Kesadaran Merek (skripsi dan tesis)

 


Kata “brand” dalam bahasa Inggris berasal dari kata “brandr”
dalam bahasa old nurse, yang berarti “to burn”, mengacu pada
pengidentifikasian merek. Pada waktu itu pemilik hewan ternak
menggunakan tanda “cap” khusus untuk menandai ternak miliknya dan
membedakannya dari ternak lain. Melalui “cap” tersebut, konsumen
lebih mudah mengidentifikasi ternak yang berkualitas dari perternak
yang bereputasi bagus (Tjiptono, 2005).
Kesadaran merek adalah kesanggupan seorang calon pembeli
untuk mengenali, mengingat kembali suatu merek sebagai bagian dari
suatu kategori produk tertentu (Aaker, 2004 : 10). Peran kesadaran
merek dalam ekuitas merek tergantung pada tingkat akan pencapaian
kesadaran dibenak konsumen.
Fandy Tjiptono (2011 : 111) ukuran pada brand awareness yang
banyak dipakai adalah recall dan recognition, baik aided maupun
anaided. Yang penting disini bukanlah sekedar menjadi merek pertama
yang yang disebut atau yang diingat konsumen (name awareness),
namun terciptanya asosiasi khusus antara nama merek dengan produk
tertentu. Hanya saja, kelemahan utama brand awareness terletak pada
dampak ukuran merek dan skala aktivitas promosi yang sangat
dominan, sementara brand strength dalam konteks preferensi atau
sikap positif konsumen terhadap merek bersangkutan tidak banyak
terungkap. Ukuran awareness mengandung confounding effect, dimana
merek-merek besar cenderung selalu lebih diuntungkan
Menurut Erna Ferrinadewi (2008 : 174) merek yang sering
dibeli oleh keluarga biasanya akan membuat seluruh anggota keluarga
memiliki kesadaran yang tinggi akan keberadaan merek. Walaupun
merek tersebut merek yang tidak terpikirkan oleh konsumen, namun
nama merek akan menetap dalam ingatan konsumen karena tingginya
frekwensi anggota keluarga melihat terpapar oleh merek yang sama.
Semakin sering merek tersebut dilihat dan digunakan oleh seluruh
anggota keluarga maka ingatan pada konsumen semakin kuat. Pada
saat ini nanti, ketika generasi muda dalam keluarga mulai dihadapkan
pada situasi konsumsi yang baru misalkan karena mereka tinggal
dikota yang berbeda dengan orang tuanya.
Kesadaran terhadap merek direfleksikan dalam kemampuan
konsumen mengidentifikasi merek dalam berbagai situasi yang
berbeda. Kemampuan konsumen ditentukan juga oleh derajat
motivasinya. Ketika konsumen berada dalam situasi pembelian dengan
motivasi yang tinggi, maka konsumen akan membutuhkan lebih
banyak waktu dalam proses pengambilan keputusan agar mendapatkan
lebih banyak waktu untuk menjadi familiar pada merek. Misalkan pada
pembelian produk seperti mobil atau produk yang sifatnya tahan lama
(Erna Ferrinadewi, 2008 : 174)

Comments

Popular Posts