Thursday, January 3, 2019

Tingkat Efisiensi Industri Pengolahan (skripsi dan tesis)



Tingkat efisiensi adalah kemampuan dari setiap rupiah nilai input antara dalam menciptakan pendapatan, yang dalam hal ini diwakili oleh nilai tambah, pada sektor industri pengolahan (karena keterbatasan data khususnya untuk industri besar sedang). Karena tingkat efisiensi dihitung dengan cara membagi nilai tambah dengan nilai input antara, maka angka tingkat efisiensi yang diperoleh sudah mengeliminir pengaruh dari perubahan harga atau inflasi.
Ada berbagai faktor yang berpengaruh dalam tingkat efisiensi yaitu sebagai berikut :
1. Banyaknya Perusahaan
2. Banyaknya Tenaga Kerja
3. Biaya Tenaga Kerja
4. Nilai Output
5. Input Antara
6. Nilai Tambah

            Dari faktor-faktor  diatas dapat pula dicari seperti di bawah ini :
  • Nilai Tambah Output Rasio (%) = Nilai Tambah / Nilai Output ……….(2)
  • Tingkat Efisiensi (Rp) = Nilai Tambah /Input Antara ……………….....(3)
  • Produktifitas Tenaga Kerja (Juta Rp) =Nilai Tambah / Tenaga Kerja......(4)
  • Produktifitas Tenaga Kerja (Rp) = Nilai Tambah / Biaya Tenaga Kerja..(5)

Produktifitas Tenaga Kerja (skripsi dan tesis)



            Masalah peningkatan produktifitas kerja dapat dilihat sebagai masalah keperilakuan, tetapi juga dapat mengandung aspek-aspek teknis . Untuk mengatasi hal itu  perlu pemahaman yang tepat  tentang faktor-faktor penentu keberhasilan meningkatkan produktifitas kerja, sebagian diantaranya berupa etos kerja yang harus dipegang teguh oleh semua orang dalam organisasi (Sondang P. Siagian, 2002)
            Ada dua cara yang bisa digunakan untuk mengetahui tingkat produktifitas tenaga kerja pada sektor industri pengolahan (khususnya industri besar sedang). Cara pertama adalah dengan membagi nilai tambah yang dihasilkan dengan jumlah tenaga kerja, sedangkan cara kedua adalah dengan cara membandingkan nilai tambah yang dihasilkan dengan pengeluaran untuk tenaga kerja. Masing-masing metode tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahan.
Dengan cara pertama, bisa diketahui berapa jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh setiap tenaga kerja. Sedangkan dengan cara kedua, kita bisa mengetahui besarnya nilai tambah yang dihasilkan untuk setiap rupiah yang dikeluarkan untuk biaya tenaga kerja. Salah satu kelebihan dari cara kedua dibandingkan dengan cara pertama adalah cara ini dapat menghilangkan pengaruh perubahan nilai uang yang disebabkan oleh inflasi, seperti halnya ketika menghitung nilai tambah output rasio dan tingkat efisiensi.

Rasio Nilai Tambah Terhadap Output (skripsi dan tesis)



                Secara definisi, output adalah hasil yang diperoleh baik berbentuk barang maupun jasa dari pemanfaatan seluruh faktor produksi seperti tanah, tenaga kerja, modal dan kewirausahaan yang ikut serta dalam proses produksi. Output merupakan penjumlahan seluruh nilai input antara dan input primer atau nilai tambah bruto atas dasar biaya faktor produksi yang dihasilkan dari seluruh kegiatan usaha. Atau kalau dilihat dari sudut penggunaan/konsumsi, output juga disebut sebagai permintaan akhir dari  nilai barang/jasa yang dihasilkan oleh suatu jenis industri pengolahan pada suatu periode tertentu.
Output dinilai atas dasar harga produsen yaitu suatu tingkat harga yang diterima oleh produsen pada transaksi yang pertama. Nilai output masih bersifat bruto, karena masih mengandung nilai penyusutan barang modal dan pajak tak langsung.
Konsep nilai tambah berkaitan erat dengan penghitungan output. Keduanya merupakan konsep penghitungan neraca ekonomi yang berkaitan  dengan kegiatan produksi. Nilai tambah adalah suatu tambahan nilai pada nilai input antara yang digunakan dalam proses produksi, menjadi barang yang nilainya lebih tinggi. Sedangkan input antara mencakup nilai seluruh komoditi barang dan jasa yang habis atau dianggap habis dipakai dalam suatu proses produksi, seperti bahan baku, bahan bakar, dan lain-lain. Penghitungan nilai tambah bruto dari suatu unit produksi adalah output bruto atas dasar harga produsen dikurangi dengan input antara.

Incremental Capital Output Ratio (ICOR) (skripsi dan tesis)


Secara definisi, Incremental Capital Output Ratio (ICOR) adalah suatu ukuran yang menunjukkan besarnya tambahan investasi baru yang diperlukan untuk meningkatkan output, yang dalam hal ini adalah nilai tambah, sebesar satu unit. Dalam bentuk formula, ICOR dinyatakan sebagai ratio pertambahan kapital (ΔK) terhadap pertambahan output atau nilai tambah (ΔY)
 ICOR = ΔK / ΔY………………..(1)
                Pertambahan output sebenarnya bukan hanya disebabkan oleh investasi, tetapi juga oleh faktor-faktor lainnya. Sungguhpun demikian, dalam penghitungan ICOR digunakan asumsi bahwa tidak ada faktor lain yang mempengaruhi output selain investasi, dengan kata lain faktor-faktor lain diluar investasi dianggap konstan.
Besaran ICOR sektor industri pengolahan sangat diperlukan dalam perencanaan pembangunan sektor industri pengolahan dan juga bermanfaat bagi para pembuat keputusan, karena angka ICOR dapat memberikan informasi mengenai produktifitas nasional.

Klasifikasi Industri Manufaktur (skripsi dan tesis)

Klasifikasi Industri Manufaktur/Pengolahan menurut BPS.
A. Industri Manufaktur/Pengolahan dikelompokkan ke dalam 4 golongan berdasarkan banyaknya pekerja yaitu:
a. Industri Besar adalah perusahaan yang mempunyai pekerja 100 orang atau lebih
b. Industri Menengah adalah perusahaan yang mempunyai pekerja 20-99 orang
c. Industri Kecil adalah perusahaan yang mempunyai pekerja 5-19 orang
d. Industri Rumah Tangga adalah usaha kerajinan rumah tangga yang mempunyai pekerja antara 1-4 orang
B. Klasifikasi Industri Manufaktur/Pengolahan berdasarkan ISIC 2 Digit:
a. Subsektor Industri Makanan, Minuman dan Tembakau
b. Subsektor Industri Tekstil, Pakaian Jadi dan Kulit
c. Subsektor Industri Kayu dan Sejenisnya
d. Subsektor Industri Kertas, Percetakan dan Penerbitan
e. Subsektor Industri Kimia, Minyak Bumi, Karet dan Plastik
f. Subsektor Industri Barang Galian Non Logam, Kecuali Minyak Bumi dan Batu Bara
g. Subsektor Industri Logam Dasar
h. Subsektor Barang Dari Logam, Mesin dan Peralatan
i. Subsektor industri Pengolahan Lainnya

Tuesday, December 25, 2018

Metode Perhitungan Tarif Taksi (skripsi dan tesis)


      Menurut Dirjen Hubdat Dephub RI, hasil operasional harian per unit taksi berdasarkan hasil argometer dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut :
Hasil operasional harian =  { jarak tempuh perjalanan x tarif per km }
                                                +  { jumlah perjalanan isi x tarif buka pintu }
Hasil operasional harian merupakan biaya pokok kendaraan per hari ditambah dengan keuntungan operator taksi sebesar 5% dari biaya pokok kendaraan per hari
Jarak tempuh perjalanan merupakan jarak yang ditempuh taksi ketika mengangkut penumpang dalam waktu satu hari sedangkan jumlah perjalanan isi adalah jumlah perjalanan taksi dengan mengangkut penumpang dalam waktu satu hari. Tarif buka pintu adalah tarif awal yang dikenakan kepada penumpang ketika menngunakan taksi. Besar tarif buka pintu sama dengan dua kali tarif per km.


Biaya Operasional Kendaraan (skripsi dan tesis)



      Dalam sub bab sebelumnya dijelaskan bahwa biaya angkutan umum terbesar yang dikeluarkan oleh pihak operator adalah biaya operasional kendaraan (BOK). BOK adalah jumlah biaya yang dikeluarkan sebuah kendaraan sewaktu beroperasi pada suatu kondisi lalu lintas dan jalan. BOK merupakan komponen biaya yang penting. Perbaikan atau peningkatan mutu sarana dan prasarana transportasi salah satu tujuannya adalah mengurangi jenis biaya ini.

1.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi BOK
Dalam menjalankan usahanya, perusahaan atau pihak operator harus cermat dalam menghitung setiap biaya yang dikeluarkan. Sebagai komponen biaya yang penting dalam penyediaan angkutan umum, BOK harus senantiasa dianalisis dari waktu ke waktu. Hal ini untuk menjaga segala kemungkinan yang terjadi akibat perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya BOK. Perubahan itu dapat bersifat langsung, misalnya perubahan harga bahan bakar, atau pelumas. Namun juga dapat bersifat tidak langsung seperti turunnya kondisi mesin yang mengakibatkan naiknya konsumsi bahan bakar, atau perubahan permukaan jalan yang mengakibatkan cepat ausnya ban, dan lain sebagainya. Dengan mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi, pihak operator dapat meminimalkan BOK yang terjadi.
Menurut Clarkson (1985), perhitungan BOK akan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar kendaraan.
1)      Faktor dari dalam
   Faktor dari dalam kendaraan meliputi keadaan dan kondisi mesin kendaraan yang  akan sangat berpengaruh dalam menentukan besar kecilnya BOK tersebut. Keadaan itu antara lain berat total kendaraan, kecepatan kendaraan, tenaga penggerak mesin, umur kendaraan, dan harga kendaraan.
                                      i.            Berat kendaraan
Berat total kendaraan akan mempengaruhi jumlah pemakaian bahan bakar dan penggunaaan ban. Untuk kendaraan berat yang menggunakan penggerak hidrolis, berat total kendaraan akan mempengaruhi kebutuhan minyak pelumas. Dengan kata lain, semakin berat kendaraan maka biaya yang dikeluarkan akan semakin besar.
                                    ii.      Kecepatan kendaraan
            Kecepatan berpengaruh besar pada BOK karena hal ini berhubungan dengan energi yang diperlukan untuk menggerakkan mesin. Penambahan kecepatan dan permulaan kecepatan akan memerlukan energi yang lebih besar dan menaikkan BOK. Di sisi lain pengurangan kecepatan juga akan berpengaruh pada segi penggunaan ban. Dengan demikian kecepatan yang stabil akan menghasilkan BOK yang lebih rendah dibandingkan dengan kecepatan yang fluktuatif atau berubah-ubah.
                                  iii.      Tenaga penggerak mesin
Besar tenaga penggerak mesin akan menentukan kekuatan dari kendaraan. Kendaraan dengan tenaga penggerak hidrolis yang besar memiliki daya angkat dan daya gerak yang lebih besar sehingga membutuhkan energi yang besar pula. Jika kondisi tersebut tidak dimanfaatkan secara maksimal tentunya akan merugikan.
                            iv.            Umur kendaraan
Umur kendaraan yang telah tua menyebabkan kondisi kendaraan menurun dan harus diservis. Hal ini mempengaruhi unsur BOK. Harga jual kendaraan pun akan menurun yang tentunya mengurangi nilai investasi.
                              v.            Harga kendaraan
Harga suku cadang kendaraan, biaya pemasangan, dan berbagai unsur BOK lainnya tergantung dari harga kendaraan tersebut. Semakin tinggi harga suatu kendaraan maka harga suku cadangnya pun akan semakin tinggi dan peralatan yang dibutuhkan pun semakin mahal disebabkan kualitas suku cadang yang lebih baik. Harga kendaraan juga akan berpengaruh pada laju penyusutan harga.
2)      Faktor dari luar
Faktor dari luar kendaraan adalah situasi dan kondisi diluar kendaraan yang juga sedikit banyak berpengaruh pada BOK. Faktor ini meliputi kondisi geometris, kondis perkerasan, dan situasi lalu lintas yang ada. Faktor tersebut dirinci menjadi kelandaian naik dan kelandaian turun, sudut belokan, keadaan permukaan jalan, kekasaran, kekompakkan, kelembaban permukaan, situasi dan kondisi lalu lintas. 
                                i.            Kelandaian
Tambahan energi diperlukan dalam perjalanan mendaki. Jumlah tambahan energi terbesar adalah pada kebutuhan bahan bakar. Sedangkan pada kelandain turun, energi dan kebutuhan bahan bakar cenderung lebih sedkit. Pengaruh ini akan sangat kentara pada operasional kendaraan di daerah pegunungan dimana kondisi kemiringan yang besar dan panjang. Apalagi ditambah dengan kondisi geometri  jalan yang berkelok-kelok.
                              ii.            Sudut belokan
Perjalanan pada kecepatan tinggi di tikungan yang tajam akan menaikkan BOK disebabkan pada saat berbelok kendaraan akan mengalami hambatan akibat super elevasi permukaan jalan, kesulitan ini yang menyebabkan dilakukannya pengereman. Pengereman pada kecepatan tinggi akan memakan biaya yang dilakukan cukup mahal. Penambahan biaya pada suatu tikungan juga disebabkan oleh perubahan kecepatan, perubahan ini disamping akan menaikkan konsumsi bahan bakar juga berpengaruh pada kondisi ban akibat kemiringan dan gesekan tepi (side resistant).
                            iii.            Ketinggian permukaan
Ketinggian permukaan dari air laut menyebabkan kenaikan suhu dan tipisnya udara, sehingga terkadang mesin sukar dihidupkan untuk pertama kalinya. Selain itu dibutuhkan energi yang relatif lebih besar untuk tetap menjaga kondisi mesin tetap hidup. Fenomena ini terutama banyak ditemui pada kendaraan berbahan bakar diesel atau kendaraan berat.
                            iv.            Keadaan permukaan
Keadaan permukaan akan sangat mempengaruhi baik dari operasional maupun pemeliharaan kendaraan. Kekasaran permukaan terutama pada jalan yang belum diperkeras, akan sangat mempengaruhi biaya operasional kendaraan, baik saat mulai bergerak, berhenti, maupun pengereman.
                              v.            Kondisi lalu lintas
Kemacetan lalu lintas akan sangat berpengaruh pada besarnya BOK. Pada kondisi macet dimana kendaraan harus berhenti atau berjalan pelan, jumlah bahan bakar yang dikeluarkan akan bertambah
2.      Metode Perhitungan BOK
                                            Pada penelitian ini, metode perhitungan BOK yang ditampilkan adalah metode perhitungan yang dikeluarkan oleh Dephub Republik Indonesia.
                                            Rumus perhitungan ini membagi komponen BOK dalam dua kategori yaitu biaya langsung dan biaya tidak langsung. Model perhitungan ini merupakan hasil pendekatan empiris di lapangan.
Biaya langsung merupakan penjumlahan dari komponen biaya yang  terdiri dari beberapa komponen yaitu biaya penyusutan, biaya bunga modal, biaya konsumsi bahan bakar, biaya konsumsi oli, biaya konsumsi suku cadang, biaya tenaga pemeliharaan, dan biaya konsumsi ban. Berikut penjabaran rumus untuk perhitungan biaya langsung yang akan digunakan :
1
Biaya penyusutan


2
Biaya bunga modal
3
Biaya BBM




4
Biaya Ban



5
Biaya pemeliharaan kendaraan








6
Biaya PKB (STNK)


PKB = Biaya pajak kendaraan per tahun,

KIR = Biaya KIR kendaraan, 
            Sedangkan biaya tidak langsung meliputi seluruh komponen biaya yang secara tidak langsung mendukung operasional kendaraan, seperti biaya ijin, administrasi, biaya sewa kantor, biaya pegawai, biaya terra argo, dsb.
                     Penjumlahan antara biaya tidak langsung dan langsung biasa disebut sebagai biaya pokok kendaraan per km.
            Biaya pokok kendaraan / hari = biaya pokok kendaraan / km x KMhari