Langkah pertama dalam proses manajemen risiko adalah mengidentifikasi area
bahaya atau potensi bahaya di tempat kerja. Cara sederhana untuk mulai
mengidentifikasi bahaya adalah dengan membagi area kerja Anda ke dalam
kelompok-kelompok seperti (Rudi Suardi, 2007:74).
- Kegiatan (pekerjaan las, pemrosesan data, dll.)
- Lokasi (kantor, gudang, lapangan)
- Aturan (juru tulis atau tukang listrik)
- Fungsi atau proses produksi (kontrol, pembakaran, pembersihan, penerimaan,
penyelesaian)
Bahaya diidentifikasi dengan melihat: - Situasi dan peristiwa yang menimbulkan potensi bahaya.
- Jenis kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang mungkin terjadi.
Identifikasi bahaya merupakan salah satu langkah dalam manajemen risiko K3
untuk mendeteksi semua potensi bahaya yang ada pada suatu aktivitas/proses kerja
tertentu. Identifikasi bahaya menawarkan berbagai manfaat, termasuk: - Mengurangi resiko kecelakaan karena dengan mengidentifikasi faktor-faktor
penyebab kecelakaan dapat diketahui - Memberikan pemahaman kepada semua pihak tentang potensi bahaya yang ada
pada setiap kegiatan usaha, untuk meningkatkan pengetahuan karyawan guna
meningkatkan kewaspadaan dan kesadaran akan keselamatan saat bekerja - Sebagai dasar dan masukan untuk menentukan strategi pencegahan dan
penanganan yang tepat, selain itu perusahaan dapat memprioritaskan tindakan
pengendalian berdasarkan potensi bahaya yang paling tinggi. - Memberikan informasi terdokumentasi tentang sumber bahaya dalam
perusahaan
Metode identifikasi bahaya adalah sebagai berikut: - Mengidentifikasi transaksi yang teridentifikasi
- Urutan langkah kerja dari tahap awal hingga tahap akhir pekerjaan
- Selanjutnya, tentukan jenis bahaya apa yang ada di setiap langkah ini, dalam
hal bahaya fisik, kimia, mekanik, biologis, ergonomis, psikologis, listrik, dan
kebakaran. - Setelah potensi bahaya diketahui, tentukan dampak/kerugian yang mungkin
timbul dari potensi bahaya tersebut. Metode What-If dapat digunakan. - Kemudian masukkan ke dalam tabel, semua informasi yang diperoleh.
Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi bahaya adalah
dengan melakukan Job Safety Analysis/Analisis Bahaya Pekerjaan. Selain JSA,
beberapa teknik dapat digunakan seperti (Fault Tree Analysis) FTA, (Event Tree
Analysis) ETA, (Error and Effect Mode Analysis) FMEA, (Risk and operability)
Hazop, (Preliminary Hazards Analysis) PHA, dll.
Tahap pertama aktivitas manajemen risiko saat kita mengidentifikasi risiko
yang ada dalam suatu aktivitas atau proses. Identifikasi risiko merupakan upaya
untuk mendeteksi, mengenali dan memperkirakan adanya risiko pada sistem
operasi, perangkat, proses, dan unit kerja. Identifikasi risiko merupakan langkah
penting dalam proses pengendalian risiko. Sumber bahaya di tempat kerja dapat
berasal dari: - Bahan/material
- Alat/mesin
- Proses
- Lingkungan kerja
- Metode kerja
- Cara kerja
- Produk
Subjek yang mungkin terpapar/terkena bahaya: - Manusia
- Produk
- Peralatan/fasilitas
- Lingkungan
- Kemajuan
- Ketenaran
Menggunakan identifikasi risiko: - Waspada potensi bahaya
- Ketahui lokasi berbahaya
- Indikator Bahaya untuk Pengontrol
- Mengekspos bahaya tidak akan berpengaruh
- Sebagai dokumen untuk analisis lebih lanjut
Pengertian risiko proyek meliputi aspek teknis dan non teknis, misalnya aspek
teknis yang berkaitan dengan item pekerjaan, sedangkan aspek non teknis, misalnya
hubungan antara proyek dengan proyek dan masyarakat sekitar, proyek dengan
pemerintah daerah, atasan dan bawahan dan lain-lain. Contoh identifikasi risiko
proyek di bidang rekayasa pondasi tiang pancang untuk supervisory manager.
Risiko kemungkinan kegagalan pondasi (pencegahan dan perawatan). - Pekerja jatuh dari derek (kencangkan sabuk pengaman saat memanjat dan
bekerja di ketinggian) - Benda jatuh dari atas (memakai helm)
- Crane Collapse (menggunakan bantalan sebagai pondasi crane)
- Palu diesel memantul dari timah (perhatikan ketinggian jatuhan palu yang
terhenti, jika cukup, segera hentikan) - Sling wire putus (periksa sling sebelum mulai bekerja)
- Tumpukan patah saat mengangkat (lakukan pengangkatan titik dan ambil
momen menahan)
Contoh pekerjaan cor beton untuk pengawas struktural: - Risiko kecelakaan
a. Orang jatuh dari ketinggian
b. Benda jatuh dari atas
c. Kontak dengan mortal semen - Mencegah
a. Gunakan sabuk pengaman
b. Pemasangan sistem penerangan
c. Pemasangan jalur pengaman
d. Memakai helm
e. Pemasangan jaring pengaman
f. Pemasangan jalur pengaman
g. Pasang tanda "HATI-HATI KEJATUHAN BENDA DARI ATAS”.
h. Kenakan sarung tangan
i. Pakai baju lengan Panjang
j. Pakai celana panjang
No comments:
Post a Comment