Dimensi Modal Psikologis

 


Definisi modal psikologis yang dibuat oleh Luthans et al. (2007b)
menjelaskan karakteristik perkembangan secara positif dari kondisi psikologis
seseorang. Karakteristik tersebut merupakan penjabaran secara singkat dari dimensi
yang digunakan dalam pengukuran modal psikologis, yaitu kepercayaan diri
(efikasi diri), optimisme, harapan, dan resiliensi. Sedangkan pada penelitian
sebelumnya yang dilakukan oleh Hobbfol (2002), dimensi kepercayaan diri,
harapan, optimisme, dan karakteristik seseorang dalam mengejar tujuan digunakan
untuk mengukur modal psikologis seseorang. Sementara itu, Khatri (2017)
memberikan dimensi lain dalam mengukur modal psikologis, yaitu kepercayaan
diri atau efikasi diri atau kepercayaan diri, harapan, optimisme, kesejahteraan
subjektif, kecerdasan emosional, dan resiliensi. Kesimpulnnya, modal psikologis
dapat diukur dengan empat dimensi yaitu efikasi diri, harapan, optimisme, dan
resiliensi (Hobbfol, 2002; Luthans et,.al, 2007b; Khatri, 2017)
Efikasi diri menurut Bandura (1997) adalah penilaian seseorang mengenai
kemampuannya dalam mengatur dan menjalankan tindakan untuk mencapai 
tujuannya serta mengukur level tingkatan, keumuman, dan kekuatan kemampuan
tersebut dalam setiap kegiatan dan konteks. Stajkovic dan Luthans (1998) memliki
definisi yang serupa, yaitu kepercayaan seseorang mengenai kemampuannya dalam
menjalankan motivasi, sumber daya kognitif, dan meakukan tindakan yang
diperlukan untuk melakukan tugas dalam suatu konteks tertentu. Selain itu, ada juga
pendapat dari Grenee (2018) yang mendefinisikan efikasi diri sebagai keyakinan
seseorang mengenai kemampuannya untuk berhasil menyelesaikan suatu tugas
yang diberikan. Kesimpulannya, efikasi diri merupakan kepercayaan seseorang
dalam menajalankan proses untuk mencapai tujuannya. Ketiga pendapat tersebut
memperlihatkan efikasi diri mencerminkan kepercayaan seseorang pada dirinya
sendiri untuk mengerahkan motivasi diri, menggunakan sumber daya kognitif yang
dimiliki, dan melakukan tindakan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.
Indikator pada dimensi ini diambil dari Stajkovic & Luthans (1998), yaitu
mengerahkan motivasi diri, menggunakan sumber daya kognitif yang dimiliki, dan
melakukan tindakan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Menurut Luthans et
al. (2007b), istilah efikasi digunakan untuk mewakili kepercayaan diri karena dalam
beberapa penelitian mengenai psikologis positif, kedua istilah tersebut menjelaskan
konteks yang sama. Luthans dan Youssef (2004) mengidentifikasi ciri-ciri orang
yang memiliki efikasi diri akan (1) memilih tugas yang menantang, (2) memperluas
motivasi dan usahanya untuk mencapai tujuan, dan (3) bertahaan saat dihadapkan
pada rintangan.
Optimisme dalam teori modal psikologi didefinisikan sebagai cara pandang
seseorang yang mengaitkan peristiwa positif dengan penyebab internal, permanen
dan meluas, serta mengaitkan peristiwa negatif dengan penyebab eksternal,
sementara, dan spesifik untuk suatu kejadian (Luthans dan Youssef, 2004). Carver,
Scheier, dan Segerstrom (2010) memiliki pendapat lain mengenai optimisme, yaitu
sikap yang mencerminkan sejauh mana seseorang secara umum memiliki harapan
baik bagi masa depannya. Sedangkan Stein dan Book (2011) mendefinisikan
optimisme menjadi kemampuan untuk melihat sisi baik dari kehidupan dan
mempertahankan sikap positif saat menghadapi kesulitan. Definisi yang
dikemukakan oleh ketiga ahli tersebut memiliki persamaan, yaitu melihat 
optimisme sebagai cara pandang seseorang terhadap suatu hal secara positif.
Kesimpulannya, optimisme dapat didefinisikan sebagai sikap positif yang
mencerminkan harapan baik bagi masa depan seseorang dengan mengaitkan
peristiwa positif pada faktor internal, permanen, dan universal. Dimensi ini terdiri
dari tiga indikator, yaitu personalization, permance, dan pervasive (Seligman
dalam Luthans & Youssef, 2004). Luthans et al. (2007b) menyatakan seseorang
yang optimis menganggap kejadian baik dalam hidup merupakan hasil dari
usahanya. Hal tersebut menyebabkan orang yang optimis akan menganggap
mereka memiliki kekuatan dan pengaruh untuk mendapatkan keinginannya,
sehingga mereka akan memiliki kemampuan untuk melihat secara positif dan
menginternalisasi hal-hal baik dalam hidupnya.
Luthans dan Youssef (2004) mendefinisikan harapan sebagai keadaan
motivasional yang didasari perencanaan dan tindakan yang dilakukan seseorang
untuk mencapai suatu hasil. Salah satu definisi harapan yang serupa adalah emosi
positif yang muncul meskipun terdapat ketidakpastian hasil (MacInnis & de Mello,
2005). Selain itu, Cetin dan Basim (2011) mendefinisikan harapan sebagai
keyakinan dalam menentukan tujuan yang signifikan serta proses dimana individu
mengatasi suatu hambatan. Kesimpulan dari ketiga definisi harapan adalaah proses
perencanaan dan tindakan yang muncul dari ketidakpastian hasil. Dimensi ini terdiri
dari dua dimensi, yaitu agency dan pathways (Snyder, et al., 1991). Luthans et al.
(2007b) menyatakan bahwa harapan pada karyawan merupakan sesuatu yang dapat
dikembangkan dengan melakukan delapan cara, yaitu: (1) menentukan tujuan yang
harus dicapai oleh karyawan, (2) membuat tujuan yang menantang dan sulit namun
masih dapat dicapai, (3) memecah tujuan jangka panjang dan sulit menjadi tujuan
yang lebih kecil dalam jangka yang lebih pendek, (4) memberikan kesempatan bagi
karyawan untuk turut andil dalam pengambilan keputusan, (5) sistem penghargaan
yang baik, (6) memberikan dukungan sumber daya bagi karyawan yang kesulitan
dalam mencapai tujuan, (7) menyelaraskan bakat dan kekuatan tiap karyawan untuk
menciptakan keselarasan strategis, dan (8) memberikan pelatihan kepada karyawan
untuk meningkatkan kemampuannya.

Comments

Popular Posts