Dalam
mengukur kapasitas produksi dapat dilakukan menggunakan beberapa metode seperti
Metode Break even point. Menurut Heizer dan Render (2015) mengemukakan bahwa
Analisis titik impas (BEP) merupakan sebuah perangkat yang krusial untuk
menentukan kapasitas tempat fasilitas harus mencapai profitabilitas.
Tujuan analisis titik impas atau break
even point untuk menemukan suatu titik, dalam uang dan unit, yang mana biaya
setara dengan pendapatan.
Menurut
Zulian Yamit (2003: 69) Break event point atau BEP dapat diartikan sebagai laba
sama dengan nol, atau marginal income
atau countribution margin sama dengan
biaya tetap ( MI = FC ), atau biaya tetap dibagi dengan marginal income per unit (FC/MI), atau biaya tetap dibagi marginal income ratio (FC/MIR), atau
biaya tetap dibagi satu min Variable cost
ratio (FC/1 – VCR).
Menurut
Riyanto (1995: 359), Analisis Break Even point merupakan suatu teknik analisis
untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan
volume kegiatan. Oleh karena analisis tersebut mempelajari hubungan antara
biaya keuntungan volume kegiatan, maka analisis tersebut sering pula disebut
“Cost Profit Volume analysis (C.P.V analysis). Dalam perencanaan keuntungan,
analisis break even point merupakan “Profit Planning Approach” yang mendasarkan
pada hubungan antara biaya dan penghasilan penjualan.
Sedangkan
menurut Alwi, (1994) mengemukakan bahwa Break even point, dapat di artikan
sebagai suatu titik atau keadaan dimana perusahaan dalam operasinya tidak
memperoleh keuntungan dan tidak menderita rugi. Dengan kata lain, pada keadaan
itu keuntungan atau kerugian sama dengan nol.
No comments:
Post a Comment