Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosional
Seseorang dikatakan memiliki kecerdasan emosional, manakala ia memiliki
kemampuan untuk memotivasi diri, bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan
hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, dan menjaga agar beban
stress tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati dan berdoa (dalam Goleman,
2003).
Kemampuan diatas, tentunya tidak dapat dengan mudah ada ataupun terlabelkan pada
diri seseorang, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, yakni faktor internal dan faktor
eksternal. Menurut Goleman (2003) faktor internal yang mempengaruhi kecerdasan emosi
yaitu faktor diri yang dipengaruhi oleh keadaan otak emosional seseorang. Ketika bagianbagian otak yang memungkinkan merasakan emosi rusak, kemampuan rasional (intelek) tetap
utuh. Ketika seseorang dalam kondisi traumatis dengan rusaknya otak emosi, ia masih dapat
berbicara, menganalisa bahkan dapat memprediksi bagaimana ia harus bertindak dalam
situasi yang berbahaya. Tapi dalam keadaan tertentu ia tidak dapat berinteraksi dengan orang
lain secara layak sehingga rencana yang telah disusun tidak dapat dijalankan.
Hurlock (1997) mengatakan bahwa usia juga mempengaruhi kecerdasan emosional
seseorang, ia menyebutkan bahwa emosi yang kuat ada pada usia tertentu dan berkurang pada
usia yang lain. Misalnya, emosi marah sangat kuat ketika anak berusia 2-4 tahun, akan tetapi
seiring dengan bertambahnya usia, rasa marah tidak akan terlalu lama dan kemudian berubah
menjadi merajuk dan merenung, begitu pula dengan perasaan takut. Perbedaan ini tentu
secara otomatis akan mempengaruhi kecerdasan emosional seseorang.
Faktor lain yang mempengaruhi kecerdasan emosional adalah faktor eksternal yaitu
faktor yang datang dari luar. Diantara faktor tersebut antara lain :
a. Pengaruh keluarga
Goleman (2003) berpendapat bahwa lingkungan keluarga merupakan sekolah pertama
dalam mempelajari emosi. Menurutnya ada ratusan penelitian yang memperlihatkan
bahwa cara orang tua memperlakukan anak-anaknya berakibat mendalam bagi kehidupan
emosional anak karena anak-anak adalah murid yang pintar, sangat peka terhadap
transmisi emosi yang paling halus sekalipun dalam keluarga. Ia menegaskan bahwa
mengajarkan keterampilan emosi sangat penting untuk mempersiapkan belajar dan
hidup.
b. Lingkungan sekolah
Lingkungan kedua seorang anak setelah keluarga adalah sekolah, ia akan belajar berbagi,
belajar untuk bisa memahami orang lain, belajar untuk menerima dan berinteraksi
dengan siapa seorang anak banyak bergaul disekolah dan seberapa besar dukungan atau
informasi-informasi yang diperoleh dari sekolah, akan banyak mempengaruhi
kematangan dan kecerdasan emosional seseorang.
c. Lingkungan sosial masyarakat
Dukungan sosial dapat berupa perhatian, penghargaan, pujian, nasehat yang pada
dasarnya memberi kekuatan psikologis pada seseorang sehingga merasa kuat dan
membuatnya mampu menghadapi situasi-situasi sulit. Sebaliknya, banyak masalah
timbul karena ada sumbernya yang mempengaruhi yang terdapat dalam lingkungan
hidup seseorang.
d. Faktor budaya
Kebudayaan dapat memunculkan berbagai kekacauan mental dan maladjustment, jika
kebudayaan tersebut mengajarkan dan memberi contoh pada hal-hal yang negatif.
Budaya-budaya yang tidak sehat secara psikologis seperti budaya korupsi, budaya
minum-minuman keras ataupun budaya lain yang semisalnya, secara otomatis akan
mempengaruhi kecerdasan emosional seseorang
Comments
Post a Comment