Teori Dua Faktor (Two Factor Theory)

 Teori dua faktor (Two Factor Theory) pertama kali dikembangkan oleh Herzberg pada tahun 1959. Menurut teori dua faktor, orang dalam melaksanakan pekerjaannya dipengaruhi oleh dua faktor yang merupakan kebutuhan, yaitu faktor pemeliharaan (hygiene factor) dan faktor motivasi (motivation factor). Faktor pemeliharaan adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan hakikat manusia dalam memperoleh ketentraman, seperti gaji yang diperoleh, kondisi kerja, kebijaksanaan dan administrasi perusahaan, hubungan rekan kerja, dan kualitas supervisi. Hilangnya faktor pemeliharaan dapat menyebabkan timbulnya ketidakpuasan (dissatisfer) dan turnover karyawan akan meningkat (Andriani & Widiawati, 2017: 87). Faktor motivasi adalah faktor-faktor yang menyangkut dengan kebutuhan psikologis, seperti prestasi, pengakuan, pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, dan pengembangan potensi individu. Faktor motivasi ini berhubungan dengan penghargaan terhadap pribadi yang secara langsung berkaitan dengan pekerjaan (Andriani & Widiawati, 2017: 88). 

Herzberg menyatakan bahwa faktor yang menyebabkan kepuasan kerja pada dasarnya adalah faktor-faktor intrinsik, sedangkan faktor yang menyebabkan ketidakpuasan kerja adalah faktor ekstrinsik (Andjarwati, 2015: 50). Faktor pemeliharan kemungkinan lebih mudah diukur, dikendalikan, dan dikontrol daripada faktor motivasi. Motivasi lebih rumit dan subjektif sehingga terlalu sulit untuk diukur (Andjarwati, 2015: 49). Penelitian Herzberg menunjukan bahwa lawan dari kepuasan bukanlah ketidakpuasan, seperti yang selama ini diyakini. Jika menghilangkan karakteristik 24 yang tidak memuaskan dari suatu pekerjaan belum tentu membuat pekerjaan itu lebih memuaskan atau memotivasi. 
Faktor-faktor yang menyebabkan kepuasan kerja berbeda dari faktor-faktor yang menyebabkan ketidakpuasan kerja. Oleh karena itu, jika berusaha untuk menghilangkan faktor-faktor yang menyebabkan ketidakpuasan kerja atau faktor pemeliharaan (hygiene) kurang efektif dan karyawan tidak akan merasa puas atau termotivasi. Dalam usaha memotivasi karyawan, Herzberg menyarankan untuk menekankan motivator (Andriani & Widiawati, 2017: 89). Berdasarkan uraian di atas, maka teori dua faktor (Two Factor Theory) mendasari munculnya variabel kepuasan kerja. 

Comments

Popular Posts