Saturday, September 7, 2024

Identifikasi Risiko

 


Langkah pertama dalam proses manajemen risiko adalah mengidentifikasi area
bahaya atau potensi bahaya di tempat kerja. Cara sederhana untuk mulai
mengidentifikasi bahaya adalah dengan membagi area kerja Anda ke dalam
kelompok-kelompok seperti (Rudi Suardi, 2007:74).

  1. Kegiatan (pekerjaan las, pemrosesan data, dll.)
  2. Lokasi (kantor, gudang, lapangan)
  3. Aturan (juru tulis atau tukang listrik)
  4. Fungsi atau proses produksi (kontrol, pembakaran, pembersihan, penerimaan,
    penyelesaian)
    Bahaya diidentifikasi dengan melihat:
  5. Situasi dan peristiwa yang menimbulkan potensi bahaya.
  6. Jenis kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang mungkin terjadi.
    Identifikasi bahaya merupakan salah satu langkah dalam manajemen risiko K3
    untuk mendeteksi semua potensi bahaya yang ada pada suatu aktivitas/proses kerja
    tertentu. Identifikasi bahaya menawarkan berbagai manfaat, termasuk:
  7. Mengurangi resiko kecelakaan karena dengan mengidentifikasi faktor-faktor
    penyebab kecelakaan dapat diketahui
  8. Memberikan pemahaman kepada semua pihak tentang potensi bahaya yang ada
    pada setiap kegiatan usaha, untuk meningkatkan pengetahuan karyawan guna
    meningkatkan kewaspadaan dan kesadaran akan keselamatan saat bekerja
  9. Sebagai dasar dan masukan untuk menentukan strategi pencegahan dan
    penanganan yang tepat, selain itu perusahaan dapat memprioritaskan tindakan
    pengendalian berdasarkan potensi bahaya yang paling tinggi.
  10. Memberikan informasi terdokumentasi tentang sumber bahaya dalam
    perusahaan
    Metode identifikasi bahaya adalah sebagai berikut:
  11. Mengidentifikasi transaksi yang teridentifikasi
  12. Urutan langkah kerja dari tahap awal hingga tahap akhir pekerjaan
  13. Selanjutnya, tentukan jenis bahaya apa yang ada di setiap langkah ini, dalam
    hal bahaya fisik, kimia, mekanik, biologis, ergonomis, psikologis, listrik, dan
    kebakaran.
  14. Setelah potensi bahaya diketahui, tentukan dampak/kerugian yang mungkin
    timbul dari potensi bahaya tersebut. Metode What-If dapat digunakan.
  15. Kemudian masukkan ke dalam tabel, semua informasi yang diperoleh.
    Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi bahaya adalah
    dengan melakukan Job Safety Analysis/Analisis Bahaya Pekerjaan. Selain JSA,
    beberapa teknik dapat digunakan seperti (Fault Tree Analysis) FTA, (Event Tree
    Analysis) ETA, (Error and Effect Mode Analysis) FMEA, (Risk and operability)
    Hazop, (Preliminary Hazards Analysis) PHA, dll.
    Tahap pertama aktivitas manajemen risiko saat kita mengidentifikasi risiko
    yang ada dalam suatu aktivitas atau proses. Identifikasi risiko merupakan upaya
    untuk mendeteksi, mengenali dan memperkirakan adanya risiko pada sistem
    operasi, perangkat, proses, dan unit kerja. Identifikasi risiko merupakan langkah
    penting dalam proses pengendalian risiko. Sumber bahaya di tempat kerja dapat
    berasal dari:
  16. Bahan/material
  17. Alat/mesin
  18. Proses
  19. Lingkungan kerja
  20. Metode kerja
  21. Cara kerja
  22. Produk
    Subjek yang mungkin terpapar/terkena bahaya:
  23. Manusia
  24. Produk
  25. Peralatan/fasilitas
  26. Lingkungan
  27. Kemajuan
  28. Ketenaran
    Menggunakan identifikasi risiko:
  29. Waspada potensi bahaya
  30. Ketahui lokasi berbahaya
  31. Indikator Bahaya untuk Pengontrol
  32. Mengekspos bahaya tidak akan berpengaruh
  33. Sebagai dokumen untuk analisis lebih lanjut
    Pengertian risiko proyek meliputi aspek teknis dan non teknis, misalnya aspek
    teknis yang berkaitan dengan item pekerjaan, sedangkan aspek non teknis, misalnya
    hubungan antara proyek dengan proyek dan masyarakat sekitar, proyek dengan
    pemerintah daerah, atasan dan bawahan dan lain-lain. Contoh identifikasi risiko
    proyek di bidang rekayasa pondasi tiang pancang untuk supervisory manager.
    Risiko kemungkinan kegagalan pondasi (pencegahan dan perawatan).
  34. Pekerja jatuh dari derek (kencangkan sabuk pengaman saat memanjat dan
    bekerja di ketinggian)
  35. Benda jatuh dari atas (memakai helm)
  36. Crane Collapse (menggunakan bantalan sebagai pondasi crane)
  37. Palu diesel memantul dari timah (perhatikan ketinggian jatuhan palu yang
    terhenti, jika cukup, segera hentikan)
  38. Sling wire putus (periksa sling sebelum mulai bekerja)
  39. Tumpukan patah saat mengangkat (lakukan pengangkatan titik dan ambil
    momen menahan)
    Contoh pekerjaan cor beton untuk pengawas struktural:
  40. Risiko kecelakaan
    a. Orang jatuh dari ketinggian
    b. Benda jatuh dari atas
    c. Kontak dengan mortal semen
  41. Mencegah
    a. Gunakan sabuk pengaman
    b. Pemasangan sistem penerangan
    c. Pemasangan jalur pengaman
    d. Memakai helm
    e. Pemasangan jaring pengaman
    f. Pemasangan jalur pengaman
    g. Pasang tanda "HATI-HATI KEJATUHAN BENDA DARI ATAS”.
    h. Kenakan sarung tangan
    i. Pakai baju lengan Panjang
    j. Pakai celana panjang

No comments:

Post a Comment