Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Religiusitas (skripsi dan tesis)
Sikap keagamaan merupakan suatu keadaan dimana di dalam diri seseorang terdapat dorongan untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya terhadap agama. Sikap tersebut muncul karenaadanya konsistensi antara kepercayaan terhadap agama, perasaan terhadap agama dan perilaku terhadap agama (Jalaluddin, 2010: 263). Sikap keagamaan terbentuk oleh dua faktor, yaitu faktor intern yang berupa pengaruh dari dalam diri individu dan faktor ekstern yang berupa pengaruh dari luar, adapun penjelasannya sebagai berikut: a. Faktor Intern 1.) Faktor Hereditas Menurut Roediger (1984), secara garis besarnya pembawa sifat keturunan dibagi menjadi dua yaitu genotype dan fenotipe. Genotipe merupakan keseluruhan bawaan seseorang yang dipengaruhi lingkungan, namun tidak menyimpang dari sifat dasar, sedangkan fenotipe adalah karakteristik yang tampak dan dapat diukur seperti warna mata, warna kulit, 35 bentuk fisik (Jalaluddin, 2010: 265). Jiwa keagamaan terbentuk dari faktor bawaan yang diwariskan secara turun temurun. Margareth Mead menemukan dalam penelitiannya pada salah satu suku yaitu suku Mundugumor dan Arapesh yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara cara menyusui bayi dengan sikap yang ditunjukkan bayi di masa mendatang. Bayi yang disusukan secara tergesa-gesa menampilkan sosok yang agresif, sedangkan yang disusukan secara wajar menampakkan sikap yang toleran dimasa remajanya (Jalaluddin, 2010: 266).
Selain itu, Rasululloh Saw. juga menganjurkan mengenai pemilihan pasangan hidup yang baik dalam membangun rumah tangga. Menurut Rasulullah Saw. Benih yang berasal dari keturunan tercela dapat memengaruhi sifat-sifat keturunan berikutnya, maka berhati-hatilah dengan Hadra Al-Diman yaitu wanita cantik dari lingkungan yang jelek (Mujtaba dan Musawi, 1977:93 dalam Jalaluddin, 2010: 266). Menurut Sigmund Freud, perbuatan yang buruk dan tercela apabila dilakukan akan menimbulkan rasa bersalah dalam diri pelakunya. Apabila pelanggaran yang dilakukan terhadap agama, maka pada diri pelaku akan timbul rasa berdosa. Dan perasaan inilah yang ikut memengaruhi perkembangan jiwa keagamaan seseorang sebagai unsur hereditas (Jalaluddin, 2010: 266). 36 2.) Faktor Tingkat Usia Menurut Erner Harms dalam bukunya The Develompent of Religious on Children, ia mengungkapkan bahwa perkembangan agama pada anakanak ditentukan oleh tingkat usia mereka. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh perkembangan berbagai aspek kejiwaan termasuk dalam perkembangan berfikir. Kenyataannya, anak yang menginjak dewasa akan lebih berfikir kritis dalam memahami ajaran agamanya. Meskipun demikian, tingkat usia bukanlah satu-satunya faktor penentu dalam perkembangan jiwa keagamaan seseorang (Jalaluddin, 2010: 267). 3.) Faktor Kepribadian Menurut Arno F Wittig (1977), dalam pandangan psikologi kepribadian terbentuk dari dua unsur yaitu unsur hereditas dan pengaruh lingkungan. Hubungan antara kedua unsur inilah yang membentuk kepribadian yang akan menyebabkan munculnya konsep tipologi dan karakter. Dimana tipologi ditekankan pada unsur bawaan, sedangkan karakter lebih ditekankan oleh adanya pengaruh lingkungan (Jalaluddin, 2010: 268). 4.) Faktor Kondisi Kejiwaan Kondisi kejiwaan seseorang berkaitan dengan kepribadian. Menurut Sigmund Freud, ada beberapa model pendekatan yang dapat mengungkapkan hubungan keduanya yaitu model psikodinamik yaitu gangguan kejiwaan yang timbul oleh konflik di alam ketidaksadaran 37 manusia yang menjadi sumber gejala kejiwaan abnormal. Sedangkan model biomedis kondisi tubuh yang memengaruhi kondisi jiwa seseorang. Kemudian pendekatan eksistensial yang menekankan pada dominasi pengalaman kekinian manusia (Jalaluddin, 2010: 269). b. Faktor Ekstern 1.) Faktor Lingkungan Keluarga Keluarga merupakan satuan sosial yang paling sederhana dalam kehidupan manusia. Sigmund Freud dengan konsep Father Image (citra kebapaan) menyatakan bahwa perkembangan jiwa keagamaan anak dipengaruhi oleh citra anak terhadap bapaknya. Jika seorang bapak menunjukkan sikap dan tingkah laku yang baik, maka anak akan cenderung bersikap dan bertingkah laku baik. Demikian pula sebaliknya, jika bapal menampilkan sikap buruk juga akan ikut berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak (Jalaluddin, 2010: 271). 2.) Faktor Lingkungan Institusional Menurut Jalaluddin (2010: 271), lingkungan institusional yang ikut memengaruhi perkembangan jiwa keagamaan dapat berupa institusi formal seperti sekolah ataupun non-formal seperti berbagai perkumpulan dan organisasi. Di sekolah misalnya, melalui kurikulum, yang berisi pengajaran, sikap, dan keteladanan guru serta pergaulan antar-teman di sekolah dinilai berperan dalam menanamkan kebiasaan yan baik. Pembiasaan yan baik merupakan bagian dari pembentukan moral yang erat kaitannya dengan 38 perkembangan jiwa keagamaan seseorang. 3.) Faktor Lingkungan Masyarakat Lingkungan masyarakat bukan merupakan lingkungan yang mengandung unsur tanggung jawab, akan tetapi norma dan tata nilai yang ada terkadang lebih mengikat sifatnya. Bahkan, terkadang pengaruhnya lebih besar dalam perkembangan jiwa keagamaan baik yang positif atau negatif (Jalaluddin, 2010: 272). Misalnya, lingkungan masyarakat yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat akan berpengaruh positif bagi perkembangan jiwa keagamaan anak, begitu pula sebaliknya
Comments
Post a Comment