Komponen Kepemimpinan Otentik (skripsi dan tesis)

 Ilies, Morgeson, dan Nahrgang (2005) mencoba mengajukan empat komponen model kepemimpinan otentik yaitu: self-awareness, unbiased processing, authentic behavior/acting, dan authentic relational orientation. (1) Self-awareness – sebuah komponen keotentikan yang mengacu pada kesadaran, kepercayaan, karakteristik personal, nilai, motif, dan kognisi seseorang. Self-awareness meliputi pengetahuan atas self-aspect kontradiktif yang melekat dalam diri seseorang dan peran dari kontradiksi ini mempengaruhi pikiran, perasaan, tindakan, dan perilaku seseorang. May et al. (2003) berargumen bahwa “knowing oneself and being true to oneself are essential qualities to authentic leadership.” (2) Unbiased processing – mengacu pada pemrosesan self-relevant information, yang meliputi “tidak menyangkal, tidak menyimpang, tidak melebih-lebihkan, atau tidak mengabaikan pengetahuan privat, pengalaman internal dan eksternal yang didasarkan pada informasi evaluatif” (Kernis, 2003). Komponen ubiased processing merupakan jantung dari integritas dan karakter, dan keduanya tidak hanya mempengaruhi keputusan dan aksi pemimpin, namun juga mempunyai implikasi bagi kesejahteraan mereka sendiri. (3) Authentic behavior/acting – perilaku otentik mengacu pada apakah tindakan seseorang didasarkan pada true-self mereka (nilai, preferensi, kebutuhan), bukan semata-mata menyenangkan orang lain atau mendapatkan penghargaan atau menghindari hukuman dengan “acting falsely” (Kernis, 2003). (4) Authentic relational orientation – penilaian dan perjuangan untuk mencapai keterbukaan dan keadaan yang sebenarnya (thruthfullness) dalam sebuah hubungan. Relational authenticity meliputi proses aktif self-disclosure dan perkembangan mutual intimacy dan trust sehingga keintiman akan melihat aspek true self yang baik atau yang buruk. Untuk mencapai keotentikan hubungan, seseorang harus benar-benar genuine dan tidak berpura-pura dalam hubungan seseorang dengan lainnya (Kernis, 2003) Studi kedua dilakukan oleh Walumbwa et al. (2008) dengan menguji kepemimpinan otentik, etis, dan transformasional dan outcome kerja para pengikut (followers). Secara spesifik, studi ini menghipotesiskan bahwa (a) kepemimpinan otentik akan secara positif berhubungan dengan kepemimpinan etis dan transformasional; (b) kepemimpinan otentik secara positif berhubungan dengan Organizaional Citizenship Behavior (OCB), komitmen organisasi, kepuasan pengikut dengan supervisor ketika mengontrol kepemimpinan otentik dan kepemimpinan otentik. Hasil studi ke-2 menunjukkan bahwa kepemimpinan otentik berhubungan positif dengan kepemimpinan etis dan transformasional. Analisis faktor konfirmatoris juga menunjukkan bahwa kepemimpinan otentik secara signifikan dapat dibedakan dari dua kepemimpinan lainnya. Berikut ini adalah konstruk-konstruk yang telah divalidasi oleh Walumbwa et al. (2008) menjadi sebuah instrument yang disebut Authentic Leadership Questionnaires (ALQ): (1) Self-awareness mengacu pada kemauan untuk menilai nilai personal, preferensi, dan perilaku, sehingga dapat menilai kelemahan dan kekuatannya. Ilies et al. (2005) menambahkan bahwa mencapai self-awareness yang lebih tinggi mungkin memerlukan self-concept positif yang lebih dan emotional intelligence yang lebih tinggi. Self-awareness berarti bahwa pemimpin harus mengetahui siapa dirinya, percaya diri, dan mengarahkan diri mereka ke taraf yang lebih tinggi dibandingkan orang lain. (2) Relational transparency, bahwa seorang pemimpin otentik adalah mereka yang secara positif dinilai dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai dan kepercayaan yang kuat. Konstruk ini mengacu pada tingkat keterbukaan pemimpin dengan para pengikutnya dan memberikan kesempatan kepada para pengikut untuk mengemukakan ide, tantangan, dan opini. Beberapa ahli berpendapat bahwa transparansi relasional dan diseminasi informasi merupakan hal krusial dalam pengembangan kepemimpinan otentik. Avolio, Gardner, Walumbwa, Luthans, dan May (2004) berpendapat bahwa pemimpin otentik cenderung lebih transparan dalam menunjukkan perasaan serta emosi yang sebenarnya kepada para pengikutnya dibanding yang kurang otentik. Dengan demikian, mereka selalu mencoba mengelola emosi dan menghindari emosi yang tidak sesuai atau bahkan ekstrim dalam menghadapi orang lain (3) Balancing processing, mengharuskan pemimpin menganalisis semua informasi relevan secara objektif sebelum membuat sebuah keputusan. Pemimpin otentik mau tegas bahwa dia tidak harus menjawab semua pertanyaan/masalah yang ada, dan juga tidak perlu khawatir dipersepsikan sebagai seseorang yang lemah atau tidak mampu ketika memilih untuk tidak menjawab suatu masalah. (4) Internalized moral perspective memberikan pondasi moral bagi kepemimpinan otentik. Pemimpin otentik adalah mereka yang mempunyai standar moral dan nilai yang tinggi dan memegang teguhnya ketika menghadapi tekanan

Comments

Popular Posts