Monday, December 24, 2018

Jenis Persediaan (skripsi dan tesis)



    1. Persediaan menurut fungsinya.
Persediaan dapat dibedakan menurut fungsinya sebagai berikut:
1). Batch stock atau Lot Size Inventory
Yaitu persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan atau barang-barang dalam jumlah yang lebih besar daripada jumlah yang dibutuhkan pada saat itu. Jadi dalam hal ini pembelian atau pembuatan yang dilakukan untuk jumlah besar, sedang penggunaan atau pengeluaran dalam jumlah kecil. Terjadinya persediaan karena pengadaan bahan atau barang yang dilakukan lebih banyak dari yang dibutuhkan.
2). Fluctuation Stock
Persediaan yang yang disediakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan. Dalam hal ini perusahaan mengadakan persediaan untuk dapat memenuhi permintaan konsumen, apabila tingkat permintaan menunjukan keadaan yang tidak beraturan atau fluktuasi permintaan tidak dapat diramalkan.
3). Antisipation Stock
Persediaan yang dilakukan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan atau penjualan permintaan yang meningkat.
Disamping itu anticipation stock dimaksudkan pula untuk menjaga kemungkinan sukarnya diperoleh bahan-bahan sehingga tidak menggangu jalannya produksi atau menghindari kemacetan produksi.

    1. Jenis Persediaan Secara Fisik
Jenis persedian secara fisik dapat dibedakan atas:
1). Persediaan bahan mentah (raw materials), yaitu persedian barang-barang berwujud seperti kayu, besi, dan komponen-komponen lainnya yang digunakan dalam proses produksi. Bahan mentah dapat diperoleh dari sumber-sumber alam atau dari supplier atau dibuat sendiri oleh perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi selanjutnya.
2). Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased parts), yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaan lain, dimana secara langsung dapat dirakit menjadi suatu produk.
3). Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplier), yaitu persediaan barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi, tetapi tidak merupakan bagian atau komponen barang jadi.
4). Persediaan barang dalam proses (work in process), yaitu persediaan barang-barang yang merupakan keluaran tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.
5). Persediaan Barang jadi ( Finished goods ), yaitu persediaan barang – barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual atau dikirim kepada pelanggan.[ 3 ]

Arti Perencanaan dan Persediaan (skripsi dan tesis)



Perencanaan merupakan usaha menentukan tujuan, sedangkan pengawasan diperlukan pada tiap-tiap kegiatan yang diadakan agar tindakan-tindakan dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Pengawasan selalu dihubungkan dengan perencanaan. Pengawasan tidak dapat diadakan tanpa adanya perencanaan, sebaliknya perencanaan dapat dilakukan tanpa pengawasan.
Istilah persediaan sendiri adalah suatu istilah umum yang menunjukan segala sesuatu atau sumber daya yang disimpan untuk memenuhi atau mengantisipasi terhadap permintaan. Persediaan ini meliputi bahan mentah, barang setengah jadi, ataupun barang-barang jadi yang menjadi kebutuhan dari perusahaan.
Banyak dari organisasi-organisasi lain yang menyimpan jenis-jenis persediaan dalam bentuk yang lain seperti uang, peralatan kerja, dan lain-lain untuk memenuhi permintaan akan produk ataupun jasa. Sumber daya-sumber daya ini sering dapat dikendalikan lebih efektif melalui penggunaan berbagai system dan model manajemen persediaan.
Sistem persediaan adalah serangkaian kebijaksanaan dan pengendalian yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan tingkat persediaan yang yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi dan dan berapa besar pesanan harus dilakukan. Sistem ini bertujuan untuk menetapkan dan menjamin tersedianya sumber daya yang tepat. Sistem dan model persediaan bertujuan untuk meminimumkan biaya total melalui penentuan apa, berapa, dan kapan pesanan dilakukan secara optimal. [ 1 ]

Sistem Kontrol (skripsi dan tesis)


Sistem kontrol adalah suatu sistem yang membahas tindakan manusia untuk merubah keadaan mesin.  
Sistem kontrol bisa dihubungkan dengan permesinan, pneumatik, hydraulik, atau sistem­-sistem elektrik. Sebagian dari sistem teknologi, sistem kontrol seringkali dirancang untuk membuat mesin menjadi lebih canggih dibandingkan dari manusianya. Beberapa kesalahan umum pada perancangan sistem kontrol adalah :
·         Fungsi kontrol tidak jelas.
·         Membutuhkan terlalu banyak cara pengoperasian.
·         Petunjuk pengoperasian yang tidak standard atau tidak layak.
·         Lokasi yang tidak semestinya agar pengontrolan mesin mudah diamati.
·         Dapat dioperasikan dengan kurang hati-hati.
·         Tidak ada umpan balik atas respon pengoperasian kontrol.
·         Dalam posisi yang tidak standard.
Ini semua dan problem-problem yang lain dapat dihindari degan mengikuti prinsip-prinsip umum dari rancangan berikut :
1.      Definisi Fungsi Kontrol. Apakah yang akan dilakukan terhada mesin dan jenis masukan mana yang diperlukan, misalnya : ketelitian, kecepatan dan kekuatan dari gerakan operator. Penglihatan atau kemampuan untuk melihat dan posisi dari kontrol dalam hubungannya dengan pandangan lain dan keperluan manusia dalam pekerjaan. Kesinambungan gerakan-gerakan  atau gerakan-gerakan terpisah di antara pemberhentian (stop).
2.      Ketentuan pada bagian tubuh digunakan untuk mengoperasikan kontrol dan rancangannya disesuaikan (gambar 2.7) untuk  ketelitian yang tinggi dalam menggunakan tombol-tombol yang dapat dioperasikan melalui jari-jemari dan pergelangan tangan, tenaga yang kuat, ketelitian yang rendah dalam menggunakan pengungkit, pedal, dan sebagainya, dapat dioperasikan dengan tangan dan kaki.
3.      Menempatkan atau menentukan tempat kontrol dengan tepat dalam sudut pandang bagian-bagian tubuh yang akan digunakan. Arah atau petunjuk gerakan kontrol seharusnya juga dipilih untuk disesuaikan dengan fungsi anatomi manusia.
4.      Jarak atau ruang kontrol untuk menghindari kecelakaan alam pengoperasian atau gangguan dari beberapa bagian lain di tempat kerja. Secara nyata, jari-jemari (tangan) mengoperasikan kontrol lebih rapat jaraknya dari pada menggunakan tenaga pegangan. Bahkan kontrol dengan menggunakan ujung jari kadang-kadang sangat rapat,contohnya : tombol atau tuts-tuts pada kalkulator kecil.
5.      Lindungi kontrol dimana kecelakaan pada waktu pengoperasian akan membahayakan, contoh : tombol-­tombol start seharusnya dilindungi oleh lingkungan sekelilingnya dimana dengan hanya membiarkan ujung jari yang masuk. Dengan demikian tidak akan dioperasikan oleh penyikatan yang dapat menyebabkan kecelakaan atau yang yang lebih kecil dari itu.
6.      Tempat kontrol agar dapat dioperasikan dengan nyaman ketika operator mempunyai pandangan yang penuh terhadap situasi mesin yang sedang dikontrol.
7.      Penentuan tempat dan pengenalan kontrol membuat pergerakan- pergerakan mereka dapat digabungkan dengan gerakan mesin yang sedang dikontrol atau beberapa display atau peragaan yang digabungkan, contohnya pergerakan mesin pengungkit naik untuk mengangkat atau menaikkan beberapa bagian mesin, dan turun untuk menurunkan atau merendahkannya. Sejauh display-display tersebut dihubung­kan, suatu prinsip umum yang lebih tertuju pada display yang sama akan bergerak dalam arah yang sama seperti permukaan tombol kontrol yang paling dekat dengannya (gambar 2.8). Bagian ini, berputar menurut arah putaran jarum jam, umumnya digunakan untuk meningkatkan suatu jumlah atau kuantitas.
8.      Dimana tata letak yang standard untuk kontrol yang ada, akan ditempatkan menurut posisi yang sesuai.
9.      Mempertimbangkan apakah ada populasi dengan bentuk yang tetap yang akan mempengaruhi cara-cara manusia yang akan mencoba lebih alami untuk mengoperasikan kontrol (stereotype), contoh : saklar lampu, kran-kran, pedal kendaraan, tombol-tombol dan volume radio.
10.  Menggunakan tipe kontrol yang tidak stabil dimana penempatan ketelitian diperlukan, tetapi sesuai penyesuaian daerah yang lebar, termasuk sejumlah putaran juga diperlukan, contohnya: penempatan kontrol untuk meja mesin milling
11.  Menggunakan kontrol penyesuaian yang terpisah (bunyi berhenti) atau susunan tombol-tekan lebih baik dari pada kontrol yang berkesinambungan ketika suatu nilai terpisah harus selalu ditempatkan, contoh : menyetel radio atau televisi.
12.  Menggunakan kontrol yang berkesinambungan hanya ketika menyesuaikan ketepatan atau menempatkan jumlah yang besar dan terpisah yang lebih dipentingkan (katakanlah lebih dari 20). Penyesuaian yang berkesinambungan memerlukan putaran yang tepat, diikuti oleh gerakan-gerakan yang sesuai dan baik. lni dapat dijadikan waktu pemakaian (time consum­ing) dan memerlukan suatu perubahan tekanan diatas kontrol. Meminimumkan reaksi yang salah dalam kontrol yang berkesinambungan.
13.  Membuat kontrol lebih mudah diidentifikasikan. Penggunaan simbol-simbol standard identifikasi dalam bentuk tertentu. Dalam pelabelan (penamaan) kontrol pada suatu alat atau instrument dijamin ada ketidak-ambigiusan (tidak mempunyai dua arti) tentang penamaan yang menunjukkan kontrol. Apabila operator sedang melihat kebawah terhadap alat-alat atau instrument-instrument (pada seluruh atau sebagian besar perintah), label atau penamaan  diletakkan diatas tambol atau saklar
14.  Dalam suatu panel pengontrol, secara fungsional kombinasi kontrol-kontrol harus dioperasikan dalam suatu susunan. Dalam panel-panel ini, kontrol harus juga dihubungkan secara dekat dengan display-display yang sesuai.
15.  Memperlengkapi beberapa umpan balik pada operator karena gerakan kontrol sudah cukup dan telah terdaftar pada mesin, contoh :
·         Sebuah lampu pembatas atau dikombinasikan dengan kontrol masuk.
·         Sebuah suara elektrik yang dapat didengar.
·         Sebuah bunyi mekanik yang tersendiri.
·         Sebuah perubahan rasa yang jernih dalam gaya pengoperasian.
16.  Membangun beberapa ketahanan (resistan) pada kontrol dengan cara lain juga memelihara atau mengontrol ditempat yang terang dan keras. Ketahanan gerak dari kontrol, mungkin juga menjadi suatu umpan-balik yang berguna, contohnya: setir mobil dan tekanan progresif pada beberapa sistem pengereman.

Sinyal Cahaya (skripsi dan tesis)



Sinyal cahaya (warna) sering digunakan untuk mengidentifikasi status dari suatu sistem (seperti ON atau OFF) atau untuk memberikan peringatan kepada operator sistem tersebut bahwa suatu bagian tidak berjalan dan memerlukan tindakan khusus. Tanda darurat (emergency) lebih baik menggunakan sinyal peringatan suara disertai dengan cahaya yang berkelap kelip (operator mungkin menjawab keadaan darurat dengan mematikan salah satu sinyal).

Perbandingan dari Beberapa Perancangan Alat Peraga (skripsi dan tesis)



Selama bertahun-tahun telah dilakukan beberapa penelitian yang mengamati sejumlah alat peraga tertentu untuk dibandingkan satu dengan yang lainnya. Walaupun hasil pengamatan tersebut berbeda antara satu dengan lainnya, seperti misalnya untuk beberapa penggunaan alat peraga numerik/digit (disebut juga sebagai counters) adalah lebih baik daripada alat peraga analog (seperti misalnya yang berskala dan berbentuk bundar, horisontal, dan vertikal) jika beberapa kondisi berikut diinginkan : (1) dibutuhkan nilai numerik yang presisi, (2) nilai yang ditunjukkan adalah cukup jelas untuk dibaca (tidak berubah secara kontinu). Seperti misalnya, pada studi yang dilakukan oleh Simmonds, Galer, dan Baines (1981).
Mereka membandingkan beberapa digital speedometer yang dilengkapi dengan tiga jarum penunjuk alat peraganya dan sebuah alat peraga yang melengkung (curvilinier display). Semua desain yang dipakai dijalankan sccara elektronik, dua dari jarum penunjuknya tersebut dan curvilinier display-nya menggunakan bar dan tidak menggunakan jarum penunjuk untuk menggambarkan nilai numeriknya. Dari eksperimen tersebut ditemukan bahwa digital dis­play lebih baik daiam hal ketepatan baca dan pemilihan.
Walaupun digital dis­play mempunyai beberapa keunggulan untuk mendapatkan nilai numerik tertentu yang mempunyai kecenderungan telaah lama untuk dapat dibaca , analog display mempunyai keuntungan dari sudut lain. Fixed scale moving pointer dis­play misalnya, akan sangat menguntungkan jika nilai-nilainya sering berubah secara kontinyu yang akan mengesampingkan penggunaan dari digital display (karena keterbatasan waktu untuk pembacaan berbagai nilai tertentu).
Sebagai informasi tambahan bahwa analog display seperti yang telah disebutkan di atas mempunyai suatu keuntungan yang positif untuk mengamati arah atau kecepatan perubahan nilai variabel yang ditunjukkan. Secara umum analog display dengan fixed scale dan moving pointer adalah lebih baik dari moving scale dan fixed pointer.
Dalam hal ini Heglin (1973) memberikan beberapa alternatif pertimbangan untuk pemilihan alat peraga analog sebagai berikut:
a.       Secara umum, dipilih jarum penunjuk bergerak dengan skala tetap (moving pointer, fixed scale).
b.      Jika nilai dari variabel numerik lebih ditonjolkan seperti misalnya : "lebih-kurang" atau "atas-bawah". Hal ini lebih mudah untuk diinterpretasikan dengan bantuan "garis-lurus" atau " skala termometer" dengan jarum penunjuk bergerak (moving pointer) (lihat gambar 2.4 d dan e).
c.       Tidak dicampur-adukkan berbagai macam penggunaan indikator skala dan jarum penunjuknya, untuk menghindari kesalahan baca yang diakibatkan informasi yang bersifat antagonis (berlawanan).
d.      Agar didapat kompatibilitas yang tinggi, maka arah gerakan dari kontrol/ pcngendali dan alat peraga (display)nya harus jelas.
e.       Perubahan pergerakan/perubahan variabel kuantitas adalah penting bagi pengamat, lebih-lebih juka dengan menggunakan jarum pcnunjuk yang bergerak (moving pointer).
f.       Jika diinginkan adanya nilai numerik, maka skala bergerak (moving scale) pada open window dapat dibaca lebih cepat. (Skala seperti yang dimaksud adalah lebih baik jika digital atau counter, display) (lihat gambar 2.4 j, k, l, dan m).



Sunday, December 23, 2018

Alat Peraga Visual Kualitatif (skripsi dan tesis)



Pada penggunaan alat peraga untuk mendapatkan informasi kualitatif, operator biasanya lebih tertarik pada nilai approksimasi dari variabel yang kontinyu seperti misalnya temperatur, tekanan, kecepatan, dan pada perubahan variabel nilainya. Namun bagaimanapun juga dasar pemikiran untuk desain alat peraga visual kualitatif adalah pada desain yang kuantitatif juga.

Alat Peraga Visual Kuantitatif (skripsi dan tesis)


Tujuan dari alat peraga kuantitatif adalah untuk memberikan informasi tentang nilai kuantitatif dari suatu variabel. Pada kebanyakan kasus, variabel tersebut selalu berubah atau paling tidak mempunyai kecenderungan untuk berubah misalnya : kecepatan dan temperatur. Dalam penggunaan alat peraga kuantitatif ada suatu tingkat kepresisian yang disebut dengan satuan skala.

Alat peraga kuantitatif yang konvensional adalah merupakan salah satu bentuk peralatan mekanis yang ada di bawah ini :

a.       Skala tetap dengan jarum penunjuk berputar (Fixed scale with moving pointer).
b.      Skala berputar dengan jarum penunjuk tetap (Moving scale with fixed pointer).
c.       Alat peraga numerik (Digital display).
Dua alat peraga yang pertama adalah indikator analog (analog indicators) karena posisi jarum penunjuknya analog dengan besarnya nilai yang ditunjukkan. Walaupun alat peraga kuantitatif yang konvensional, mempunyai bagian mekanis yang bergerak (jarum penunjuk, skala, atau nilai numerik), namun teknologi modern telah membuat suatu kemungkinan baru untuk menyajikan dalam bentuk elektronik, sehingga dapat mengurangi kebutuhan untuk masalah pengadaan komponen mekanisnya