Monday, January 16, 2023

Overreaction Hypothesis (skripsi,tesis,disertasi)

 


Market overreaction terjadi karena dalam pengambilan
keputusan untuk membeli atau menjual saham, investor
mendasarkan pada emosi, pengalaman, dan intuisi mereka. Untuk
mendapat keuntungan dari berita-berita yang diinginkan atau untuk
mengurangi hasil yang bertentangan dari berita-berita yang tidak
diinginkan, para investor harus bereaksi secara cepat terhadap
informasi baru. Secara umum investor cenderung untuk bereaksi
terlalu berlebihan terhadap peristiwa-peristiwa luar biasa dan
informasi baru; dan mereka cenderung untuk mengabaikan informasi
yang lebih lama (Jones,2005) dalam kusumawardhani (2001) .
Investor biasanya akan memasang tarif yang terlalu tinggi terhadap
suatu berita yang dianggap bagus dan memasang tarif yang rendah
untuk berita-berita yang dianggap kurang bagus.
Overreaction hyphothesis menyatakan agar ketika para
investor bereaksi terhadap berita-berita yang tidak diantisipasi yang
akan menguntungkan saham suatu perusahaan, peningkatan harga
akan lebih besar daripada yang seharusnya diberikan informasi
tersebut yang selanjutnya akan menghasilkan penurunan harga
saham. Sebaliknya, reaksi yang berlebih terhadap berita-berita yang
tidak diantisipasi yang diperkirakan berdampak merugikan 
keberadaan ekonomi perusahaan, akan memaksa harga turun terlalu
jauh, diikuti koreksi yang selanjutnya akan menaikkan harga.
Pasar pada umumnya menunjukkan reaksi yang berlebihan
terhadap informasi baru, terutama informasi buruk
(Kusumawardhani, 2001). Hal ini dapat berarti para investor
seharusnya membeli saham-saham yang mempunyai informasi
pesimis dan yang mengalami penurunan harga. Anomali ini disebut
dengan overreaction hypothesis. Overreaction hypothesis diturunkan
dari premis bahwa dalam merespon informasi baru, para pelaku
pasar cenderung untuk memberikan bobot yang berlebihan pada
informasi terakhir. DeBondt dan Thaler (1985) menyatakan bahwa
dalam overreaction hypothesis pada dasarnya pasar telah bereaksi
secara berlebihan terhadap informasi. Dalam hal ini, para pelaku
pasar cenderung menetapkan harga terlalu tinggi sebagai reaksi
terhadap berita yang dinilai “baik” (good news). Sebaliknya mereka
akan memberikan harga terlalu rendah sebagai reaksi terhadap kabar
buruk (bad news). Kemudian fenomena ini berbalik ketika pasar
menyadari telah bereaksi berlebihan. Pembalikan ini ditunjukkan
oleh turunnya (secara drastis) harga saham yang sebelumnya
berpredikat winner dan/atau naiknya harga saham yang sebelumnya
berpredikat loser.

No comments:

Post a Comment