Saturday, April 25, 2020

Faktor Pendorong terjadinya fraud (skripsi dan tesis)


Fraud dapat terjadi karena ada beberapa faktor pendorong yaitu motif individu dan motif perusahaan. Motif individu yaitu motif yang mendorong seseorang malakukan fraud yang berasal dari diri pelaku dan orang-orang disekitar pelaku. Teori awal yang mendukung motif individu untuk melakukan frauyaitu fraud triangle yang menyebutkan terdapat tiga risk factor yang mendorong seseorang untuk melakukan fraud yaitu pressure (dorongan atau tekanan), opportunity (peluang atau kesempatan), dan rationalization (rasionalisasi atau pembenaran) (Cressey, 1953). Fraud triangle berkembang menjadi fraud diamond  yang menambahkan satu faktor pendorong terjadinya fraud yaitu capability (adanya kemampuan) untuk melakukan fraud (Wolfe dan Hermanson, 2004). [H2] Teori terbaru mengenai motif individu untuk melakukan fraud yaitu fraud pentagon yang merupakan pengembangan dari fraud triangle dan fraud diamond terdiri dari opportunity, rationalization, pressurecapability dan arrogance (Crowe, 2011).  Teori fraud diamond merubah risk factor fraud berupa capability menjadi competence (kemampuan) yang memiliki kesamaan arti dan menambah risk factor berupa arrogance (sifat arogan). 
Berikut ini penjelasan untuk masing-masing faktor pada fraud trianglefraud diamond, dan fraud pentagon:
a.      Pressure
Tekanan adalah dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan fraud. Faktor-faktor yang mendorong seseorang melakukan fraud antara lain faktor keuangan dan atau non keuangan yang dihadapi oleh pegawai/manajemen yang sulit dipecahkan dengan cara yang legal atau etis (Moeller, 2009), ketidakpuasan kompensasi (Sulistiyowati, 2007), persepsi keadilan organisatoris (Rae dan Subramaniam, 2008; COSO, 2004; Holtfreter, 2004), penghasilan kurang, kebutuhan hidup yang tak tercukupi (Wahyudi dan Sopanah, 2010).
b.      Opportunity
Peluang yang memungkinkan fraud terjadi. Biasanya terjadi karena intenal kontrol organisasi yang lemah, kurangnya pengawasan, dan penyalahgunaan wewenang. Beberapa penelitian terkait dengan opportunity yaitu pentingnya pengendalian internal (Wilopo,2006; Setiawan dan Helmayunita, 2017), dan kepatuhan terhadap pengendalian internal yang rendah (Thoyibatun,2012). Semakin baik pengendalian internal birokrasi pemerintahan, semakin rendah kecurangan yang terjadi (Wilopo, 2006)Fraud dapat terjadi karena adanya opportunity yang disebabkan kelemahan prosedur otorisasi, tidak ada pemisahan wewenang yang jelas, tidak ada penilaian independen mengenai kinerja, dokumen dan pencatatan kurang memadai (The Institute Internal Auditors, 2009).
c.       Rationalization
Rationalization adalah pembenaran kepada dirinya sendiri atau alasan yang berkesan untuk membenarkan tindakan fraud dan beranggapan sebagai sesuatu hal yang wajar untuk dilakukan (Shelton, 2014). Pelaku fraud biasanya mencari alasan pembenaran bahwa apa yang dilakukannya merupakan haknya, bukan kecurangan bahkan merasa apa yang dilakukannya sah-sah saja dan sesuai dengan kode etik.
d.      Competence atau capability
Keahlian karyawan untuk mengabaikan kontrol internal, mengembangkan strategi penyembunyian, dan mengamati kondisi sosial untuk memeneuhi kepentingan pribadinya (Crowe,2011).
e.       Arrogance
Merupakan sifat superioritas atas hak yang dimiliki dan merasa bahwa pengendalian internal dan kebijakan perusahaan tidak berlaku bagi dirinya (Crowe, 2011).


No comments:

Post a Comment