Konsep Kepemimpinan Otentik (skripsi dan tesis)
Istilah kepemimpinan otentik pertama kali digunakan oleh Bass, seorang penulis terkenal dalam bidang leadership. Bass memasukkan konsep kepemimpinan otentik dalam model aslinya karena adanya kritik-kritik terkait dengan the darker side of charisma dan potensi akan manajer yang narcissistic dan authoritarian yang mencoba menyamar sebagai pemimipin transformasional. Mengikuti pernyataan Steidlmeier dalam artikelnya Bass dan Steidlmeier (1999), dia berargumen bahwa “truly transformational leader itu adalah mereka yang bermoral tinggi, karena kalau tidak, yang terjadi adalah pemimpin yang tidak otentik atau pseudo-transformational leadership. Dengan demikian, pemimpin yang self-aggrandizing, fantasizing, pseudo-transformational dapat dicap sebagai pemimpin yang tidak bermoral (immoral). Konsep authenticity dalam hubungannya dengan kepemimpinan mengacu pada premis “being true to one’s self” dan dalam hal ini, Bass dan Steidlmeier (1999) berusaha menjelaskan kepemimpinan otentik itu lawan dari pseudo-transformational leadership. Bhindi, Riley, Smith, dan Hansen (2008) menjelaskan kepemimpinan otentik sebagai sebuah tipe kepemimpinan yang pemimpinnya sangat menjunjung nilai-nilai moral dan etika dengan tujuan untuk perbaikan para pengikutnya dan diri mereka sendiri Reviu terhadap riset-riset yang memfokuskan pada kepemimpinan otentik menjelaskan bagaimana definisi kepemimpinan otentik berkembang dengan berbagai dimensi yang mendasarinya. Ada beberapa definisi yang diajukan dari berbagai sudut pandang dengan penekanan yang berbeda-beda. Luthans dan Avolio (2003) mendefinisikan kepemimpinan otentik sebagai: “a process that draws from both positive psychological capacities and a highly developed organizational context which results in both greater self-awareness and self-regulated positive behaviors on the part of leaders and associates, fostering positive self-development” (p.243)
Comments
Post a Comment