Thursday, January 3, 2019

Evaluasi Ergonomi dalam Perancangan Desain (skripsi dan tesis)


Esensi dasar dari evaluasi ergonomi dalam proses perancangan desain adalah sedini mungkin mencoba memikirkan kepentingan manusia agar bisa terakomodasi dalam setiap kreativitas dan inovasi sebuah ‘man made object’ (Sritomo, 2000). Fokus perhatian dari sebuah kajian ergonomis akan mengarah ke upaya pencapaian sebuah perancanganan desain suatu produk yang memenuhi persyaratan ‘fitting the task to the man’ (Granjean,1982), sehingga setiap rancangan desain harus selalu memikirkan kepentingan manusia, yakni perihal keselamatan, kesehatan, keamanan maupun kenyamanan. Sama seperti yang diungkapkan Sritomo (2000), desain sebelum dipasarkan sebaiknya terlebih dahulu dilakukan kajian/evaluasi/pengujian yang menyangkut berbagai aspek teknis fungsional, maupun kelayakan ekonomis seperti analisis nilai, reliabilitas, evaluasi ergonomis, dan marketing.
Untuk melaksanakan kajian atau evaluasi (pengujian) bahwa desain sudah memenuhi persyaratan ergonomis adalah dengan mempertimbangkan faktor manusia, dalam hal ini ada empat aturan sebagai dasar perancangan desain, yakni :
1.    Memahami bahwa manusia merupakan fokus utama perancangan desain, sehingga hal-hal yang berhubungan dengan struktur anatom (fisiologik) tubuh manusia harus diperhatikan, demikian juga dengan dimensi ukuran tubuh (anthropometri).
2.    Menggunakan prinsip-prinsip kinesiologi dalam perancangan desain (studi mengenai gerakan tubuh manusia dilihat dari aspek biomechanics), tujuannya untuk menghindarkan manusia melakukan gerakan kerja yang tidak sesuai, tidak beraturan dan tidak memenuhi persyaratan efektivitas efisiensi gerakan.
3.    Pertimbangan mengenai kelebihan maupun kekurangan (keterbatasan) yang berkaitan dengan kemampuan fisik yang dimiliki oleh manusia di dalam memberikan respon sebagai kriteria-kriteria yang perlu diperhatikan pengaruhnya dalam perancangan desain.
4.    Mengaplikasikan semua pemahaman yang terkait dengan aspek psikologik manusia sebagai prinsip-prinsip yang mampu memperbaiki motivasi, attitude, moral, kepuasan dan etos kerja.
Selain hal-hal tersebut di atas, unsur lain yang juga penting untuk diperhatikan dalam perancangan adalah hubungan antara lingkungan, manusia, alat-alat atau perangkat kerja, dengan produk fasilitas kerjanya. Satu sama lain saling berinteraksi dan memberi pengaruh signifikan terhadap peningkatan produktivitas, efisiensi, keselamatan, kesehatan, kenyamanan maupun ketenangan orang bekerja sehingga menghindarkan diri dari segala bentuk kesalahan manusiawi (human error) yang berakibat kecelakaan kerja. Lingkungan fisik tempat kerja bagi manusia dipengaruhi antara lain oleh:
1)   Cahaya
Dalam faktor cahaya, kemampuan mata untuk melihat obyek dipengaruhi oleh ukuran obyek, derajat kontras antara obyek dan sekelilingnya, luminensi (brightness), lamanya melihat, serta warna dan tekstur yang memberikan efek psikologis pada manusia. Mata diharapkan memperoleh cahaya yang cukup, pemandangan yang menyenangkan, menenangkan pikiran, tidak silau, dan nyaman. Pencahayaan yang kurang dapat mengakibatkan kelelahan pada mata.
2)   Kebisingan
Aspek yang menentukan tingkat gangguan bunyi terhadap manusia adalah lama waktu bunyi terdengar, intensitas (dalam ukuran desibel/dB, besarnya arus energi per satuan luas), dan frekuensi (dalam Hertz/Hz, jumlah getaran per detik). Usaha-usaha pengurangan kebisingan dapat dilakukan dengan pengurangan kegaduhan pada sumber, pengisolasian peralatan penyebab kebisingan, tata akustik yang baik/ memberikan bahan penyerap suara, memberikan perlengkapan pelindung.
3)   Getaran mekanis
Getaran mekanis dapat diartikan sebagai getaran-getaran yang ditimbulkan oleh alat-alat mekanis. Biasanya gangguan yang dapat ditimbulkan dapat mempengaruhi kondisi bekerja, mempercepat datangnya kelelahan dan menyebabkan timbulnya beberapa penyakit. Besaran getaran ditentukan oleh lama, intensitas, dan frekuensi getaran. Sedangkan anggota tubuh mempunyai frekuensi getaran sendiri sehingga jika frekuensi alami ini beresonansi dengan frekuensi getaran mekanis akan mempengaruhi konsentrasi kerja, mempercepat kelelahan, gangguan pada anggota tubuh seperti mata, syaraf, dan otot.
4)   Temperatur
Temperatur yang terlalu panas akan mengakibatkan cepat timbulnya kelelahan tubuh, sedangkan temperatur yang terlalu dingin membuat gairah kerja menurun. Kemampuan adaptasi manusia dengan temperatur luar adalah jika perubahan temperatur luar tersebut tidak melebihi 20 % untuk kondisi panas dan 35 % untuk kondisi dingin (dari keadaan normal tubuh). Dalam kondisi normal, temperatur tiap anggota tubuh berbeda-beda. Tubuh manusia bisa menyesuaikan diri karena kemampuannya untuk melakukan proses konveksi, radiasi dan penguapan.Produktivitas manusia paling tinggi pada suhu 24 – 27° C.
5)   Kelembaban
Kelembaban diartikan sebagai banyaknya air yang terkandung dalam udara, biasanya dinyatakan dalam persentase. Jika udara panas dan kelembaban tinggi, terjadi pengurangan panas dari tubuh secara besar-besaran dan denyut jantung makin cepat.
6)   Warna.
Permainan warna dalam desain memberi dampak psikologis bagi pengamat dan pemakainya, misalnya warna merah memberi kesan merangsang, kuning memberi kesan luas dan terang, hijau atau biru memberi suasana sejuk dan segar, gelap memberi kesan sempit, permainan warna-warna terang memberi kesan luas.
Selain hal-hal tersebut di atas, kemampuan untuk meningkatkan produktivitas kerja manusia dipengaruhi pula oleh sikap, gerakan, aktivitas, struktur fisik tubuh manusia,struktur tulang, otot rangka, sistem saraf dan proses metabolisme. Sikap yang tidak tepat menyebabkan gangguan, stress, rasa malas bekerja, ketidaknyamanan dan kelelahan (kelelahan pada seluruh tubuh, mental, urat syaraf, bahkan menyebabkan rasa sakit dan kelainan pada struktur tubuh manusia.
Aktivitas kerja manusia, baik fisik maupun mental mempunyai tingkat intensitas yang berbeda. Intensitas tinggi berarti energi tinggi, intensitas rendah berarti energi rendah. Mengeluarkan energi dalam jumlah besar untuk periode yang lama bisa menimbulkan kelelahan fisik dan mental, sedangkan kelelahan mental lebih berbahaya dan kadang-kadang menimbulkan kesalahan-kesalahan kerja yang serius. Selain itu, posisi tubuh yang tidak alami atau sikap yang dipaksakan berakibat pada pengurangan produktivitas manusia, hal ini berkaitan dengan dengan sejumlah tenaga yang harus dikeluarkan akibat beban tambahan.
Bagas (2000) mengatakan, apabila antara manusia (pemakai) dan kondisi hasil desain yang sifatnya fisik atau mekanismenya tidak aman, itu berarti terjadi ketidakmampuan pelaksanaan fungsi secara baik, sehingga berakibat pada kesalahan manusiawi (human errors), kegagalan akhir pada desain yang tidak baik, kesulitan dalam produksi, kegagalan produk, bahkan menimbulkan kecelakaan kerja. Hal yang sama diungkapkan oleh Cormick dan Sanders (1992) ‘ it is easier to bend metal than twist arms’, yang bisa diartikan merancang produk untuk mencegah terjadinya kesalahan akan jauh lebih mudah bila dibandingkan mengharapkan orang atau operator jangan sampai melakukan kesalahan pada saat mengoperasionalkan produk tersebut. Memperhatikan hal tersebut, diperlukan pengetahuan dan penyelidikan tentang ketepatan atau kepresisian, kesesuaian, kesehatan, keselamatan, keamanan dan kenyamanan manusia dalam bekerja.
Faktor perbedaan ukuran atau postur dan berat badan manusia, kebiasan, perilaku, sikap manusia dalam beraktivitas, serta kondisi lingkungan juga memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Faktor-faktor yang mempengaruhi ukuran tubuh manusia antara lain umur, jenis kelamin (dimensi tubuh laki-laki umumnya lebih besar dari wanita), suku bangsa, dan posisi tubuh. Sedangkan dalam perancangan desain, pertimbangan ergonomi yang nyata dalam aplikasinya untuk mendapatkan data ukuran tubuh yang akurat menggunakan pengukuran anthropometri
(a)  Normal (Kelenturan normal/alami, tidak ada tekanan pada cakram tulang belakang
(b)  Kifosis (tulang punggung terlalu bengkok kebelakang, cakram terjepit),
(c)  Lordosis (tulang punggung bengkok ke depan, cakram terjepit),
(d)  Skoliosis (tulang punggung bengkok ke kiri dan kanan, cakram terjepit)

Desain dan Ergonomi (skripsi dan tesis)


Desain dapat diartikan sebagai salah satu aktivitas luas dari inovasi desain dan teknologi yang digagaskan, dibuat, dipertukarkan (melalui transaksi jual-beli) dan fungsional. Desain merupakan hasil kreativitas budi-daya (man-made object) manusia yang diwujudkan untuk memenuhi kebutuhan manusia, yang memerlukan perencanaan, perancangan maupun pengembangan desain, yaitu mulai dari tahap menggali ide atau gagasan, dilanjutkan dengan tahapan pengembangan, konsep perancangan, sistem dan detail, pembuatan prototipe dan proses produksi, evaluasi, dan berakhir dengan tahap pendistribusian. Jadi dapat disimpulkan bahwa desain selalu berkaitan dengan pengembangan ide dan gagasan, pengembangan teknik, proses produksi serta peningkatan pasar.(Bagas, 2000)
Ruang lingkup kegiatan desain mencakup masalah yang berhubungan dengan sarana kebutuhan manusia, di antaranya desain interior, desain mebel, desain alat-alat lingkungan, desain alat transportasi, desain tekstil, desain grafis, dan lain-lain. Memperhatikan hal-hal tersebut, desainer dalam analisis pemecahan masalah dan perencanaannya atau filosofi rancangan desain bekerja sama dengan masyarakat dan disiplin ilmu lain seperti arsitek, psikolog, dokter atau profesi yang lain. Misalnya, dalam merancang desain kursi pasien gigi, dibutuhkan kerja sama dari dokter dan pasien, diperlukan penelitian lebih lanjut tentang aktivitas dan posisi duduk pasien sebagai pemakai, yang efektif, efisien, aman, nyaman dan sehat, sehingga desainer dapat menyatukan bentuk dengan memusatkan perhatian pada estetika bentuk, konstruksi, sistem dan mekanismenya. Selain itu, desainer dapat membuat suatu prediksi untuk masa depan, serta melakukan pengembangan desain dan teknologi dengan memperhatikan segala kelebihan maupun keterbatasan manusia dalam hal kepekaan inderawi (sensory), kecepatan, kemampuan penggunaan sistem gerakan otot, dan dimensi ukuran tubuh, untuk kemudian menggunakan semua informasi mengenai faktor manusia ini sebagai acuan dalam perancangan desain yang serasi, selaras dan seimbang dengan manusia sebagai pemakainya.(Bagas, 2000)
Untuk menilai suatu hasil akhir dari produk sebagai kategori nilai desain yang baik biasanya ada tiga unsur yang mendasari, yaitu fungsional, estetika, dan ekonomi. Kriteria pemilihannya adalah function and purposeutility and economicform and styleimage and meaning. Unsur fungsional dan estetika sering disebut fit-form-function, sedangkan unsur ekonomi lebih dipengaruhi oleh harga dan kemampuan daya beli masyarakat.
(Bagas, 2000) mengemukakan desain yang baik berarti mempunyai kualitas fungsi yang baik, tergantung pada sasaran dan filosofi mendesain pada umumnya, bahwa sasaran berbeda menurut kebutuhan dan kepentingannya, serta upaya desain berorientasi pada hasil yang dicapai, dilaksanakan dan dikerjakan seoptimal mungkin.
Ergonomi merupakan salah satu dari persyaratan untuk mencapai desain yang qualified, certified, dan customer need. Ilmu ini akan menjadi suatu keterkaitan yang simultan dan menciptakan sinergi dalam pemunculan gagasan, proses desain, dan desain final 
Ergonomi adalah ilmu yang menemukan dan mengumpulkan informasi tentang tingkah laku, kemampuan, keterbatasan, dan karakteristik manusia untuk perancangan mesin, peralatan, sistem kerja, dan lingkungan yang produktif, aman, nyaman dan efektif bagi manusia. Ergonomi merupakan suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi mengenai sifat manusia, kemampuan manusia dan keterbatasannya untuk merancang suatu sistem kerja yang baik agar tujuan dapat dicapai dengan efektif, aman dan nyaman (Sutalaksana, 1979).
Fokus utama pertimbangan ergonomi menurut Cormick dan Sanders (1992) adalah mempertimbangkan unsur manusia dalam perancangan objek, prosedur kerja dan lingkungan kerja. Sedangkan metode pendekatannya adalah dengan mempelajari hubungan manusia, pekerjaan dan fasilitas pendukungnya, dengan harapan dapat sedini mungkin mencegah kelelahan yang terjadi akibat sikap atau posisi kerja yang keliru.
Untuk itu, dibutuhkan adanya data pendukung seperti ukuran bagian-bagian tubuh yang memiliki relevansi dengan tuntutan aktivitas, dikaitkan dengan profil tubuh manusia, baik orang dewasa, anak-anak atau orang tua, laki-laki dan perempuan, utuh atau cacad tubuh, gemuk atau kurus. Jadi, karakteristik manusia sangat berpengaruh pada desain dalam meningkatkan produktivitas kerja manusia untuk mencapai tujuan yang efektif, sehat, aman dan nyaman. Tujuan tersebut dapat tercapai dengan adanya pengetahuan tentang kesesuaian, kepresisian, keselamatan, keamanan, dan kenyamanan manusia dalam menggunakan hasil produk desain, yang kemudian dikembangkan dalam penyelidikan di bidang ergonomi. Penyelidikan ergonomi dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu :
1)  Penyelidikan tentang tampilan/display
Penyelidikan pada suatu perangkat (interface) yang menyajikan informasi tentang lingkungan dan mengkomunikasikannya pada manusia antara lain dalam bentuk tanda-tanda, angka, dan lambang,
2)  Penyelidikan tentang kekuatan fisik manusia
Penyelidikan dengan mengukur kekuatan serta ketahanan fisik manusia pada saat kerja, termasuk perancangan obyek serta peralatan yang sesuai dengan kemampuan fisik manusia beraktivitas.
3)  Penyelidikan tentang ukuran tempat kerja
Penyelidikan ini bertujuan untuk mendapatkan rancangan tempat kerja yang sesuai dengan ukuran atau dimensi tubuh manusia. Penyelidikan tentang lingkungan kerja Meliputi penyelidikan mengenai kondisi lingkungan fisik tempat kerja dan fasilitas kerja, misalnya pengaturan cahaya, kebisingan, temperatur, dan suara.
4)  Penyelidikan tentang lingkungan fisik
Lingkungan fisik meliputi ruangan dan fasilitas-fasilitas yang biasa digunakan oleh manusia, serta kondisi lingkungan kerja, kedua-duanya banyak mempengaruhi tingkah laku manusia.
Berkenaan dengan penyelidikan tersebut, beberapa disiplin ilmu ergonomi yang terlibat antara lain anatomi dan fisiologi (struktur dan fungsi pada manusia), antropometri (ukuran-ukuran tubuh manusia), fisiologi psikologi (sistim syaraf dan otak manusia), dan psikologi eksperimen (perilaku manusia). Studi tentang psikologi eksperimen dalam desain diperlukan untuk mengetahui kebutuhan dimensi/ukuran tubuh manusia (misalnya saja kebiasaan, perilaku dan budaya manusia duduk, berdiri, mengambil sesuatu, dan bergerak), sehingga didapatkan ukuran yang tepat agar tidak terjadi kekeliruan data dalam perencanaan desain. Psikologi dijadikan studi karena dianggap penting untuk menelaah perilaku dan hal-hal yang dipikirkan oleh manusia sebagai pengguna desain. Seperti yang diungkapkan Ching (1987) dalam perencanaan desain mebel, manusia adalah faktor utama yang mempengaruhi bentuk, proporsi dan skala mebel. Untuk memperoleh manfaat dan kenyamanan dalam melaksanakan aktivitas, mebel harus dirancang sesuai dengan ukuran tubuh manusia, jarak bebas yang diperlukan oleh pola aktivitas dan sifat aktivitas yang dijalani.
Pengambilan data ukuran yang keliru mengakibatkan kegagalan desain, struktur dan fungsi tubuh manusia terganggu dan berubah, bahkan yang paling vital mengakibatkan terganggunya sistem otak dan saraf. Misalnya dalam perancangan desain kursi, Suparto (2003) mengungkapkan hal penting yang diperhatikan dalam perancangan yaitu memperhatikan kemampuan elemen-elemen kursi untuk menanggapi dan membentuk keseimbangan dan kestabilan pada saat orang duduk di atasnya. Pusat gravitasi tubuh pada saat duduk tegak berada sekitar 22 cm di muka dan 24 cm di atas titik acuan duduk (titik acuan duduk adalah perpotongan bidang sandaran dan alas duduk), sedangkan pada saat berdiri tegak pusat gravitasi akan berada 10 cm di depan dan sekitar 15 cm di atas titik acuan duduk. Jadi perancangan dudukan yang terlalu tinggi atau rendah akan berpengaruh buruk pada kenyamanan, mengurangi keseimbangan duduk, kelelahan pada daerah punggung khususnya tulang belakang, bahkan bahaya yang lebih besar adalah terjadinya hambatan dalam sirkulasi darah atau gumpalan darah (thrombophlebitis).Ringkasnya, ergonomi merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam perancangan desain.


Keseimbangan Lintasan Produksi (Line Balancing) (skripsi dan tesis)


Salah satu manfaat dari waktu baku adalah guna menyeimbangkan lintasan produksi. Line balancing digunakan dalam produksi missal (batch) terutama dalam lintasan perakitan. Tujuan dari line balancing adalah untuk memenuhi permintaan dan membebankan pekerjaan pada beberapa stasiun kerja yang akan menghasilkan tingkat efisiensi lintasan yang maksimal (Kusuma, 2001, p.109).

1.1.1.      Jaringan Kerja (Procedence Diagram)
Precedence diagram dapat dimanfaatkan sebagai prosedur dasar untuk mengalokasikan elemen-elemen kerja yang menggambarkan urutan-urutan elemen kerja dan lamanya waktu pengerjaan untuk tiap elemen kerja.
Precedence diagram digunakan untuk membantu peneliti dalam melihat alur proses produksi secara keseluruhan dan dalam menyusun keseimbangan lintasan produksi.


1.1.2.      Elemen-elemen dalam Line Balancing
Berikut ini adalah beberapa elemen yang biasa dipakai dalam Line Balancing (Sritomo, 1995, p.290):
·         Kapasitas adalah kemampuan pembatas dari unit produksi untuk dapat berproduksi dalam waktu tertentu, dan biasanya dinyatakan dalam bentuk keluaran (output) per satuan waktu. Yang dimaksud dengan unit produksi adalah tenaga kerja, mesin, unit stasiun kerja, proses produksi, perencanaan produksi, dan dilakukan dengan menganalisa produk dan aliran proses produksinya, melakukan pengukuran waktu kerja, dan melakukan pengamatan aktivitas operator di lantai produksi secara langsung.
·         Waktu Siklus yang dilambangkan dengan Tc adalah waktu yang tersedia pada tiap stasiun kerja untuk pelaksanaan pekerjaan yang dialokasikan ke stasiun kerja tersebut, biasanya diatur dipengaruhi oleh output (Q) yang dikehendaki selama periode waktu produksi (P) dengan formulasi:
Kendala akan muncul jika salah satu operasi memiliki waktu proses yang lebih besar dari waktu siklus yang diinginkan. Konsekuensi dari waktu proses yang lebih besar ialah bahwa produksi tidak akan mungkin diperlukan lembur atau penambahan shift kerja. Oleh karena itu waktu siklus juga dapat ditentukan berdasarkan waktu elemen/proses terlama.
·         Jumlah minimal dari stasiun kerja (N min), dapat dihitung dengan rumus:

Agar bisa diperoleh kesempatan yang memungkinkan yang menyeimbangkan lintasan dengan cukup beralasan, maka waktu elemen Tei seharusnya lebih kecil dibandingkan dengan waktu siklus (Tc). Di sini harga N harus berupa bilangan bulat. Biasanya harga N min karena masalah keseimbangan.
·         Line Effeciency (E) merupakan perbandingan total waktu pada semua stasiun kerja terhadap waktu siklus dan jumlah stasiun kerja yang dinyatakan dalam prosentase. Effisiensi lintasan dapat dihitung dengan rumus:

Yang mana:

Sedangkan efisiensi untuk tiap stasiun kerja dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

yang mana:
Tei = Waktu elemen kerja ke-i
Tc = Waktu Siklus
·         Smoothness index adalah suatu indeks yang menunjukkan sejauh mana tingkat kelancaran lintasan produksi yang ada. Nilai smoothness index yang mendekati nol menunjukkan bahwa kelancaran lintasan produksi semakin baik. Berikut ini adalah rumus smoothness index:

yang mana:
STmax           = Waktu stasiun kerja yang maksimum
STi             = Waktu stasiun kerja ke-i
k                = Jumlah stasiun kerja
2.2.3. Metode Bobot Posisi
Metode bobot posisi ini diperkenalkan pertama kali oleh W.B. Helgeson dan D.P. Birnie dalam makalahnya “assembly Line Balancing Using the Ranked Posisitional Weight Tecnique” (Sritomo, 1995, p.291).
Langkah-langkah dalam Metode bobot posisi:
a.       Hitung waktu siklus yang diinginkan
b.      Buat precedence diagram kerja lintasan
c.       Lakukan pembebanan operasi pada stasiun kerja mulai dari operasi dengan bobot posisi terbesar sampai dengan bobot posisi terkecil dengan criteria total waktu operasi lebih kecil dari waktu siklus yang diinginkan
d.      Hitung efisiensi rata-rata stasiun kerja yang terbentuk
e.       Hitung jumlah minimal dari stasiun kerja (N min)
f.        Gunakan prosedur trial and error untuk mencari pembebanan yang akan menghasilkan efisiensi rata-rata lebih besar dari efisiensi rata-rata sebelumnya.
Permasalahan yang perlu diperhatikan dalam metode Helgeson-Birnie adalah penentuan waktu siklus minimum untuk waktu siklus tertentu. 

Prosedur Pelaksanaan Dalam Pengukuran dan Pengolahan Data Dengan Jam Henti (skripsi dan tesis)


Untuk memeperoleh hasil study yang baik dan bisa dipercaya maka langkah-langkah yang harus ditempuh dalam perhitungan waktu baku berdasarkan stop watch time study sebagai berikut:
1.. Pengukuran Pendahuluan
Dalam pengukuran hal ini kita harus mengetahui apa maksud dan tujuan pengukuran kerja ini. Setelah itu kita melihat proses produksinya dan membagi operasi kerja ke dalam elemen-elemen kerja sedetail-detailnya, tetapi masih dalam kemudahan untuk diamati atau diukur. Kemudian dilakukan pengukuran pendahuluan yaitu mencatat waktu kerja dari setiap elemen kerja tersebut. Secara umum, ada tiga metode yang digunakan untuk mengukur waktu dari elemen-elemen kerja dengan metode ini, yaitu pengukuran waktu secara terus-menerus (continuous timing), pengukuran waktu secara berulang-ulang (repetitive timing) dan pengukuran waktu secara penjumlahan (accumulative timing).
 2. Pengujian Kenormalan Data
Data sebelum diolah, terlebih dahulu diuji apakah data berdistribusi normal atau tidak. Sehingga bila ada data yang tidak berdistribusi normal maka data tersebut tidak diikutsertakan dalam perhitungan. Uji kenormalan dapat dilakukan dengan bantuan menggunakan software minitab (Statistics → Basic Statistics → Normality Test).
Dengan :
H: Data berdistribusi normal
H1 : Data tidak berdistribusi normal.
Apabila p-value yang diperoleh lebih besar dari a maka gagal tolak H0, tapi bila p-value nilainya lebih kecil dari a maka tolak H0­ dan terima H1.
3. Pengujian Keseragaman Data
Data sebelum diolah, terlebih dahulu diuji apakah data sudah seragam atau tidak. Sehingga bila ada data yang berada di luar batas UCL (Upper Control Limit) dan LCL (Lawer Control Limit), data-data tersebut tidak diikutsertakan dalam perhitungan selanjutnya. Uji keseragaman dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan software minitab (Statistics → Control Charts → Xbar).
Apabila terdapat data yang keluar dari batas kendali, maka data tersebut harus diulang dan diganti dengan data yang baru. Data ekstrim dapat terjadi karena beberapa hal, misalnya karena pengamatan saat membaca stopwatch maupun juga adanya kondisi kerja yang diluar kewajaran.
.4. Pengujian Kecukupan Data
Pada dasarnya, semakin kecil variasi atau perbedaan data waktu yang ada, maka jumlah pengukuran/pengamatan yang harus dilakukan juga akan cukup kecil dan sebaliknya jika semakin besar variabilitas dari data waktu pengukuran akan menyebabkan jumlah siklus kerja yang diamati juga kana semakin besar agar bisa diperoleh ketelitian yang dikehendaki.
.5. Perhitungan Waktu Siklus
Waktu siklus merupakan waktu rata-rata  dari operasi, yang diperoleh dengan cara membagi membagi waktu dengan banyaknya data. Waktu siklus (Ws) juga dapat diperoleh dari hasil pengelolahan software minitab, yaitu sama dengan nilai mean.
.6. Penentuan Penyesuaian Performance Rantig (p)
Penyesuaian/penentuan performance rating perlu diperhatikan karena adanya ketidakwajaran yang dapat terjadi selama proses kerja berlangsung. Contoh ketidakwajaran, misalnya operator bekerja tanpa kesungguhan, operator menjumpai kesulitan-kesulitan, dan lain-lain. Ketidakwajaran yang terjadi ini dapat mempengaruhi kecepatan kerja (lama waktu sebuah proses kerja). Hal ini jelas tidak diinginkan, karena untuk perhitungan waktu baku yang dicari adalah waktu yang diperoleh dari kondisi dan cara kerja yang diselesaikan secara wajar.
Dengan adanya perhitungan penyesuaian, diharapkan waktu kerja yang tidak wajar tersebut dapat dinormalkan kembali. Penyesuaian yang telah ditentukan akan diakali dengan waktu siklusyang telah diperoleh. Adapun kondisi-kondisi yang dapat dijumpai adakag sebagai berikut (Sritomo, 1995,p.196):
·         Apabila operator dinyatakan terlalu cepat yaitu bekerja diatas kewajaran (normal) maka rating factor penyesuaian akan lebih kecil daripada satu (p>100%).
·         Apabila operator dinyatakan terlalu lambat yaitu bekerja di bawah batas kewajaran (normal) maka rating factor penyesuaian akan lebih kecil daripada satu (p<1 atau p<100%).
·         Apabila operator bekerja secara normal atau wajar maka rating factor penyesuaian akan sama dengan satu (p=1 atau p=100%).
 Ada beberapa metode yang dapat digunakan di dalam menentukan besarnya penyesuaian. Salah satu metode yang umum digunakan adalah metode Westinghouse.
 Table 2.1. Penyesuaian Menurut Westinghouse
Faktor
Kelas
Lambang
Penyesuaian





Skill
Super Skill
A1
+ 0,15
A2
+ 0,13
Excellent
B1
+ 0,11
B2
+ 0,08
Good
C1
+ 0,06
C2
+ 0,03
Average
D
0,00
Fair
E1
- 0,05
E2
- 0,10
Poor
F1
- 0,16
F2
- 0,22





Effort
Super Skill
A1
+ 0,13
A2
+ 0,12
Excellent
B1
+ 0,10
B2
+ 0,08
Good
C1
+ 0,05
C2
+ 0,02
Average
D
0,00
Fair
E1
- 0,04
E2
- 0,08
Poor
F1
- 0,12
F2
- - 0,17



Condition

A
+ 0,06

B
+ 0,04

C
+ 0,02

D
0,00

E
- 0,03

F
- 0,07



Consistency

A
+ 0,04

B
+ 0,03

C
+ 0.01

D
0,00

E
- 0,02

F
- 0,04
  
Adapun penjelasan lebih lanjut dari masing-masing kelas diatas untuk kelas yang tepat untuk masing-masing kategori adalah sebagai berikut:
Ketrampilan (Skill)
Superskill
1.      Secara bawaan cocok sekali dengan pekerjaannya.
2.      Bekerja secara sempurna.
3.      Tampak seperti telah terlatih dengan baik.
4.      Gerak-geraknya halus tetapi sangat cepat sehingga sulit untuk diikuti.
5.      Kadang-kadang terkesan tidak berbeda dengan gerakan-gerakan mesin.
6.      Perpindahan dari satu elemen pekerjaan ke elemen lainnya tidak terlampau terlihat karena lancarnya.
7.      Tidak terkesan adanya gerakan-gerakan berpikir dan merencanakan tentang apa yang dikerjakan (sudah sangat otomatis).
8.      Secara umum dapat dikatakan bahwa pekerja yang bersangkutan adalah pekerja yang baik.
Excellent Skill
  1. Percaya pada diri sendiri
  2. Tanpak cocok dengan pekerjaannya
  3. Terlihat telah terlatih dengan baik
  4. Bekerjanya teliti dengan tidak banyak melakukan pengukuran-pengukuran atau pemeriksaan-pemeriksaan.
  5. Gerakan-gerakan kerjanya beserta urutan-urutannya dijalankan tanpa kesalahan
  6. Menggunakan peralatan dengan baik
  7. Bekerjanya cepat tanpa mengorbankan mutu
  8. Bekerjanya cepat tetapi halus
  9. Bekerjanya berirama dan terkoordinasi
Good Skill
  1. Kualitas hasil baik
  2. Bekerjanya tanpa lebih baik daripada kebanyakan pekerjaan pada umumnya
  3. Dapat memberi petunjuk-petunjuk pada pekerja lain yang ketrampilannya lebih rendah
  4. Tanpak jelas sebagai pekerja yang cakap
  5. Tidak memerlukan banyak pengawasan
  6. Tiada keragu-raguan
  7. Bekerjanya “stabil”
  8. Gerakan-gerakannya terkoordinasi dengan baik
  9. Gerakan-gerakannya cepat
Average Skill
  1. Tampak adanya kepercayaan pada diri sendiri
  2. Gerakannya cepat tetapi tidak lambat
  3. Terlihat adanya pekerjaan-pekerjaan yang perencanaan
  4. Tampak sebagai pekerja yang cakap
  5.  Gerakan-gerakannya cukup menunjukkan tiada keragu-raguan
  6. Mengkoordinasi tangan dan pikiran dengan cukup baik.
  7. Tampak cukup terlatih dan karenanya mengetahui seluk beluk pekerjaannya
  8. Bekerjanya cukup teliti
  9. Secara keseluruhan cukup memuaskan
Fair Skill
  1. tampak terlatih tetapi belum cukup baik
  2. Mengenal peralatan dan lingkungan secukupnya
  3. Terlihat adanya perencanaan sebelum melakukan gerakan-gerakan
  4. Tiada mempunyai kepercayaan diri yang cukup
  5. Tampak seperti tidak cocok dengan pekerjaannya tetapi telah ditempatkan di pekerjaan itu sejak lama
  6. Mengetahui apa yang dilakukan dan harus dilakukan tetapi tampak tidak selalu yakin
  7. Sebagian waktu terbuang karena kesalahan-kesalahan sendiri
  8.  Jika tidak bekerja sunguh-sunguh output-nya akan sangat rendah
  9. Biasanya tidak ragu-ragu dalam menjalankan gerak-gerakannya
Poor Skill
  1. Tidak bisa mengkoordinasikan tangan dan pikiran
  2. Gerakan-gerakannya kaku
  3. Kelihatan ketidakyakinannya pada urutan-urutan gerakan
  4. Seperti tidak terlatih untuk pekerjaan yang bersangkutan
  5. Tidak terlihat adanya kecocokan dengan pekerjaannya
  6. Ragu-ragu dalam menjalankan gerakan-gerakan kerja
  7. Sering melakukan kesalahan-kesalahan
  8. Tidak adanya kepercayaan pada diri sendiri
  9. Tidak bisa mengambil inisiatif sendiri
Usaha (Effort)
Excessive Effort
  1. Kecepatan sangat berlebihan
  2. Usahannya tampak sungguh-sungguh tetapi dapat membahayakan kesehatannya
  3. Kecepatan yang ditimbulkannya tidak dapat dipertahankan sepanjang hari kerja
Excellent Effort
  1. Jelas terlihat kecepatan kerjanya yang tinggi
  2. Gerakan-gerakan lebih “ekonomis” daripada operator biasa
  3. Penuh perhatian pada pekerjaannya
  4. Banyak memberi saran-saran
  5. Menerima saran-saran dan petunjuk dengan senang
  6. Percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu
  7. Tidak dapat bertahan lebih dari beberapa hari
  8. Bangga atas kelebihannya
  9. Gerakan-gerakan yang salah sangat terjadi jarang sekali
  10. Bekerjanya sistematis
  11. Karena lancarnya, perpindahan dari suatu elemen ke elemen lain tidak terlihat
Good Effort
  1. Bekerjanya seirama
  2. Saat-saat menganggur sangat sedikit, bahkan kadang-kadang tidak ada
  3. Penuh perhatian pada pekerjaannya
  4. Senang pada pekerjaannya
  5. Kecepatannya baik dan dapat dipertahankan sepanjang hari
  6. Percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu
  7. Menerima saran-saran dan petunjuk dengan senang
  8. Dapat memberikan saran-saran untuk perbaikan kerja
  9. Tempat kerjanya diatur baik dan rapi
  10. Menggunakan alat-alat yang tepat dengan baik
  11. Memelihara dengan baik kondisi peralatan
Avwrage Effort
  1. Tidak sebaik dood, tetapi lebih baik dari poor
  2. Bekerja dengan stabil
  3. Menerima saran-saran tetapi tidak melaksanakannya
  4. Set uo dilaksanakan dengan baik
  5. Melakukan kegiatan-kegiatan perencanaan
Fair Effort
  1. Saran-saran perbaikan diterima dengan pasti
  2. Kadang-kadang perhatian tidak ditujukan pada pekerjaannya
  3. Kurang sungguh-sungguh
  4. Tidak mengeluarkan tenaga dengan secukupnya
  5. Terjadi sedikit penyimpangan dari cara kerja baku
  6. Alat-alat yang dipakainya tidak selalu yang terbaik
  7. Terlihat adanya kecenderungan kurang perhatian pada pekerjaannya
  8. Tidak peduli pada cocok/baik tidaknya peralatan yang dipakai
  9. Mengubah-ubah tata letak tempat kerja yang telah diatur
  10. Set up kerjanya terlihat tidak baik
Kondisi (Condition)
Kondisi yang ideal suatu kondisi tempat kerja yang cocok dengan pekerjaan yang akan dijalankan, dimana kondisi tersebut memungkinkan operator untuk dapat melakukan pekerjaannya dengan performance yang terbaik. Kondisi ideal berlawanan dengan kondisi kerja poor. Kondisi kerja poor secara umum dapat dilakukan sebagai kondisi kerja yang tidak membantu dan mendukung pekerjaan yang akan dilakukan oleh operator, bahkan dengan kondisi semacam itu pekerjaan akan sering terlambat, sehingga waktu penyelesaian suatu pekerjaan dapat lebih lama
Konsistensi (Consistency)
Seorang pekerja dapat dikatakan memiliki konsistensi yang perfect apabila waktu penyelesaian pekerjaan yang sama dalam beberapa waktu cenderung tetap. Konsistensi perfect berlawanan denga poor, dimana waktu penyelesaian pekerjaan memiliki selisih yang jauh dengan nilai rata-ratanya secara acak. Sedangkan konsistensi dikatakan average apabila selisih waktu penyelesaian dengan rata-rata tidak terlalu jauh, walaupun ada satu atau dua waktu penyelesaian yang agak melenceng jauh.

Dari table Westinghouse di atas maka nilai p dapat ditemukan dengan caraa;
                  p = 1 + total nilai performance dari empat factor
 .7. Perhitungan Waktu Normal
Waktu normal untuk suatu elemen operasi menunjukkan bahwa operator yang berkualifikasi baik akan bekerja menghasilkan pekerjaan pada kecepatan/tempo kerja yang normal.
Untuk menghitung waktu normal, digunakan rumus:
               Waktu normal (Wn) = Ws x p
Hasil perkalian antara waktu siklus dan performance rating merupakan waktu normal.

8. Penentuan Allowance rating (p), untuk mencari waktu baku juga dibutuhkan allowance (kelonggaran). Pada umumnya kelonggaran meliputi tiga hal (Sritomo, 2003, p.201):
1.      Istirahat untuk kebutuhan perorangan (personal needs)
Kelonggaran waktu ini ditunjukan untuk kebutuhan yang  bersifat pribadi, seperti untuk makan, minum, dan lain-lain. Nilai kelonggaran ini berkisar antara 0 – 5% untuk wanita.
2.      Kelelahan (fatique)
Kelonggaran ini diberikan karena kelelahan fisik ataupun mental setelah bekerja beberapa waktu. Berikut ini beberapa factor yang mengakibatkan kelelahan ini adalah:
·         Kondisi kerja
·         Sifat dari pekerjaan
·         Kesehatan pekerja, fisik dan mental
3.      Keterlambatan yang tak terhindarkan (unavoidable delay)
Kelonggaran ini diberikan untuk elemen-elemen pekerjaan yang berhenti karena hal yang tidak dapat dihindarkan, seperti interupsi oleh supervisor, analisis, ketersediaan material, gangguan mesin, mengasah peralatan, dan lain-lain.

9. Penentuan Waktu Baku
Waktu baku merupakan waktu yang diperlukan pekerja yang memiliki tingkat kemampuan rata-rata untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan diberikan kelonggaran (allowance) untuk hal-hal yang diperlukan (Wignjosoebroto, Sritomo, 1995).
Untuk menghitung waktu baku digunakan rumus:
Waktu baku (Wb) = Wn x