Faktor-faktor belajar dengan regulasi diri
Boekaerts (1996) mengungkapkan bahwa banyak peneliti sepakat
bahwa faktor yang paling mendasar dari belajar dengan regulasi diri adalah
keinginan untuk mencapai tujuan. Atribut personal lain yang juga terlibat
dalam mempengaruhi belajar dengan regulasi diri antara lain kesadaran akan
penghargaan terhadap diri sendiri, keinginan untuk mencoba, komitmen,
manajemen waktu, kesadaran akan metakognitif, penggunaan strategi yang
efisien. Ada pula faktor-faktor yang memunculkan kemampuan belajar
dengan regulasi diri yang buruk antara lain impulsivitas, tujuan akademik
yang rendah, penghargaan diri yang rendah, kontrol yang buruk, serta
perilaku menghindar.
Menurut Bandura (Alwisol, 2010) ada dua faktor yang mempengaruhi
kemampuan belajar dengan regulasi diri, yaitu :
a. Faktor Eksternal
Faktor eksternal mempengaruhi belajar dengan regulasi diri dengan
dua cara, pertama, faktor eksternal memberi standar untuk mengevaluasi
tingkah laku. Faktor lingkungan berinteraksi dengan pengaruh-pengaruh
pribadi, membentuk standar evaluasi diri seseorang. Melalui orang tua dan
guru anak-anak belajar baik dan buruk, tingkah laku yang dikehendaki dan
tidak dihendaki. Melalui pengalaman berinteraksi dengan lingkungan yang
lebih luas anak kemudian mengembangkan standar yang akan dipakai
untuk menilai prestasi diri. Kedua, faktor eksternal mempengaruhi belajar
dengan regulasi diri dalam bentuk penguatan (reinforcement). Hadiah
intrinsik tidak selalu memberi kepuasan, orang membutuhkan insentif
yang berasal dari lingkungan eksternal. Standar tingkah laku dan
penguatan biasanya bekerja sama; ketika orang dapat mencapai standar
tingkah laku tertentu, perlu penguatan agar tingkah laku semacam itu
menjadi pilihan untuk dilakukan lagi.
b. Faktor Internal
Faktor eksternal berinteraksi dengan faktor internal dalam
pengaturan diri sendiri. Bandura mengemukakan tiga bentuk pengaruh
internal, yaitu :
1) Observasi diri (self observation)
Dilakukan berdasarkan faktor kualitas penampilan, kuantitas
penampilan, orisinal tingkah laku diri, dan seterusnya. Orang harus
mampu memonitor performansinya, walaupun tidak sempurna karena
orang cenderung memilih beberapa aspek dari tingkah lakunya dan
mengabaikan tingkah lakunya yang lain. Apa yang diobservasi
seseorang tergantung kepada minat dan konsep dirinya.
2) Proses penilaian atau mengadili tingkah laku (judgemental process)
Melihat kesesuaian tingkah laku dengan standar pribadi,
membandingkan tingkah laku dengan norma standar atau dengan
tingkah laku orang lain, menilai berdasarkan pentingnya suatu
aktivitas, dan memberi atribusi performansi.
3) Reaksi diri afektif (self response)
Berdasarkan pengamatan dan judgement, orang mengevaluasi
diri sendiri positif atau negatif, dan kemudian menghadiahi atau
menghukum dirinya sendiri. Bisa terjadi tidak muncul reaksi afektif,
karena fungsi kognitif membuat keseimbangan yang mempengaruhi
evaluasi positif atau negatif menjadi kurang bermakna secara
individual.
Comments
Post a Comment