Secara umum stres merupakan suatu kondisi ketegangan yang
mempengaruhi emosi, proses berfikir dan kondisi fisik seseorang menurut
(Handoko dalam Hanim, 2016). Stres kerja seorang individu yang merasakan
situasi interaksi antara pekerja dalam pekerjaanya yang mengancam reaksi
psikologis, kognitif dan fisiologi dan dapat menyebabkan kelelahan fisik dan
mental (Huang et al., 2021). Stres kerja dihasilkan oleh efek langsung dari
faktor lingkungan kerja pada individu. Stres kerja di kondisi saat ini, dapat
menyebabkan ambiguitas peran, terlalu banyak pekerjaan, konflik di dalam
peran, dan tekanan waktu selama bekerja dari rumah, sehingga mengurangi
kepuasan kerja menurut (Kim dalam Irawanto et al., 2021).
Stres kerja dapat berupa kecemasan, ketegangan, kejenuhan, kesal dan
sikap yang mengakibatkan menunda-nunda suatu pekerjaan yang menjadikan
gejala psikologis akibat stres (Salmah, 2015). Pekerjaan-pekerjaan yang
membutuhkan tuntutan berlebihan dan saling bertentangan, tugas yang tidak
jelas, adanya wewenang dan tanggungjawab tidak jelas, hal yang dapat
menimbulkan stres ketidakpuasan. Timbulnya stres kerja cenderung akan
mengalami perubahan produktivitas, perputaran karyawan, kurangnya
tanggung jawab, perubahan dalam kebiasaan seperti makan, merokok,
konsumsi alkohol, kegelisahan/anxiety,dan tidur yang tidak teratur (Salmah,
2015).
Jika seseorang tidak mencapai keseimbangan antara usaha dan
penghargaan, mereka mungkin akan mengalami stres kerja, emosi negatif, dan
reaksi stres yang tidak nyaman (Huang et al., 2021). Berbagai faktor yang
terjadi dalam stres kerja (Marliani dalam Asti et al., n.d., 2018) mengutarakan
faktor-faktor penyebab stres kerja yaitu :
- Faktor lingkungan kerja : kondisi dimana lingkungan fisik, manajemen
perusahan, ataupun lingkungan sosial yang berada di lingkungan
pekerjaan. - Faktor pribadi : secara umum faktor pribadi sebagai pemicu stres yang
dikelompokan sebagai berikut :
a) Kurangnya bahkan tidak adanya dukungan sosial, yang artinya stres
akan muncul pada karyawan yang tidak mendapatkan dukungan
sosial. Dukungan sosial yang dimaksud dari lingkungan dalam
pekerjaan (dukungan dari atasan, rekan kerja, serta bawahan)
adapula dukungan dari lingkungan luar dari keluarga.
b) Tidak mendapatkan kesempatan dalam berpartisipasi pengambilan
keputusan di perusahaan atau organisasi. Masalah tersebut
berkaitan dengan hak dan kewenangan karyawan dalam
menjalankan tanggung jawab tugas dan pekerjaanya. Karyawan
mengalami stres kerja ketika mereka tidak bisa memutuskan
persoalan yang menjadi tanggung jawab dan kewenanganya. Stres
kerja juga terjadi ketika karyawan tidak dilibatkan dalam
pengambilan keputusan yang menyangkut diri karyawan karna
merasa tidak dianggap.
c) Tipe kepribadian yang berbeda antara karyawan satu dengan lainya.
Kepribadian yang sering merasa diburu-buru dalam melaksanakan
pekerjaanya, tidak sabar, konsentrasi pada lebih dari satu pekerjaan
dalam waktu yang sama, cenderung memiliki rasa tidak puas
terhadap hidup, berkompetisi dengan karyawan lain meskipun
dalam situasi yang nonkompetitif.
d) Manajemen yang tidak sehat. Karyawan mengalami stres kerja
ketika gaya kepemimpinan cenderung neurotis. Seorang pemimpin
yang sangat sensitive, tidak percaya orang lain (khususnya
bwahan), perfeksionis, perasaan yang berlebihan dengan suasana
hati atau peristiwa sehingga mempengaruhi keputusan di tempat
kerja. Kecurigaan yang timbul terhadap bawahan, membesarkan
peristiwa/kejadian yang spele, menyebabkan karyawan tidak bisa
leluasa menjalankan pekerjaanya, sehingga muncul stres.
e) Peristiwa atau pengalaman pribadi. Stres kerja sering disebabkan
adanya pengalaman pribadi yang menyakitkan. Pengalaman pribadi
tersebut seperti kematian pasangan, perceraian, sekolah, anak sakit
atau gagal sekolah, hamil yang tidak diharapkan, peristiwa
traumatis, bahkan masalah pelanggaran hukum.
Beberapa faktor yang terjadi pada stres kerja, hal tersebut
mengakibatkan suatu dampak yang terjadi terhadap karyawan yang dibedakan
menjadi dua yaitu dampak positif dan negatif menurut Priansa dalam (Putri &
Sary, 2020) :
a) Dampak positif dari stres kerja : dapat meningkatkan motivasi pada
karyawan, dapat menginspirasi karyawan untuk bisa hidup lebih baik,
dan dapat menstimulus karyawan dalam bekerja lebih giat.
b) Dampak negatif dari stres kerja : adanya dampak subjektif seperti
depresi, kehilangan kesabaran, kegelisahan, dan merasa kesepian.
Dampak perilaku seperti emosi yang tidak stabil, dan perilaku implusif
dalam bekerja. Dampak kognitif yang terjadi seperti tingkat konsentrasi
yang berkurang atau menurun dan ketidakmampuan dalam mengambil
keputusan yang baik. Dampak fisiologis yang terjadi denyut jantung dan
tekanan darah yang meningkat, mulut kering, panas dingin, berkeringat.
Dampak kesehatan seperti kecemasan yang mengakibatkan sulit tidur,
mimpi buruk dan sakit kepala. Dampak organisasi karyawan yang
terasing dari rekan kerja, produktivitas menurun, menurunnya rasa
ikatan kerja dan loyalitas.
No comments:
Post a Comment