Kepemilikan Manajerial (skripsi, tesis, disertasi)

 


Kepemilikan Manajerial adalah situasi dimana manajer memiliki saham
perusahaan atau dengan kata lain manajer tersebut sekaligus sebagai pemegang
saham perusahaan. Dalam laporan keuangan, keadaan ini fitunjukkan dengan
besarnya presentase kepemilikan saham perusahaan oleh manajer. Karena hal ini
merupakan informasi penting bagi pengguna laporan keuangan. Adanya
kepemilikan manajerial menjadi hal yang menarik jika dikaitkan dengan agency
theory menurut Dr. Robertus M. Bambang Gunawan (2016:75)
Dalam kerangka agency theory, hubungan antara manajer dan pemegang
saham digambarkan sebagai hubungan antara agent dan principal (Schroeder
et.al., 2001). Agent diberi mandat oleh pricipal untuk menjalankan bisnis demi
kepentingan principal. Manajer sebagai agent dan pemegang saham sebagai
principal. Keputusan bisnis yang diambil manajer adalah keputusan untuk
memaksimalkan sumber daya perushaan. Suatu ancaman bagi pemegang saham
jika manajer bertindak untuk kepentingan sendiri, bukan untuk kepentingan
pemegang saham.
Perilaku manajer yang cenderung opportunis bisa menyebabkan
terjadinya agendy cost of equity (Jensen dan meckling, 1976). Manajer memilki
kecenderungan untuk menggunakan kelebihan keuntungan yang diperoleh
perusahaan untuk dikonsumsi dan digunakan untuk perilaku opportunis lainnya.
Karena menerima manfaat dari kegiatan yang mereka lakukan tetapi tidak mau
menanggung resiko dari biaya yang dikeluarkan, misalnya manajer cenderung
untuk menggunakan utang yang tinggi bukan untuk kepentingan mamaksimalkan
nilai perusahaan, tetapi lebih ditujukan untuk kepentingan opportunistic ereka.
Hal ini akan menimbulkan beban pada perusahaan sehngga bisa mengakibatkan
kebangkrutan.
Dalam teori keagenan dijelaskan bahwa kepentingan manajemen dan
kepentingan pemegang saham mungkin bertentangan. Hal tersebut disebabkan
manajer mengutamakan kepentingan pribadi, sebaliknya pemegang saham tidak
menyukai kepentingan pribadi manajer tersebut, karena pengeluaran tersebut
akan menambah cost perusahaan yang menyebabkan penurunan keuntungan
perusahaan dan penurunan dividen yang akan diterima.
Pemegang saham menginginkan agar cost tersebut dibiayaioleh utang,
tetapi manajer tidak menyukai dengan alasan bahwa utang mengandung resiko
yang tinggi. Perbedaan kepentingan seperti itulah maka timbul konflik yang
biasa disebut dengan konflik agensi.Konflik kepentingan antara manajer dengan
pemegang saham dapat diminimumkan dengan suatu mekanisme pengawasan
yang dapat mensejajarkan kepentingan yang terkait tersebut.Salah satu
mekanismenya adalah dengan meningkatkan kepentingan manajerial.
Kepemilikan manajerial dapat diukur dengan menggunakan indikator
persentase jumlah saham yang dimiliki pihak manajemen dari seluruh modal
saham perusahaan yang beredar.
Persentase kepemilikan manajerial yaitu persentase saham yang dimiliki
oleh manajemen dalam hal ini dewan komisaris dan direksi yang secara aktif
ikut dalam pengambilan keputusan.Dalam kaitannya dengan kepemilikan
manajerial, pengungkapan perusahaan biasanya dilakukan untuk mengendalikan
konflikkepentingan antara pemegang saham, kreditur, dan manajemen.Maka
dapat disimpulkan bahwa pengungkapan erat kaitannya dengan hubungan
keagenan antara manajemen dan pemilik serta antara pemilik (melalui
manajemen) dengankreditur.
Hal ini mengindikasikan bahwa manajemen sangat berperan penting
dalam setiap keputusan-keputusan yang akan diambil demi kelangsungan hidup
suatu perusahaan. Manajemenlah yang menentukan kebijakan-kebijakan
perusahaan agar tujuan perusahaan tercapai. Hasil kerja manajemen ini akan
dipertanggungjawabkan dan pertanggungjawaban ini dapat diungkapkan dalam
laporanlaporan keuangan perusahaan. Sehingga diperkirakan jumlah
kepemilikan saham manajerial akan mempengaruhi laporan
keuanganperusahaan.
Kualitas laba yang dilaporkan dapat dipengaruhi oleh kepemilikan saham
manajerial. Tekanan dari pasar modal menyebabkan perusahaan dengan
kepemilikan manajerial yang rendah akan memilih metode akuntansi yang
meningkatkan laba yang dilaporkan, yang sebenarnya tidak mencerminkan
keadaan ekonomi dari perusahaan yang bersangkutan (Boediono, 2005).
Menurut Jensen dan Meckling (1976) dan Morck et al. (1989) kepentingan
manajer dan pemegang saham dapat diselaraskan bila manajer memiliki saham
perusahaan yang lebihbesar.

Comments

Popular Posts