Anteseden Etnsentrisme Konsumen (skripsi dan tesis)
Menurut Sharmankresh 2004, terdapat 4 katagori anteseden yaitu sosiopsokilogis,ekonomi,politik dan demografis. 4 anteseden ini didapatkan melalui penelitian-penelitian terdahulu.
1) Anteseden Sosio-psikologis
Culture Openness
keterbukaan budaya ditentukan oleh kemauan untuk berinteraksi dengan orang-orang dari budaya lain dan mencoba beberapa hasil kebudayaan ( Sharma,et all1995). Pada awalnya keterbukaan budaya seringkali berpengaruh pada tingkat etnosentrisme konsumen seseorang, namun berdasarkan hasil penelitian harus terdapat perantara yang menghubungkan antara keterbukaan budaya dan etnosentrisme konsumen.
Worldmindedness
Konsep dari worldmindedness berbeda dengan “cultural openness”. Cultural openness mengacu pada kesempatan untuk berinteraksi dengan kebudayaan selain milik sendiri sedangkan, worldmindedness berarti sebuah perspektif memandang dunia. Oleh karena itu, terdapat kemungkinan antara bahwa seorang dapat “worldminded” bahkan tanpa berinteraksi dengan kebudayaan lain. Menurut Gomberg (1994; Sharmankresh 2004), beberapa karakteristik dari worldminded consumers yaitu termasuk minat terhadap pengetahuan mengenai masalah international, menghormati semangat dunia dan peningkatan kesepakatan.
Conservatism
Orang yang Orang yang konservatif adalah yang memperlihatkan kecenderungan untuk menghargai tradisi dan institusi sosial yang tetap bertahan tak lekang dimakan waktu dan mereka juga sangat enggan dalam hal melakukan perubahan ( Shimp & Sharma, 1987), Penelitian yang dilakukan oleh Balabanis et all ( 2002) menunjukkan bahwa adanya hubungan positif antara konservatisme dan etnosentrisme konsumen
Collectivism- individual
Orang dengan dengan tujuan kolektif cenderung lebih memiliki rasa etnosentris dibandingkan dengan yang memiliki tujuan individual ( Sharmankresh, 2004). Bukti empiris mengenai hubungan positif antara kolektivisme dengaetnosentrisme konsumen terdapat pada beberapa penelitian salah satunya Strutton(1994).
Animosity
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Klein et all (1998) didapatkan definisi dari Animosity yaitu “ Sisa-sisa antipati yang didasarkan oleh peristiwa ekonomi, politik ataupun militer yang berakibat pada perilaku konsumen di pasar internasional”. Contoh yang paling nyata adalah Animosity yang dimiliki oleh masyarakat China terhadap negara Jepang yang dikarenakan dendam politik pada masa lalu.
Materialism
Orang - orang yang materialistis cenderung bergantung pada kepemilikan akan harta dan materi dalam memuaskan hubungan inter personal mereka (Rindfleisch et all, 1997) dan juga untuk meningkatkan “ sense of belonging” mereka. Bukti empiris mengenai hubungan positif antara materialism dengan etnosentrisme konsumen ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Clarke et all ( 2000)
Dogmatism
Dogmatism didefiniskan sebagai sebuah karakteristik kepribadian yang melihat dunia dalam hitam dan putih ( Caruna,1996; Sharmankresh,2004) menemukan konsumen yang dogmatismenya rendah memiliki sikap yang lebih tinggi terhadap produk luar negeri dibandingkan mereka yang lebih dogmatis. Shimp dan Sharma (1987) melaporkan adanya hubungan positif antara etnosentrisme konsumen dengan dogmatisme.
2) Anteseden Politik
Menurut Rosenbalt (1964) propaganda politik adalah salah satu anteseden dari etnosentrisme.propaganda yang dilakukan oleh pemerintah disuatu negara akan mempengaruhi entnosentrisme konsumen dinegara tersebut, seperti yang dilakukan oleh presiden Indonesia pertama Republik Indonesia, bapak Soekarno yang melakukan propaganda politik yaitu anti produk-produk Amerika Serikat 3) Anteseden Demografis Anteseden demografis juga turut mempengaruhi etnosentrisme konsumen, menurut Sharmankresh (2004) terdapatfaktor anteseden yaitu :
Umur
Adanya argumentasi mengenai hubungan yang positif antara umur dan etnosentrisme konsumen didasari pada peningkatan kosmopolitianisme beberapa tahun belakangan ini dan adanya pengaruh sosio-budaya pada kepercayaan di kalangan remaja. Di beberapa penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat etnosentrisme antara orang yang lebih tua dengan orang yang lebih muda. Gender
Terdapat bukti yang menunjukan perempuan memiliki angka etnosentrisme konsumen yang lebih tinggi daripada laki-laki ( Sharma et all,1995). Pokok logika dari pemikiran ini adalah perempuan lebih kosnervatif,konformis dan kolektivisme tinggi mengenai perasaan positif terhadap barang yang berasal dari negeri sendiri ( Triandis et all 1985 dalam Sharmankresh, 2004)
Pendidikan
Hubungan tingakat pendidikan dengan etnosentrisme konsumen hampir semuanya hasilnya negatif ( Klein & Etterson, 1999 dalam Sharmankresh, 2004) . Namun penelitian yang dilakukan oleh Watson & Johnson (1972; Sharmakresh 2004) menunjukkan bahwa orang-orang yang tingkat pendidikannya lebih tinggi akan lebih sedikit memiliki rasa etnosentrisme konsumen.
Pendapatan
Kebanyakan penelitian menemukan bahwa adanya hubungan negatif antara tingkat pendapatan dengan etnosentrisme konsumen. Peningkatan tingkat pendapatan seseorang membuat semakin banyaknya kesempatan untuk berwisata dan membeli barang ke negara lain, hal ini dapat menimbulkan adanya peningkatan perspektif cosmopolitan.
Ras
Penelitian yang dilakukan oleh Piron & Klein (1999; Sharmankresh, 2004) tidak menemukan ras berpengaruh signifikan terhadap etnosentrisme konsumen. Namun, Cottingham & Morris (1991; Sharmankresh, 2004) menemukan fakta bahwa ras minoritas menaruh minat yang lebih besar terhadap produk luar negeri dibandingkan ras mayoritas.
Kelas sosial.
Kelas social sosial berkorelasi dengan pendapatan, artinya semakin tinggi pendapatan seseorang akan semakin tinggi kelas sosial seseorang yang akhirnya membuat tingkat etnosentrisme konsumennya semakin rendah (Sharmankresh, 2004).
4) Anteseden Ekonomi
Penelitian – penelitian sebelumnya menunjukkan adanya pengaruh dari lingkungan ekonomi terhadap tingkat etnosentrisme, Rosenblatt (1964; Sharmankresh, berpendapat bahwa kapitalisme dapat berpengaruh negative terhadap etnosentrisme. selain itu, Schuh ( 1994 dalam Sharmankresh 2004) menemukan adanyahubungan antara perbedaan perkembangan tingkat ekonomi dengan preferensi konsumen terhadap produkasing
Comments
Post a Comment