1.
Pompa
Pompa
adalah suatu alat untuk menaikkan tekanan atau energi potensial air. Dengan
pompa maka tinggi tekanan yang telah berkurang dapat dinaikkan kembali. Jika
sebelum pompa dipasang sudah ada aliran, maka tugas pompa adalah menambah debit
yang berarti juga mempercepat aliran. Dengan demikian pompa dapat juga
digunakan sebagai alat untuk menambah debit dan tekanan. Jika tinggi tekanan
yang dibutuhkan sistem semakin tinggi, kemampuan pompa dalam mengalirkan air
turun. Sebaiknya jika tinggi tekanan dari pompa dikurangi, maka kemampuan pompa
untuk mengalirkan air naik. Namun pompa biasanya bekerja pada elevasi yang
relatif tetap (Triatmadja,2000).
Pompa
mencapai efisiensi yang tinggi pada saat yang tepat, yaitu pada ketinggian
tekanan tertentu, disebut sebagai Hd (design
head). Pada saat itu pompa efisien tetapi debit yang keluar dari pompa
bukan yang tinggi
Pompa dapat diklasifikasikan antara lain :
a.
Pompa Reciprocating
Dari kurva karakteristik pompa reciprocating dapat dilihat bahwa head yang dihasilkan pompa tersebut tidak dipengaruhi oleh
kapasitas. Dengan kapasitas yang tetap dapat dihasilkan head yang berbeda,
b.
Pompa Rotary
Pompa ini biasanya digunakan untuk memompakan zat cair
dengan viskositas tinggi seperti minyak, larutan yang bersifat bubur dan
lain-lain.
c.
Pompa sentrifugal banyak digunakan untuk memompa air
bersih maupun air buangan. Beberapa tipe
pompa sentrifugal yang sering digunakan adalah pompa submersible air
bersih sumur dalam, pompa turbin sumur dalam, dan pompa Non-Clongging.
2.
Tangki
Tangki
tidak boleh direncanakan asal besar saja, perencanaan yang demikian membuat
tangki tidak efisien. Tangki harus direncanakan sedemikian rupa sehingga air
tidak turun terus menjadi habis terkuras pada jam puncak, tetapi tangki harus
direncana
dapat menampung air sebesar kekurangan air yang
dibutuhkan antara suplai dan kebutuhan saat jam puncak.Jadi pada jam dengan
kebutuhan besar(kebutuhan lebih besar daripada suplai), air dalam tangki
walaupun berkurang tetapi tidak boleh kurang dari elevasi dari elevasi minimum
dalam tangki, selanjutnya pada jam-jam berikutnya setelah kebutuhan berkurang
debit suplai air lebih besar dari kebutuhan air sehingga tangki terisi kembali.
Walski dalam Radianta Triatmadja (2000)
memberikan konsep dasar keberadaan tangki dalam distribusi air bersih adalah
sebagai berikut :
1)
Penyamaan
Pengoperasian bangunan pengolah air pada nilai
yang relatif tetap, dengan mata air dan pompa yang secara umum baik pada sebuah
nilai tetap. Porsi pelayanan sebuah tangki diukur untuk memenuhi kebutuhan
harian puncak. Proses pengisian dan pengosongan tangki tampungan adalah sangat
mudah secara operasional dan secara umum murah dibanding metode lain,
2)
Mempertahankan
tekanan
Pada sebuah ketinggian, elevasi dari air yang
disimpan dalam tangki menentukan tekanan dalam semua pipa yang secara langsung
berhubungan dengan tangki tersebut (tanpa melalui katup pelepas tekan atau
pompa),
3)
Penyimpanan
untuk pemadaman kebakaran
Untuk sistem yang lebih kecil, tangki mempunyai
keandalan secara operasinoal dan secara ekonomi, bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan besar dengan waktu pendek pada sebuah sistem penyediaan air selama
pemadam kebakaran,
4)
Penyimpanan
darurat
Tangki tampungan juga dapat menyediakan air dalam
sistem jika terjadi keadaan darurat seperti : putusnya saluran induk, masalah
pada bangunan pengolah, dan kegagalan sistem. Disamping secara sederhana
menyediakan volume tampungan, tangki dapat mem-backup tekanan udara dalam sistem jika terjadi kemacetan pompa,
mencegah terjadinya kontaminasi akibat putusnya pipa utama,
5)
Pemakaian
energi.
Air yang ditampung dalam tangki pada sebuah
elevasi menyimpan energi yang dapat digunakan sehingga operasional pompa pada
waktu puncak lebih efisien dan efektif,
6)
Kualitas
air
Tangki dapat mempengaruhi kualitas air secara umum
melalui proses kimia, fisik dan biologi yang terjadi karena air disimpan
terlalu dalam tangki, atau melalui kontaminasi eksternal kedalam tangki (burung, tikus, serangga). Hal ini
seharusnya dihilangkan dengan design
dan pemeliharaan yang tepat,
7)
Pengatur
hidrosis sementara
Mereduksi efek”waterhammer”
akibat perubahan kecepatan secara ekstrim dalam sistem,
8)
Estetika
Pertimbangan design
dan kedudukan tangki juga dapat mengenai segi estetis tanpa mengabaikan tujuan, efisiensi dari operasi
sistem jaringan.
No comments:
Post a Comment