1) Overreaction Hypothesis dan price reversal
Overreaction hypothesis merupakan reaksi yang berlawanan
dengan kondisi normal. Hipotesis ini meramalkan bahwa
sekuritas yang masuk kategori loser yang biasanya mempunyai
return rendah justru akan mempunyai abnormal return yang
tinggi. Sebaliknya, sekuritas yang biasanya mempunyai return
tinggi yang masuk kategori winner justru akan memperoleh
abnormal return yang rendah (Sukmawati dan Hermawan, 2003).
Ada dua fenomena yang disebabkan oleh overreaction hypothesis
(DeBondt dan Thaler, 1985), yaitu :
1) Perubahan harga sekuritas secara ekstrem akan diikuti dengan
fenomena price reversal.
2) Semakin besar pergerakan harga maka semakin besar pula
penyesuaian yang dilakukan.
Market overreaction, berdampak kepada price reversal yang
seharusnya dapat diprediksi dari kinerja masa lalu. Return dalam
jangka panjang dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa pasar
bereaksi secara berlebihan terhadap informasi, hal ini
bertentangan dengan pasar efisien yang menyatakan bahwa harga
saham menyesuaikan secara cepat dan tepat terhadap informasi
baru. Maka dapat dikatakan bahwa keberadaan reaksi berlebihan
menunjukkan pasar tidak efisien dalam bentuk lemah, setengah
kuat, dan kuat (Dissanaike, 1997) dalam Kusumawardhani
(2001).
Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa overreaction dari
investor dalam menilai suatu informasi menyebabkan saham
dinilai terlalu tinggi atau terlalu rendah, kemudian pada saat
investor menyadari kekeliruannya maka akan terjadi pergerakan
saham yang berlawanan sebagai tindakan koreksi. Kondisi ini
menggambarkan suatu pembalikan arah harga saham. Sehingga
dapat dikatakan bahwa overreaction hypothesis dapat diketahui
melalui adanya pembalikan arah harga saham setelah munculnya
suatu informasi baru.
2) Firm Size dan Price reversal
Beberapa penelitian terdahulu telah menemukan adanya
hubungan antara karakteristik perusahaan dengan abnormal
return. Salah satu karakteristik tersebut adalah ukuran
perusahaan (size). Ukuran perusahaan dalam penelitian ini diukur
dengan menggunakan market value (nilai pasar), seperti yang
dilakukan oleh Zarowin (1990). Alasan digunakan market value
adalah karena market value merupakan perkalian antara harga
saham dengan jumlah saham yang beredar. Sehingga jika ada
suatu informasi mengenai perusahaan tersebut, harga saham akan
berubah dengan cepat naik atau turun. Dengan
mempertimbangkan jumlah saham yang beredar, jika harga
saham berubah satu poin saja, maka akan memiliki efek yang
luar biasa terhadap nilai pasar perusahaan tersebut.
Hubungan antara ukuran perusahaan dengan abnormal return
masing-masing saham dapat dinyatakan sebagai suatu anomali
dalam pasar efisien karena dalam pasar efisien menganggap
bahwa tidak ada seorangpun investor yang dapat memperoleh
abnormal return dengan menggunakan informasi tentang
karakteristik perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Banz
(1981) dalam Tandelilin (2007) menemukan bukti adanya size
effect, dimana return yang lebih tinggi ditemukan pada sahamsaham perusahaan kecil.
3) Bid-ask Spread dan Price reversal
Bid-ask Spread merupakan selisih harga beli tertinggi yang
trader ( pedagang saham ) bersedia membeli suatu saham
dengan harga jual terendah yang trader bersedia menjual saham
tersebut, bid-ask Spread merupakan fungsi dari tiga komponen
biaya yang berasal dari :
1. Pemilikan saham ( inventory holding )
2. Pemrosesan pesanan ( order processing )
3. Asimetri informasi
Harga saham di bursa ditentukan oleh kekuatan pasar, yang
berarti harga saham tergantung dari kekuatan penawaran ( bid ),
dan permintaan ( ask). Perilaku perdagangan sekuritas
berdampak terhadap biaya transaksi ( antara lain bid-ask Spread
) yang secara bersamaan berakibat terhadap likuiditas pasar
sekuritas dan efisiensi yang merupakan informasi dalam
pembentukan harga saham. Dalam melakukan penilaian saham,
terdapat suatu bentuk teknik analisis yang mempelajari berbagai
kekuatan yang berpengaruh di pasar saham dan implikasi yang
ditimbulkan pada harga pasar.
No comments:
Post a Comment