalam Dodik dan Astuti, 2012), menambahkan penyebab umum

stres bagi banyak pekerja adalah atasan, gaji, keamanan, dan keselamatan, hal
ini dapat timbul karena perusahaan mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan
pekerja untuk dapat mengendalikan situasi pekerjaan dan kebutuhan-kebutuhan
untuk dihargai dan diterima, serta pekerja merasa tidak aman dan mereka
berada dalam keadaan tidak pasti.
Menurut Smith (dalam Andiani, 2008), konsep stres kerja dapat ditinjau
dari beberapa sudut yaitu pertama, stres kerja merupakan hasil dari keadaan
tempat kerja. Kedua, stres kerja merupakan hasil dari dua faktor organisasi
yaitu keterlibatan dalam tugas dan dukungan organisasi. Ketiga, stres terjadi
karena faktor workload juga faktor kemampuan melakukan tugas. Keempat,
akibat dari waktu kerja yang berlebihan. Kelima, adalah faktor tanggung jawab
kerja terakhir tantangan yang muncul dari tugas. Kesimpulan stres kerja
merupakan hasil yang disebabkan oelh faktor-faktor diatas.
Heilgel dan Slocum (dalam Fitriani, 2014), mengatakan bahwa stres
kerja dapat disebabkan oleh empat faktor utama, yaitu konflik ketidakpastian,
tekanan dari tugas serta lingkungan dengan pihak manajemen, Jadi stres kerja
merupakan umpan balik atas diri karyawan secara fisiologis maupun psikologis
terhadap keinginan atau permintaan organisasi. Keemudian dikatakan pula
bahwa stres kerja merupakan faktor-faktor yang dapat memberikan tekanan
terhadap produktivitas dan lingkungan kerja serta dapat mengganggu individu
tersebut. Stres kerja juga dapat meningkatkan motivasi karyawan dianggap
sebagai stres yang positif (eustress) sebaliknya stresor yang dapat
mengakibatkan hancurnya produktivitas kerja karyawan dapat disebut sebagai
stres negatif (distress)
Sementara itu, Goodson dan Cashmen (dalam Rahardjo, 2014),
mendapati bahwa beberapa faktor yang menyebabkan pegawai mengalami stres
kerja tetapi tugas yang mereka kerjakan penuh dengan tantangan dan
menyenangkan hati mereka selain itu terjadi komunikasi yang efektif diantara
para anggota dalam organisasi tersebut. Mereka menunjukkan bahwa ada kerja
sama yang kondusif antara atasan dan karyawan, selain itu karyawan
memandang para manajemen memberi keluasan yang besar terhadap diri
mereka. Megee (dalam Amiruddin dan Ambarini, 2014), juga menemukan
bahwa faktor internal individu yaitu kepribadian dan sifat yang dimiliki
individu dapat mempengaruhi kepuasaan kerja dan stres karyawan.
Tosi (dalam Andiani, 2008), ada beberapa faktor luar pekerjaan yang
dapat menjadi sumber stres yaitu :
a) Perubahan struktur kehidupan
Penyesuaian pribadi merupakan cara untuk melihat hubungan antara
pengembangan diri dan perbedaan pandangan dari kehidupan pribadi yang
dapat digambarkan melalui perubahan-perubahan kehidupan. Tiga dimensi
struktur kehidupan yang dapat menyebabkan stres yaitu :
1) Dimensi budaya sosial yang dilakukan bersama keluarga, keturunan,
struktur pekerjaan, dan faktor-faktor sosial yang luas lainnya.
2) Hubungan dengan orang lain dalam dunia budaya soaial, seperti seorang
pribadi berperan sebagai suani atau istri, rekan kerja, orang tua, rakya
sebuah negara, dan sebagainya.
3) Aspek dari individu sendiri. Individu mempunyai kecenderungan ciri-ciri
yang tidak tahan terhadap tekanan, ancaman, cemas.
b) Dukungan sosial
Kehilangan suatu pekerjaan akan menyebabkan individu mengalami stres
sehingga menunjukan kecenderungan munculnya gejala-gejala seperti
radang sendi, kenaikan kadar kolesterol dan kepala terasa nyeri. Dukungan
sosial merupakan salah satu cara komunikasi yang positif karena berisi
tentang perasaan suka, keyakinan, penghargaan, penerimaan diri dan
kepercayaan diri seseorang terhadap kepentingan orang lain (Kazt dan
Kahn dalam Astuti, 2005).
c) Locus of control
Locus of control internal adalah ketika individu yang ber-locus of control
internal menghadapi stres potensial, mereka sebelumnya akan mempelajari
terlebih dahulu peristiwa-peristiwa yang dianggap mengancam dirinya,
kemudian bersikap tertentu secara rasional dalam menghadapu stres kerja
tersebut, sebaliknya individu yang ber-locus of control eksternal
menganggap bahwa segala peristiwa yang ada didalam lingkungan kerja
disekitarnya amay mempengaruhi dirinya dengan kata lain, sikap hidupnya
amat dikendalikan oleh faktor lingkungan. Individu yang mempunyai
perasaan cemas, mudah stres, depresi, neurosis, pekerjaan dan hidupnya
selalu ditentukan oleh nasip yang mengendalikan dirinya.
d) Tipe A dan tipe B
Setiap individu mempunyai ciri-ciri yang berbeda satu dengan yang
lainnya secara umum, kepribadian individu digolongkan kedalam dua sifat
yaitu: ekstrovert dan intovert. Individu yang mempunyai sifat introvert
akan cendrung mengalami stres bila dihadapkan dengan situasi yang
membuat dirinya terancam atau tertekan dalam kaitannya dengan
hubungan antar manusia dibandingkan dengan individu yang mempunyai
kepribadian ekstrovert.
e) Harga diri
Harga diri merupakan cara penerimaan seseorang dan usaha untuk
melakukan evaluasi terhadap diri sendiri atau disebut konsep diri. Jika
seseorang mempunyai konsep diri positif, maka orang tersebut mempunyai
hargai yang tinggi sehingga ia dapat mengembangkan diri dalam
menghadapi situasi, kondisi atau peristiwa yang mengganggu, menekan
atau mengancam dirinya akibatnya orang tersebut mengalami stres kerja
yang rendah. Sebaliknya jika orang tersebut mempunyai harga diri yang
rendah dalam menghadapi kondisi, situasi atau peristiwa mengganggu,
menekan atau mengancam dalam pekerjaannya, maka ia akan mengalami
stres kerja yang tinggi karena rasa percaya dirinya yang rendah.
f) Fleksibilitas atau kaku
Orang yang mempunyai kecenderungan yang fleksibel adalah orang yang
dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan atau tekanan-tekanan karena
lebih baik dalam melakukan kerja sama dengan orang lain dibandingkan
dengan orang yang kaku
g) Kemampuan.
Kemampuan merupakan salah satu aspek yang dapat mempengaruhi
respon-respon individu terhadap kondisi, situasi atau peristiwa yang dapat
menimbulkan stres. Individu mempunyai kemampuan tinggi cenderung
mempunyai pengendalian lebih terhadap kondisi, situasi atau peristiwa
yang menimbulkan stres dari pada individu yang mempunyai kemampuan
rendah dalam menghadapi stress.

No comments:

Post a Comment