Teori Keagenen (Agency Theory) (skripsi, tesis, disertasi)
Teori agensi (Agency theory) merupakan basis teori yang mendasari
praktik bisnis perusahaan yang dipakai selama ini. Teori tersebut berakar dari
sinergi teori ekonomi, teori keputusan, sosiologi, dan teori organisasi. Prinsip
utama teori ini menyatakan adanya hubungan kerja antara pihak yang
memberi wewenang (principal) yaitu investor dengan pihak yang menerima
wewenang (agency) yaitu manajer, dalam bentuk kontrak kerja sama yang
disebut ”nexus of contract”. Ahmad Elqorni (2009).
Teori keagenan mengasumsikan bahwa semua individu bertindak atas
kepentingan mereka sendiri. Pemegang saham sebagai prinsipal diasumsikan
hanya tertarik kepada hasil keuangan yang bertambah atau investasi mereka di
dalam perusahaan. Sedangkan para agen diasumsikan menerima kepuasan
berupa kompensasi keuangan dan syarat-syarat yang menyertai dalam
hubungan tersebut.
Teori keagenan merupakan konsekuensi dari pemisahan fungsi kontrol
(manajemen) dengan fungsi kepemilikan (pemegang saham). Teori keagenan
terfokus pada hubungan antara dua pelaku ekonomi yang saling bertentangan
yaitu prinsipal (pemegang saham) dan agen (manajer). Konflik kepentingan
dalam perusahaan antara prinsipal dengan manajer yang disebut dengan
agency conflict disebabkan adanya hubungan keagenan atau
agencyrelationship.
Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak dalam satu atau lebih
orang (prinsipal) memerintah orang lain (agen) untuk melakukan suatu jasa
atau nama prinsipal serta memberi prinsipalnya. Walaupun tujuan dari
manajer dan pemegang saham sama, yaitu meningkatkan nilai perusahaan
melalui peningkatan kemakmuran pemegang saham, tetapi terkadang manajer
memiliki pemikiran lain yang seolah-olah dianggap bertentangan dengan
pemikiran pemegang saham Aryaningtyas (2009).
Teori agensi mengatakan bahwa manajemen laba disebabkan adanya
konflik kepentingan antara pemegang saham (principal) dengan pihak
manajemen (agent).
Teori agensi memiliki asumsi bahwa setiap pihak baik pihak principal
dan agent memiliki kepentingan masing-masing dan termotivasi untuk
mewujudkan kepentingannya sendiri sehingga menimbulkan suatu konflik.
Pemegang saham sebagai pihak principal mengadakan. kontrak dengan pihak
manajemen untuk memaksimumkan kesejahteraan dirinya dengan
profitabilitas yang selalu meningkat sehingga harga saham naik. Manajemen
sebagai agent termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan
ekonomi dan psikologisnya seperti dalam hal memperoleh investasi, pinjaman,
bonus maupun kontrak kompensasi
Comments
Post a Comment