Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kurs (skripsi dan tesis)


1. Produk domestik bruto (PDB). Begitu pula yang dialami produk domestik bruto, sebagai akibat dari peningkatan pendapatan (relatif dengan negara lain) maka semakin besar kemungkinan untuk meningkatkan impor yang akan berakibat pada perintaan nilai mata uang asing dalam bentuk dollar Amerika. 2. Utang luar negeri. Utang luar negeri merupakan total dari seluruh pinjaman secara resmi dalam bentuk uang tunai maupun bentuk aktiva lainnya. Selain itu, untuk mengalirkan dana dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang untuk merealisasikan pembangunan dan mendistribusikan pendapatan (Todaro, 1998). Pelemahan dari kurs rupiah membuat utang luar negeri yang harus dibayar oleh Indonesia menjadi lebih tinggi. Misalkan, mempunyai utang 100 dollar pada saat kurs Rupiah masih Rp 13.000,00 per dollar, sehingga untuk   mengembalikannya harus menyiapkan uang sebesar Rp 1.300.000,00. Setahun kemudian, saat akan membayarkan utang tersebut, kurs Rupiah telah jatuh ke Rp 14.000,00 per dollar, sehingga untuk mengembalikan utang mencapai Rp 1.400.000,00. Jadi, Utang luar negeri sangat berhubungan dengan nilai tukar (kurs). Kuncoro (2013), menyatakan setelah runtuhnya sistem Bretton Woods dan berkembangnya system kurs mengambang, bagi ngara berkembang seperti Negara Indonesia, peranan kurs valas menjadi sangat penting, terutama terhadap mata uang keras (hard currencies) sepert dollar Amerika dan Yen jepang. Dampak dari utang luar negeri pemerintah dalam pertumbuhan ekonomi banyak dipertanyakan orang. Beberapa bukti empiris juga telah menunjukkan, bahwa sejumlah negara yang memanfaatkan pinjaman luar negeri untuk melaksanakan pembangunannya dapat berhasil dengan baik, dalam artian negara tersebut dapat meningkatkan taraf perekonomian dan juga sekaligus dapat membayar kembali utang luar negerinya. Tidak sedikit pula negara yang mempunyai pengalaman sebaliknya, yaitu dengan kondisi perekonomian yang mengalami kemerosotan, sehingga sangat memerlukan bantuan dari donor untuk menghapus sebagian utang-utangnya. Jarang ditemukan dampak positif utang luar negeri terhadap pertumbuhan ekonomi. Bahkan dengan terlihat jelas bahwa utang luar negeri justru berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. 32 3. Ekspor netto. Untuk memperoleh valuta asing maka negara harus mampu mengekspor aneka produk yang dapat dihasilkan di dalam negeri. Jumlah devisa yang semakin banyak dari hasil ekspor akan memungkinkan suatu negara untuk meningkatkan hasil devisa ekspor dan akan meningkatkan pendapatan negara (Sanusi, 2004). 4. Suku bunga acuan (BI rate). Tingkat suku bunga yang tinggi akan menarik jumlah uang yang beredar dimasyarakat. Jika tingkat suku bunga dinaikkan, maka jumlah uang yang beredar berkurang, karena orang lebih senang menabung dari pada memutarkan uangnya pada sektor-sektor produktif. Sebaliknya jika tingkat suku bunga terlalu rendah maka jumlah uang yang beredar dimasyarakat akan bertambah karena orang lebih suka memutarkan uang mereka pada sektorsektor produktif daripada untuk menabungkan uang tersebut. Dalam hal ini tingkat suku bunga merupakan instrument konvensional untuk mengendalikan inflasi (Tajul, 2000). 5. Inflasi. Inflasi berpengaruh permintaan valuta asing semakin tinggi tingkat inflasi di Indonesia maka akan menyebabkan terdepresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. yang akan berdampak pada semakin banyak kuota impor yang dilakukan oleh pemerintah.

Comments

Popular Posts