Leverage (skripsi, tesis, disertasi)
Leverage digambarkan untuk melihat sejauh mana asset perusahaan dibiayai
oleh hutang dibandingkan dengan modal sendiri (Weston dan Copeland, 1997).
Leverage dapat dipahami sebagai penaksir dari resiko yang melekat pada suatu
perusahaan. Artinya, leverage yang semakin besar menunjukkan risiko investasi yang
semakin besar pula. Perusahaan dengan rasio leverage yang rendah memiliki risiko
leverage yang lebih kecil. Sedangkan menurut Riyanto (2001) leverage dapat
didevinisikan sebagai penggunaan aktiva atau dana, dimana untuk penggunaan tersebut
perusahaan harus menutup biaya tetap atau membayar beban tetap.
Di dalam manajemen keuangan umumnya dikenal dua macam leverage, yaitu
leverage operasi (operating leverage) dan leverage keuangan (financial leverage).
Penggunaan kedua leverage ini dengan tujuan agar keuntungan yang diperoleh lebih
besar daripada biaya assets dan sumber dananya. Dengan demikian penggunaan
leverage akan meningkatkan keuntungan bagi pemegang saham. Sebaliknya leverage
juga dapat meningkatan resiko kerugian. Jika perusahaan mendapat keuntungan yang
lebih rendah dibandingkan dengan biaya tetapnya maka penggunaan leverage akan
menurunkan keuntugan pemegang saham.
a. Leverage Operasi (Operatig Leverage)
Leverage Operasi adalah sebagian penggunaan aktiva dengan biaya tetap dengan
harapan bahwa revenue atau penerimaan yang dihasilkan oleh pengguna aktiva itu akan
cukup untuk menutupi biaya tetap dan biaya variabel atau dengan kata lain yaitu suatu
cara untuk mengatur resiko usaha dari suatu perusahaan. Biaya tetap tersebut misalnya,
beban penyusutan, gedung dan peralatan kantor, biaya asuransi dan biaya lain yang
muncul dari penggunaan fasilitas manajemen. Biaya operasi tetap dikeluarkan agar
volume penjualan dapat menghasilan penerimaan yang lebih besar daripada seluruh
biaya opersi yang tetap dan variabel.
b. Laverage Keuangan (Financial Leerage)
Yaitu penggunaan sumber dana yang memiliki beban tetap dengan harapan akan
memberikan tambahan keuntungan yang lebih besar sehingga akan meningkatkan
keuntungan bagi pemegang saham atau memperbesar pendapatan per lembar saham,
dengan menunjukkan perubahan per lembar saham (Earning Per Share = EPS). Sebagai
akibat perubahan laba sebelum bunga dan pajak (Earing Before Interest and Tax =
EBIT). Namun disisi lain perusahaan harus mempertimbangkan adanya beban tetap
berupa beban bunga yang akan menyertai pokok pinjaman. Menurut Sartono (2001)
”Financial Leverage adalah penggunaan sumber dana yang memiliki beban tetap dengan
harapan bahwa akan memberikan tambahan keuntungan yang tersedia bagi pemegang
saham”. Sedangkan menurut Riyanto (2001) “Financial Leverage yaitu penggunaan
dana dengan beban tetap itu adalah dengan harapan untuk memperbesar pendapatan per
lembar saham”.
Apabila investor melihat sebuah perusahaan dengan asset yang tinggi namun
resiko leverage nya juga tinggi, maka akan berpikir dua kali untuk berinvestasi pada
perusahaan tersebut, karena dikhawatirkan asset tinggi tersebut di dapat dari hutang
yang akan meningkatkan risiko investasi apabila perusahaan tidak dapat melunasi
kewajibanya tepat waktu. Keputusan manajemen untuk berusaha menjaga agar rasio
leverage tidak bertambah tinggi mengacu pada pecking order theory menyatakan bahwa
perusahaan menyukai internal financing dan apabila pendanaan dari luar (eksternal
financing) diperlukan. Maka perusahaan akan menerbitkan sekuritas yang paling aman
terlebih dahulu, yaitu obligasi kemudian diikuti sekuritas yang berkarakteristik opsi
(seperti obligasi konversi) baru akhirnya apabila belum mencukupi perusahaan akan
menerbitkan saham. Pada intinya apabila perusahaan masih bisa mengusahakan sumber
pendanaan internal maka sumber pendanaan eksternal tidak akan diusahakan. Maka
dapat disimpulkan rasio leverage yang tinggi menyebabkan turunnya nilai perusahaan
(Weston dan Copeland, 1997)
Comments
Post a Comment