Williams (dalam Kardum, Knezevic dan Krapic, 2012), menjelaskan
bahwa sejak penelitian yang dilakukan oleh Kobasa pada tahun 1979, beberapa
penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa kepribadian tangguh berhubungan
dengan kesehatan fisik dan mental. Kepribadian tangguh juga membantu
mengurangi respon cardiovascular terhadap stres. Individu yang hardiness
akan lebih sehat secara fisik dan mental karena adanya komitmen, kontrol, dan
tantangan. Individu mempunyai penilaian yang lebih positif terhadap kejadian-
kejadian dalam hidup yang menekan daripada individu yang kurang tangguh.
Individu mampu melakukan tindakan langsung untuk mengatasi kejadian-
kejadian hidup dan mampu mengambil nilai-nilai dari kejadian tersebut untuk
masa yang akan datang.
Selain itu, individu yang tangguh akan menunjukkan penggunaan
strategi coping yang efektif dan aktif, seperti problem focused coping yaitu
mengatasi masalah dengan mempelajari cara-cara, keterampilan-keterampilan
yang baru, dan usaha mencari dukungan sosial. Mereka jarang menggunakan
strategi coping yang berupa penghindaran diri dari masalah. Jika individu
berada dalam situasi yang diduga tidak dapat diubah atau keadaan stressful,
maka beberapa individu menggunakan problem focused coping dengan
memegang teguh potensi kontrol. Lain halnya dengan Emotional focused
coping, coping tersebut biasa digunakan oleh individu yang tidak
berkepribadian tangguh, dimana individu tersebut hanya menerima dan
merasakan akibat dari kejadian-kejadian hidup karena menganggap situasi
tersebut sudah tidak dapat diantisipasi. Peran afektif sangat berpengaruh agar
dapat menerima perubahan dengan lapang dada.
Menurut Maddi dan Kobasa (dalam Soderstrom, Dolbier, Leiferman
dan Steinhardt, 2000), pada umumnya individu menghadapi kejadian yang
penuh stres akan menggunakan 2 macam cara, yaitu transformational coping
dan regressive coping. Transformational coping merupakan mekanisme coping
yang efektif untuk menghadapi stres. Individu mempunyai sikap yang optimis
dan secara aktif berinteraksi dengan kejadian yang penuh stres, sehingga
kejadian tersebut menjadi berkurang kadar stresnya. Sikap optimis tersebut
akan menurunkan ketegangan dengan cara menetralkan kejadian-kejadian
tersebut. Dengan tindakan yang tegas, mereka benar-benar mengubah situasi di
sekeliling, sehingga lamanya kejadian yang menimbulkan stres tersebut
menjadi pendek. Dengan cara ini intensitas dan lamanya ketegangan dikurangi
dengan cara mengubah stresor ke dalam bentuk-bentuk yang tidak lagi
mengandung stres. Transformational coping ini lebih efektif daripada
regressive coping.
Regressive coping merupakan cara-cara kurang efektif karena individu
merasa pesimis dan melakukan tindakan-tindakan pengelakan untuk
menghindari kontak dengan stres. Pada individu yang menggunakan cara-cara
coping ini tidak ada usaha untuk mengubah dan mengendalikan kejadian-
kejadian yang dapat menimbulkan stres. Mereka lebih bersikap pasif dan
merasa tidak berdaya karena perasaan aman mereka terancam. Regressive
coping tidak dapat mengurangi intensitas dan tidak dapat membatasi jangka
waktu suatu kejadian menimbulkan stres, sehingga dapat dikatakan bahwa
regressive coping bukanlah cara yang efektif untuk melindungi diri dari
ketegangan.
Lazarus dan Folkman (dalam Golby dan Sheard, 2004), menyatakan
bahwa kepribadian tangguh sebagai penahan stres diasumsikan sebagai hasil
dari proses kognitif yang adaptif. Individu dengan kepribadian tangguh
merespon stresor dengan kognisi yang positif atau dengan penilaian yang
didasarkan pada tingkat ancaman yang menyerang dan kemampuan mereka
untuk melakukan coping secara efektif. Di lain pihak, individu yang tidak
kepribadian tangguh diasumsikan merespon kejadian yang sama dengan
kognisi yang kurang positif dan dengan pikiran yang lebih negatif.
Dikemukakan juga oleh Silver dan Wortman (dalam Allred dan Smit,
1989) bahwa individu yang menilai situasi negatif yang dihadapinya sebagai
suatu hal yang positif akan mempunyai tingkat stres yang lebih rendah.
Penelitian yang dilakukan di Birmingham melibatkan 373 mahasiswa terdiri
dari 163 laki - laki dan 210 wanita yang mengikuti kursus di Universitas
Alabama Birmingham. Partisipan diminta untuk mengisi kuesioner kurang dari
1 jam. Peneliti menggunakan seriousness of illness rating scale, life
experiences survey, dan fitness questionnare.
Berdasarkan analisis persamaan struktural dinyatakan bahwa
kepribadian tangguh dapat mempengaruhi kesehatan secara tidak langsung.
Tidak terdapat efek langsung pada kesehatan terhadap partisipasi latihan
fitness. Tipe kognisi dari kepribadian tangguh seperti yang dikemukakan di
atas memang ada. Individu dengan kepribadian tangguh lebih cenderung
menerima kejadian-kejadian dalam hidupnya sebagai sesuatu yang positif dan
mereka mampu mengontrolnya dibandingkan dengan individu yang tidak
kepribadian tangguh, walaupun keduanya mengalami kejadian yang sama-sama
mengancam (Rhodewalt dan Agustdotter dalam Auliya dan Darmawanti,
2014).
No comments:
Post a Comment