Konflik Kerja Keluarga (Work Family Conflict) (skripsi,tesis,disertasi)

 


Work-Family Conflict adalah salah satu dari bentuk interrole
conflict tekanan atau ketidakseimbangan peran antara peran di
pekerjaan dengan peran didalam keluarga. Work family conflict dapat
didefinisikan sebagai bentuk konflik peran dimana tuntutan peran dari
pekerjaan dan keluarga secara mutual tidak dapat disejajarkan dalam
beberapa hal. Hal ini biasanya terjadi pada saat seseorang berusaha
memenuhi tuntutan perannya dalam pekerjaan dan usaha tersebut
dipengaruhi oleh kemampuan orang yang bersangkutan untuk
memenuhi tuntutan keluarganya atau sebaliknya, dimana pemenuhan
tuntutan peran dalam keluarga dipengaruhi oleh kemampuan orang
tersebut dalam memenuhi tuntutan pekerjaannya (Buhali dan
Margaretha, 2013).
Work-family conflict adalah konflik yang terjadi karena adanya
ketidakseimbangan peran antara tanggung jawab di tempat tinggal
dengan di tempat kerja. Asumsi yang terjadi adalah bahwa ada dua
tuntutan permintaan yang memiliki tingkatan yang sama tetapi tidak
dapat dilaksanakan seimbang dan berpotensi memunculkan
ketidaksesuaian fungsi dan ketidaknyamanan di kedua posisi tersebut.
Adanya ketidakseimbangan dan ketidaknyamanan ini akan
memunculkan persoalan kepauasan kerja bagi individu yang
bersangkutan (Febrianty, 2012).
Tuntutan pekerjaan berhubungan dengan tekanan yang berasal
dari beban kerja yang berlebihan dan waktu, seperti pekerjaan yang
harus diselesaikan terburu-buru dan deadline. Sedangkan tuntutan
keluarga berhubungan dengan waktu yang dibutuhkan untuk menangani
tugas-tugas rumah tangga dan menjaga anak. Tuntutan keluarga ini
ditentukan oleh besarnya keluarga, komposisi keluarga dan jumlah
anggota keluarga yang memiliki ketergantungan dengan anggota yang
lain. Pentingnya pengujian dari kedua sisi domain yang mereka sebut
dengan: work-family conflict (work family conflict) dan family-work
conflict (FWC). Hal ini karena keterhubungan antara satu tipe konflik
tidak berarti bahwa jenis konflik yang lain juga harus selalu
dihubungkan dengan hal tersebut. Sebagai contoh, work-family conflict
boleh jadi dihubungkan dengan komitmen organisasi tetapi hubungan
ini tidak berlaku untuk family-work conflict (Buhali dan Margaretha,
2013).
Dalam setiap organisasi, konflik lazim atau biasa ditemui.
Lebih-lebih dalam era modern ini yang ditandai dengan tingginya
tuntutan kebutuhan orang dan tekanan sosial ekonomi yang cukup berat
dan kompleks. Hal itu terjadi karena banyak orang dengan masing-
masing pemikiran dan pendapat dalam menghadapi kompleksitas
pekerjaan/permasalahan yang dihadapi organisasi. Bahkan, konflik juga
kadang-kadang muncul dari permasalahan individu yang berawal dari
permasalahan keluarga yang dibawa dalam organisasi kerja.
Permasalahan privat dan keluarga kemudian dapat berhimpit dengan
permasalahan organisasi, sehingga eskalasi konflik menjadi lebih besar
dan kompleksitas permasalahan menjadi luas dan rumit
penyelesaiannya (Sudarmanto, 2015).
Work-Family Conflict (work family conflict) adalah salah satu
dari bentuk interrole conflict yaitu tekanan atau ketidakseimbangan
peran antara peran dipekerjaan dengan peran didalam keluarga. Jam
kerja yang panjang dan beban kerja yang berat merupakan pertanda
langsung akan terjadinya konflik pekerjaan keluarga (work family
conflict), dikarenakan waktu dan upaya yang berlebihan dipakai untuk
bekerja mengakibatkan kurangnya waktu dan energi yang bisa
digunakan untuk melakukan aktivitas-aktivitas keluarga (Buhali dan
Margaretha, 2013).
Kepuasan kerja dipengaruhi oleh banyak faktor dan work-family
conflict berada dalam salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja
individu karyawan. Terjadinya perubahan demografi tenaga kerja
seperti peningkatan jumlah wanita bekerja dan pasangan yang keduanya
bekerja telah mendorong terjadinya konflik antara pekerjaan dan
kehidupan keluarga. Hal ini membuat banyak peneliti yang tertarik
untuk meneliti sebab dan pengaruh dari konflik pekerjaan keluarga
(work-family conflict) tersebut.
Salah satu jenis dari konflik adalah konflik antara atau dalam
peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan dalam keluarga atau
profesi (konflik peran/role). Kehadiran salah satu peran (pekerjaan)
akan menyebabkan kesulitan dalam memenuhi peran tuntutan peran
yang lain (keluarga), harapan orang lain terhadap berbagai peran yang
harus dilakukan seseorang dapat menimbulkan konflik. Konflik terjadi
apabila harapan peran mengakibatkan seseorang sulit membagi waktu
dan sulit untuk melaksanakan salah satu peran karena hadirnya peran
yang lain.
Konflik pekerjaan keluarga sebagai konflik peran yang terjadi
pada karyawan, dimana di satu sisi ia harus melakukan pekerjaan di
kantor dan di sisi lain harus memperhatikan keluarga secara utuh,
sehingga sulit membedakan antara pekerjaan mengganggu keluarga dan
keluarga mengganggu pekerjaan. Pekerjaan mengganggu keluarga,
artinya sebagian besar waktu dan perhatian dicurahkan untuk
melakukan pekerjaan sehingga kurang mempunyai waktu untuk
keluarga. Sebaliknya keluarga mengganggu pekerjaan berarti sebagian
besar waktu dan perhatiannya digunakan untuk menyelesaikan urusan
keluarga sehingga mengganggu pekerjaan. Konflik pekerjaan-keluarga
ini terjadi ketika kehidupan rumah seseorang. Jadi work family conflict
merupakan salah satu bentuk dari konflik peran dimana secara umum
dapat didefinisikan sebagai kemunculan stimulus dari dua tekanan
peran. Kehadiran salah satu peran akan menyebabkan kesulitan dalam
memenuhi tuntutan peran yang lain. Sehingga mengakibatkan individu
sulit membagi waktu dan sulit untuk melaksanakan salah satu peran
karena hadirnya peran yang lain (Buhali dan Margaretha, 2013).
Konflik pekerjaan-keluarga (Work-family conflict) sebagai
bentuk konflik peran di mana tuntutan peran pekerjaan dan keluarga
secara mutual tidak dapat disejajarkan dalam beberapa hal : “It is a
form of inter-role conflict in which thr role pressures from the work and
family domains are mutually noncompatible in some respect. That is,
participation in the work (family) role is made more difficult by virtue
of participation in the family (work) role”.
Hal ini biasanya terjadi pada saat seseorang berusaha memenuhi
tuntutan peran dalam pekerjaan dan usaha tersebut dipengaruhi oleh
kemampuan orang yang bersangkutan untuk memenuhi tuntutan
keluarganya, atau sebaliknya, dimana pemenuhan tuntutan peran dalam
keluarga dipengaruhi oleh kemampuan orang tersebut dalam memenuhi
tuntutan pekerjaannya. Tuntutan pekerjaan berhubungan dengan
tekanan yang berasal dari beban kerja yang berlebihan dan waktu
seperti pekerjaan yang harus diselesaikan terburu-buru dan deadline.
Sedangkan tuntutan keluarga berhubungan dengan waktu yang
dibutuhkan untuk menangani tugas-tugas rumah tangga. Tuntutan
keluarga ini ditentukan oleh besarnya keluarga, komposisi keluarga dan
jumlah anggota keluarga yang memiliki ketergantungan terhadap
anggota yang lain (Febrianty, 2012).
Permintaan pekerjaan didefinisikan sebagai komitmen sumber
daya yang diperlukan untuk memenuhi tanggung jawab pekerjaan,
sedangkan permintaan keluarga mengacu pada tanggung jawab
pemeliharaan dan perawatan anak di rumah. Karena terbatasnya sumber
daya, tuntutan yang lebih tinggi dalam satu peran menghasilkan lebih
sedikit sumber daya untuk peran lain, yang mungkin terkait dengan
work family conflict. Penelitian telah memberikan dukungan empiris
yang kuat untuk dampak negatif dari permintaan pekerjaan dan
keluarga permintaan tentang work family conflict. Ketika tuntutan
waktu dan energi di tempat kerja atau di rumah meningkat,
kemungkinan tuntutan-tuntutan itu mengganggu domain yang
berlawanan meningkat, yang mengarah ke work family conflict.
Misalnya, ketika karyawan sangat sibuk dengan tugas keluarga seperti
perawatan bayi baru lahir, renovasi rumah atau merawat anggota
keluarga yang sakit, mereka mengalami beban psikologis dan tantangan
fisik yang menguras waktu dan energi mereka dari sepenuhnya terlibat
dalam tugas-tugas pekerjaan. Karena meningkatnya tuntutan baik di
rumah maupun di tempat kerja yang mengganggu komitmen mereka
untuk memenuhi tanggung jawab mereka di peran lain, karyawan dapat
mengalami persepsi negatif tentang waktu dan kehilangan energi. Hal
ini dapat menyebabkan persepsi konflik yang timbul dari bentrokan
24
dalam alokasi sumber daya untuk menjaga keseimbangan yang baik
antara pekerjaan dan keluarga (Liao dan Lau, 2018).
Sebab-sebab munculnya konflik dalam suatu organisasi adalah
sebagai berikut (Ardana, dkk, 2012):
1. Masalah komunikasi. Karena salah pengertian berkenaan dengan
bahasa.
2. Masalah struktur organisasi. Adanya pertarungan kekuasaan
antardepartemen dengan kepentingan atau sistem penilaian yang
bertentangan atau persaingan.
3. Masalah pribadi. Karena tidak sesuainya tujuan atau nilai-nilai sosial
pribadi karyawan dengan perilaku yang dipesankan pada jabatan
mereka dan perbedaan dalam nilai-nilai persepsi.
Work-family conflict adalah konflik yang terjadi karena adanya
ketidakseimbangan peran antara tanggung jawab di tempat tinggal
dengan di tempat kerja (Febrianty, 2012). Indikator work family conflict
dalam penelitian ini meliputi :
1. Tuntutan pekerjaan mengganggu kehidupan keluarga karyawan.
2. Tingginya waktu pekerjaan membuat karyawan sulit untuk
memenuhi tanggung jawab keluarga.
3. Hal-hal yang ingin karyawan lakukan di rumah tidak bisa dilakukan
karena tuntutan pekerjaan.
4. Pekerjaan karyawan menghasilkan keletihan yang membuatnya sulit
untuk memenuhi tugas-tugas keluarga.
5. Dikarenakan pekerjaan, membuat karyawan harus melakukan
perubahan untuk kegiatan keluarga.
6. Keluarga kurang memberi dukungan terhadap pekerjaannya

Comments

Popular Posts