Perasaan stres kerja yang dialami oleh individu pastinya akan mengeluarkan
tanda atau gejala-gejala yang menyebabkan individu sedang mengalami stres kerja.
Menurut Beehr & Newman (dalam Waluyo, 2009 : 163-164) bahwa hasil kajian
ulang dari beberapa kasus stres kerja disimpulkan adanya tiga gejala stres pada
individu, yaitu:
a. Gejala psikologis
Gejala-gejala psikologis yang ditemui pada hasil penelitian mengenai stres
kerja meliputi:
1) Kecemasan, ketegangan, kebingungan, dan mudah tersinggung
2) Perasaan frustrasi, rasa marah, dan dendam (kebencian)
3) Sensitif dan hyperreactivity
4) Memendam perasaan, penarikan diri, dan depresi
5) Komunkasi yang tidak efektif
6) Perasaan terkucil dan terasing
7) Kebosanan dan ketidakpuasan bekerja
8) Kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual, dan kehilangan
konsentrasi
9) Kehilangan spontanitas dan kreativitas
10) Menurunnya rasa kepercayaan diri.
b. Gejala fisiologis
Gejala-gejala fisiologis yang utama dari stres kerja:
1) Meningkatnya denyut jantung, tekanan darah, dan kecenderungan
mengalami penyakit kardiovaskular
2) Meningkatnya sekresi dan hormon stres (contoh: adrenalin dan non-
adrenalin)
3) Gangguan gastrointestinal seperti penyakit lambung
4) Meningkatnya frekuensi dari luka fisik dan kecelakaan
5) Kelelahan secara fisik dan kemungkinan mengalami sindrom kelelahan
yang kronis
6) Gangguan pernafasan, termasuk gangguan dari kondisi yang ada
7) Gangguan pada kulit
8) Sakit kepala, sakit pada punggung bagian bawah, ketegangan otot
9) Gangguan tidur
10) Rusaknya fungsi imun tubuh, termasuk risiko tinggi kemungkinan terkena
kanker.
c. Gejala perilaku
Gejala-gejala perilaku yang utama dari stres kerja adalah:
1) Menunda, menghindari pekerjaan, dan absen dari pekerjaan
2) Menurunnya prestasi dan produktivitas
3) Meningkatnya penggunaan minuman keras dan obat-obatan
4) Perilaku sabotase dalam pekerjaan
5) Perilaku makan yang tidak normal (kekurangan) sebagai bentuk penarikan
diri dan kehilangan berat badan secara tiba-tiba, kemungkinan
berkombinasi dengan tanda-tanda depresi
6) Perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan) sebagai pelampiasan,
mengarah ke obesitas
7) Meningkatnya kecenderungan berperilaku beresiko tinggi, seperti
menyetir dengan tidak hati-hati dan berjudi
8) Meningkatnya agresivitas, vandalisme, dan kriminalisasi
9) Menurunnya kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman
10) Kecenderungan untuk melakukan bunuh diri.
Pernyataan yang sama juga diungkapkan oleh Braham (dalam Nusran, 2019
: 74-75) yaitu tentang gejala stres dapat berupa tanda-tanda berikut:
a. Fisik
Fisik yaitu sulit tidur atau tidur tidak teratur, sakit kepala, sulit buang air
besar, adanya gangguan pencernaan, radang usus, kulit gatal-gatal, punggung
terasa sakit, urat-urat pada bahu dan leher terasa tegang, keringat berlebihan,
berubah selera makan, tekanan darah tinggi atau serangan jantung, kehilangan
energi.
b. Emosional
Emosional meliputi marah-marah, mudah tersinggung, dan terlalu sensitif,
gelisah dan cemas, suasana hati mudah berubah-ubah, sedih, mudah
menangis dan depresi, gugup, agresif terhadap orang lain dan mudah
bermusuhan serta mudah menyerang, dan kelesuan mental, intelektual yaitu
mudah lupa, kacau pikirannya, daya ingat menurun, sulit untuk
berkonsentrasi, suka melamun berlebihan, pikiran hanya dipenuhi oleh satu
pikiran saja.
c. Interpersonal
Interpersonal yaitu acuh dan mendiamkan orang lain, kepercayaan pada orang
lain menurun, mudah mengingkari janji pada orang lain, senang mencari
kesalahan orang lain atau menyerang dengan kata-kata, menutup diri secara
berlebihan, mudah menyalahkan orang lain.
Stres kerja yang dirasakan karyawan dalam pekerjaan pada akhirnya
memunculkan gejala-gejala, yaitu gejala dari stres kerja itu sendiri karena secara
umum, stres kerja lebih banyak merugikan karyawan maupun perusahaan (Waluyo,
2009 : 163). Menurut Robbins (dalam Suprihatin, 2015 : 105) tentang gejala stres
kerja yaitu:
a. Penyakit fisik yang diinduksi dari stres seperti jantung koroner, tukak
lambung, gangguan menstruasi, alergi, serangan asma, diabetes dan kanker.
b. Perubahan perilaku berisiko seperti kecelakaan kerja akibat perasaan stres
kerja, sikap ceroboh, bekerja gilir, penggunaan zat adiktif.
c. Absentateisme yang sering terjadi pada individu yang kurang mampu
beradaptasi dengan pekerjaannya akibat stres kerja, ketidak hadiran karena
sakit flu, pilek, sakit kepala yang menimbulkan pertanyaan.
d. Lesu kerja jika individu kekurangan semangat dalam upaya melakukan suatu
pekerjaan.
No comments:
Post a Comment