Determinan Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)
Persoalan yang sering dihadapi adalah bagaimana cara yang dapat dilakukan untuk mengukur kepuasan kerja. Komponen atau unsur apa saja yang dapat dipergunakan untuk mengukur kepuasan kerja. Apa yang dapat dijadikan indikator 25 untuk mengatakan bahwa seseorang pekerja mendapat kepuasan kerja. Apabila kita ingin mengetahui kepuasan kerja seseorang, kita harus mengukur atau menanyakan sikap orang tersebut terhadap berbagai aspek pekerjaan. Beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja dan sekaligus dapat dipakai untuk mengukur kepuasan kerja adalah (Badeni, 2013: 43): 1) Pekerjaan itu sendiri, yaitu isi pekerjaan yang dilakukan seseorang yang mungkin terdapat kesesuaian dengan kemampuan, minat, dan lain-lain. Dalam teorinya Herzberg (1959) mengemukakan teori dua faktor yaitu faktor-faktor intrinsik berhubungan dengan kepuasan kerja, sementara faktor-faktor ekstrinsik berhubungan dengan ketidakpastian. Sehubungan dengan ini Herzberg yakin bahwa hubungan seorang individu dengan pekerjanya merupakan suatu hubungan dasar dan sikapnya terhadap kerja dapat menentukan sukses atau kegagalan individu yang bersangkutan, Selain itu ia juga mengatakan bahwa sumber kepuasan kerja berkaitan dengan sejauh mana pekerjaan tersebut memiliki tantangan (challenge), menimbulkan perkembangan diri (advancement), pengakuan (recognition), dan tanggung jawab (responsibility). Sedangkan ahli lain mengatakan bahwa autonomy, task variety, task identity, task significance, dan feedback merupakan unsur-unsur yang penting dalam menentukan kepuasan kerja. 2) Gaji, yaitu jumlah bayaran yang didapat seseorang sebagai akibat dari pelaksanaan kerja. Gaji dapat dirasakan seseorang dengan sangat memuaskan atau sebaliknya tidak memuaskan. Gaji dapat meningkatkan kepuasan kerja apabila gaji yang diterima seseorang dirasakan: dapat memenuhi kebutuhan, memenuhi keadilan internal, dan memenuhi keadilan eksternal. Memenuhi kebutuhan yaitu dapat memenuhi kebutuhan dasar yang layak sebagai manusia yaitu kebutuhan pangan, sandang, perumahan. Keadilan internal adalah gaji yang diterima seseorang dirasakan sesuai dengan tingkat usaha yang dilakukan, keahlian yang dimiliki, dan pengalaman yang dimiliki dibandingkan orang lain. Kemudian, keadilan eksternal adalah pegawai merasakan jumlah yang diterima se-banding dengan apa yang diterima pihak lain dalam pekerjaan yang sama di perusahaan lain. 3) Rekan sekerja, yaitu teman-teman kepada siapa seseorang senantiasa berinteraksi di dalam pelaksanaan pekerjaan. Seseorang dapat merasakan rekan sekerjanya sangat menyenangkan atau sebaliknya tidak menyenangkan. Rekan kerja yang menyenangkan dapat berupa rekan kerja yang memberikan dorongan, membantu, dan lain-lain. 4) Atasan, yaitu atasan seseorang yang senantiasa memberi petunjuk dalam pelaksanaan kerja. Cara-cara atasan dapat tidak menyenangkan atau menyenangkan bagi seseorang. Hal ini dapat mempengaruhi kepuasan kerja. 5) Promosi, yaitu kemungkinan seseorang dapat berkembang melalui kenaikan jabatan. Seseorang dapat merasakan terdapat kemungkinan yang besar untuk naik jabatan atau tidak, proses kenaikan jabatan kurang terbuka atau terbuka. 6) Lingkungan kerja, yaitu kenyamanan tempat kerja dan ketersediaan berbagai sarana yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan. Kenyamanan dapat berkaitan dengan penerangan yang cukup, ventilasi yang memberikan kesegaran, kebersihan tempat kerja, dan mudah melihat bahwa aspek-aspek di atas juga merupakan penghargaan yang bersifat non-materi bagi seseorang. Schermerhorn et al. (2011: 73) mengemukakan bahwa kepuasan kerja dapat diketahui melalui observasi dan interpretasi secara berhati-hati tentang apa yang dikatakan dan dilakukan orang sambil melakukan pekerjaannya. Mereka menyebutnya sebagai komponen kepuasan kerja. Dalam hal ini ada dua model yang disarankan dapat dipergunakan, yaitu The Minnesota Satisfaction Questionnaire dan Job Descriptive Index. The Minnesota Satisfaction Questionnaire (MSQ) mengukur kepuasan antara lain dengan: 1) Working conditions, kondisi kerja, 2) Chances for advancement, kesempatan untuk maju, 3) Freedom to use one’s own judgment, kebebasan untuk menggunakan pertimbangannya sendiri, 4) Praise for doing a good job, memuji karena telah melakukan pekerjaan baik, dan 5) Feelings of accomplishment, perasaan atas penyelesaian. Sedangkan Job Descriptive Index (JDI) mengukur kepuasan dari lima segi, yaitu: 1) The work itself, pekerjaan itu sendiri, yang mencakup tanggung jawab (responsibility), kepentingan (interest), dan pertumbuhan (growth). 2) Quality of supervision, kualitas pengawasan, yang mencakup bantuan teknis (technical help) dan dukungan sosial (social support). 3) Relationship with co-workers, hubungan dengan rekan sekerja, yang mencakup keselarasan sosial (social harmony) dan rasa hormat (respect). 28 4) Promotion opportunities, peluang promosi, termasuk kesempatan untuk kemajuan selanjutnya (chances for further advancement). 5) Pay, bayaran, dalam bentuk kecukupan bayaran (adequacy of pay) dan perasaan keadilan terhadap orang lainnya (perceived equity vis-à-vis others)
Comments
Post a Comment