Wednesday, January 4, 2023

 teori Path-Goal yang dikembangkan oleh Robert House. Teori ini mengatakan

suatu perilaku pemimpin dapat diterima oleh bawahannya pada tingkatan
yang ditinjau oleh mereka sebagai sumber kepuasan saat itu atau masa
mendatang. Dasar dari teori ini adalah bahwa merupakan tugas pemimpin
untuk membantu anggotanya dalam mencapai tujuan mereka serta untuk
memberi arah dan dukungan atau keduanya yang dibutuhkan untuk menjamin
tujuan mereka sesuai dengan tujuan kelompok atau organisasi secara
keseluruhan (Robbins, 2002: 173).
Dimana dalam hal ini, sudah menjadi tugas seorang pemimpin untuk
membantu anggotanya dalam mencapai tujuannya yang diselaraskan dengan
kelompok serta memberikan arahan dan motivasi kepada karyawannya.
Pemimpin autentik memiliki nilai inti didalam kepemimpinannya yaitu,
memotivasi mereka melakukan apa yang benar dan adil bagi pengikut, dan
menciptakan jenis hubungan khusus dengan mereka yang mencakup rasa
saling percaya yang tinggi, transparansi (komunikasi terbuka dan jujur),
panduan terhadap tujuan bersama yang bernilai dan penekanan pada
kesejahteraan dan pengembangan pengikut (Yukl, 2013: 478).
Teori utama yang digunakan selanjutnya yaitu, Sosial Exchange Theory
(Teori Pertukaran Sosial). Homas merupakan salah satu tokoh yang
mengembangkan Teori Pertukaran Sosial. Beliau mengambil prinsip-prinsip
dasarnya dari psikologi perilaku dan ekonomi dasar. Dari ekonomi dasar,
Homans mengambil konsep-konsep seperti biaya (cost), imbalan (reward)
dan keuntungan (profit), seseorang akan mengeluarkan biaya sesuai dengan
imbalan yang akan diterima (Johnson, 1981: 65). Dengan kata lain,
mendeskripsikan bahwa perilaku yang diperlihatkan atau dimunculkan itu
karena berdasarkan perhitungannya yakni menguntungkan atau malah
merugikan.
Dalam hal pertukaran antara komitmen karyawan dengan perusahaannya,
yaitu ketika perusahaan tempatnya bekerja juga memiliki komitmen terhadap
mereka. Bagi karyawan, presepsi terhadap dukungan organisasi merupakan
pandangan karyawan terhadap apa yang diterima dari organisasi sedangkan
komitmen organisasi merupakan bentuk dari apa yang dia berikan yaitu
perasaan keterikatan terhadap perusahaan. Komitmen afektif memfokuskan
kepada ikatan antara employee-employer sebagai suatu kelekatan emosional
yang mencerminkan kekuatan pertukaran sosial antara pekerja dan
perusahaannya (Mowday et al., 1979; Will et al., 2001) dalam (Walani,
2010: 4).
Selanjutnya ketika Teori Pertukaran Sosial dikaitkan dengan disiplin kerja
karyawan, diharapkan perusahaan akan memberikan keuntungan yakni timbal
balik atas kerja keras yang diberikan kepadanya sesuai dengan kontribusi
yang diberikan. Apabila hal tersebut terjadi maka akan memotivasi karyawan
yang lain dalam bekerja secara disiplin dan kinerja karyawan pun akan
meningkat, sehingga berdampak positif pada kinerja perusahaan

No comments:

Post a Comment