Konflik kerja yang terjadi di organisasi dapat membuat suasana kerja
menjadi tidak harmonis dan membuat pegawai merasa tertekan saat bekerja.
Konflik dapat berdampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah
mengubah pola pikir individu dalam memandang setiap permasalahan dan
berusaha menjadi lebih profesional, hal ini berdampak pada meningkatnya
kemampuan individu dalam mengelola emosinya sehingga konflik dijadikan
pembelajaran bukan sebagai permasalahan. Sedangkan dampak negatifnya adalah
ketegangan yang menyebabkan ketidakfokusan sehingga pekerjaan tidak dapat
terselesaikan dengan maksimal, selain itu timbulnya permusuhan dan
ketidakcocokan sudut pandang antar pegawai. Oleh karena itu pimpinan
organisasi harus segera mengetahui konflik yang ada di organisasinya agar
masalah-masalah tidak berkepanjangan dan melebar luas.
Menurut Enny (2019:145) dampak dari konflik kerja terbagi dua yaitu
dampak positif dan dampak negatif. Dampak positifnya adalah menimbulkan
kemampuan mengoreksi diri sendiri dan meningkatkan prestasi sedangkan
dampak negatifnya adalah bersifat subjektif dan emosional, saling menjatuhkan,
hingga frustasi yang akan menimbulkan penurunan produktivitas.
Menurut Ivancevich, et al (dalam Sunyoto dan Burhanudin, 2015:129)
dampak konflik kerja terdiri dari beberapa bagian antara lain :
- Distorted Perceptions. Dalam situasi konflik masing-masing kelompok
menganggap dirinya lebih penting dibanding kelompok lainnya. - Negative stereotyping, terjadi akibat terdistorsinya persepsi. Masing-masing
anggota kelompok yang berkonflik merasa semakin memiliki sedikit
perbedaan dalam kelompoknya sendiri dibandingkan dengan kelompok lain. - Decreased communication. Konflik ini terjadi ketika proses pengambilan
keputusan terganggu, pelayanan kepada pelanggan terganggu, sehingga dapat
menurunkan kinerja organisasi secara keseluruhan.
No comments:
Post a Comment