Value Added Intellectual Coefficient (VAICTM)

 


Metode value added intellectual coefficient (VAICTM)
dikembangkan oleh oleh public pada tahun 1997 yang didesain untuk
menyajikan informasi tentang value creation efficiency dari aset berwujud
(tangible asset) dan aset tidak berwujud (intangible assets) yang dimiliki
perusahaan. (VAICTM) merupakan instrument untuk mengukur kinerja
intellectual capital perusahaan. Pendekatan ini relatif mudah dan sangat
mungkin untuk dilakukan, karena diskontruksi dari akun-akun dalam
laporan keuangan perusahaan (neraca, laba rugi).
Model ini dimulai dengan kemampuan perusahaan untuk
menciptakan value added (VA). value added adalah indikator paling
objektif untuk menilai keberhasilan bisnis dan menunjukkan kemampuan
perusahaan dalam penciptaan nilai (value creation). VA dihitung sebagai
selisih antara output dengan input Output (OUT) mempresentasikan revenue dan mencakup seluruh
produk dan jasa yang dijual di pasar, sendangkan input (IN) mencakup
seluruh beban yang digunakan dalam memperoleh revenue. Hal penting
dalam model ini adalah bahwa beban karyawan (labour expenses) tidak
termasuk dalam IN. Karena peran aktifnya dalam proses value creation,
intellectual potential (yang dipresentasikan dengan labour expenses) tidak
dihitung dengan biaya (cost) dan tidak masuk dalam komponen IN.
Karena itu, aspek kunci dalam model public adalah memperlakukkan
tenaga kerja sebagai entitas penciptaan nilai (value creating entity).
VA dipengaruhi oleh efisiensi dari human capital (HC) dan
structural capital (SC). hubungan lainnya dari VA adalah capital
employed (CE), yang dalam hal ini dilabeli dengan VACA. VACA adalah
indikator untuk VA yang diciptakan oleh satu unit dari physical capital.
Public (1998) mengasumsikan bahwa jika 1 unit CE menghasilkan
return yang lebih besar dari pada perusahaan yang lain, maka berarti
perusahaan tersebut lebih baik dalam memanfaatkan CE-nya. Dengan
demikian, pemanfaatan CE yang lebih baik merupakan bagiab dari IC
perusahaan.
Hubungan selanjutnya adalah VA dan HC. „value added Human
Capital’ (VAHU) menunjukkan berapa banyak VA dapat dihasilkan
dengan dana yang dikeluarkan untuk tenaga kerja. Hubungan antara VA
dan HC mengindikasikan kemampuan dari HC untuk menciptakan nilai di
dalam perusahaan. Konsisten dengan pandangan para penulis IC lainnya,
public berargumen bahwa total salary and wage costs adalah indikator
dari HC perusahaan.
Hubungan ketiga adalah “struktural capital coefficient” (STVA),
yang menunjukkan kontribusi struktural capital (SC) dalam penciptaan
nilai. STVA mengukur jumlah SC yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1
rupiah dari VA dan merupakan indikasi bagaimana keberhasilan SC
dalam penciptaan nilai. SC bukanlah ukuran yang independen
sebagaimana HC, ia dependen terhadap value creation, maka akan
semakin kecil kontrubusi SC dalam hal tersebut. Lebih lanjut public
menyatakan bahwa SC dalam hal tersebut. Lebih lanjut public
menyatakan bahwa SC adalah VA dikurangi HC, yang hal ini telah
diverifikasi melalui penelitian empiris pada sektor industri tradisional
(public, 2000).
Rasio terakhir adalah menghitung kemampuan intelektual
perusahaan dengan menjumlahkan koefisien-koefisien yang telah dihitung
sebelumnya.hasil penjumlahan tersebut diformulasikan dalam indikator
baru yang unik, yaitu VAIC

Comments

Popular Posts