Dalam upaya memaksimalkan kinerja perusahaan dana memecahkan
masalah dengan tepat, seorang pemimpin yang efektif itu harus tanggap
dalam perubahan dan mampu menganalisis kekuatan dan kelemahan
sumber daya manusianya. Pemimpin adalah seorang yang memiliki
kemampuan memimpin artinya memiliki kemampuan untuk
mempengaruhi perilaku orang lain atau kelompok (Martoyo, 1987: 165).
Seseorang pemimpin pastinya harus mempunyai jiwa kepemimpinan.
Agar memiliki kulaitas yang unggul serta dapat memengaruhi orangorang sekitar dalam hal perilaku dan psikis seseorang. Kepemimpinan
dalam arti luas adalah proses untuk memengaruhi orang lain untuk
memahami dan setuju dengan apa yang perlu dilakukan dan bagaimana
tugas itu dilakukan secara efektif, serta proses untuk memfasilitasi upaya
individu dan kolektif untuk mencapai tujuan bersama (Yukl, 2010).
Dalam Islam kepemimpinan identik dengan istilah Khalifah yang
berarti wakil. Pemakaian kata khalifah setelah Rasulullah SAW
menyetuh juga maksud yang terkandung di dalam perkataan “amir”
(yang jamaknya umara) atau penguasa. Oleh karena itu, kedua istilah ini
dalam bahasa Indonesia disebut pemimpin formal. Kepemimpinan secara luas meliputi proses memengaruhi dalam
menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk
mencapai tujuan, memengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan
budayanya. Selain itu juga memengaruhi interpretasi mengenai peristiwaperistiwa para pengikutnya, pengorganisasian dan aktivitas-aktivitas
untuk mencapai sasaran, memelihara hubungan kerja sama, dan kerja
kelompok, perolehandukungan kerja sama dari orang-orang diluar
kelompok atau organisasi (Rivai dan Mulyadi 2012: 2).
Bass dan Steidlmeier (1999) memberi ciri kepada pemimpin yang
menjalankan “Kepemimpinan Transformasional yang Autentik” sebagai
berikut :
leaders are authentically transformed when they increase awareness
of what is right, good, important and beautiful, when they help to
alleviate follower’s needs for achievement and self-actualization and
moral authority, and when they challenge followers to move beyond
their self-interests for the good of their group, organization, or
society.
(Pemimpin autentik berubah ketika mereka meningkatkan kesadaran
tentang apa yang benar, baik, penting dan indah, ketika mereka
membantu untuk meringankan kebutuhan pengikut untuk prestasi dan
aktualisasi diri dan otoritas moral, dan ketika mereka menantang
pengikut untuk bergerak di luar kepentingan diri mereka untuk baik
dari kelompok mereka, organisasi, atau masyarakat).
Gaya kepemimpinan autentik sebagai satu proses menggabungkan
kedudukan pemimpin positif dan komitmen yang di berikan dalam
konteks membangun sebuah organisasi. Kajian mengenai topik ini
kebanyakan menghubungkan domain-domain kepemimpinan autentik
dengan pendekatan psikologi (Northouse, 2013: 263).
George (2003: 18) menjelaskan bahwa authentic leadership adalah
tipe kepemimpinan yang mengedepankan kesadaran diri di atas dimensi
lainnya, yang dalam praktiknya harus memperhatikan lima dimensi
authentic leader, yaitu: understanding their purpose, practicing solid
values, loading with heart, establishing connected relationships, dan
demonstrating self-discipline. Dari pengertian diatas bahwa
kepemimpinan autentik itu lebih mengutamakan perubahan yang terdapat
dari dalam diri pemimpin itu sendiri. Seorang pemimpin yang memiliki
kepemimpinan autentik dalam dirinya yakni mereka memahami
tujuannya dalam bekerja, menerapkan nilai-nilai yang solid, bekerja
dengan sepenuh hati, membangun hubungan baik dengan karyawannya,
dan yang terkahir yaitu menumbuhkan rasa disiplin diri dalam dirinya.
Authentic Leadership, gaya kepemimpinan ini memberikan tekanan
pada autensitas, keaslian pribadi pemimpin. Autensitas ini terkait dengan
ragam sikap, pemikiran, dan pemahaman yang seimbang antara dirisendiri dan orang lain (Sinubyo, 2016: 21).
Yukl (2013: 478) konsep diri dan identitas diri pemimpin autentik
adalah kuat, jelas, stabil, dan konsisten. Pemimpin ini memiliki
pemahaman diri tentang nilai, keyakinan, emosi, identitas diri, dan
kemampuan. Dengan kata lain, mereka tahu siapa diri mereka dan apa
yang mereka percayai. Mereka juga memiliki tingkat penerimaan diri
yang tinggi, yang serupa dengan kematangan emosinya. Pemimpin
autentik memiliki nilai inti positif, seperti kejujuran, altruism, kebaikan
hati, keadilan, akuntabilitas, dan optimisme. Mereka tidak mencari posisi
kepemimpinan untuk memenuhi kebutuhan akan penghormatan, status,
dan kekuasaan, tetapi lebih untuk mengekspresikan dan mewujudkan
nilai dan keyakinan mereka. Karena pemimpin autentik dimotivasi oleh
keinginan untuk perbaikan diri dan verifikasi diri, mereka kurang
defensif dan lebih terbuka untuk belajar dari umpan balik dan kesalahan.
Wednesday, January 4, 2023
Kepemimpinan Autentik (skripsi, tesis, disertasi)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment