Setiap manusia pasti memiliki konsep dirinya masing-masing. Menurut Julia T. Wood (dalam Wood, 2012), diri (self) adalah proses internalisasi dan bertindak dari perspektif sosial yang dipelajari melalui sebuah proses komunikasi. Anita Taylor (dalam Rakhmat, 2011) mengungkapkan, konsep diri adalah “all you think and feel about you, the entire complex of beliefs and attitudes you hold about yourself.” Menurut William D. Brooks (dalam Rakhmat, 2011), konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Pengetahuan tentang diri tidak dibawa dari lahir melainkan terus berkembang selama kita berkomunikasi dengan orang lain. Dengan berkomunikasi dengan orang lain, kita mulai melihat pandangan mereka mengenai dunia, mengenai sekitarnya dan pandangan mereka
mengenai kita. Lewat internalisasi itulah kita akhirnya melakukan dialog dengan diri kita sendiri (komunikasi intrapersonal) untuk menentukan siapa kita. Proses komunikasi dengan orang lain yang pertama adalah melalui sebuah keluarga. Di dalam keluarga seorang anak akan memperoleh pengetahuan tentang siapa kita dan bagaimana seharusnya kita bertindak. Di dalam keluarga pula, sebuah label pertama kali diberikan, tentang “kamu laki-laki” atau “kamu perempuan”, “kamu pintar” atau “ kamu bodoh” dan seterusnya. Gaya pengasuhan yang diberikan oleh anggota keluarga kepada seorang anak di dalam keluarga itupun akan memengaruhi pandangannya terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Sehingga hal-hal inilah yang menjadi awal mula seseorang akan terpengaruh untuk menentukan siapa dirinya dan bagaimana dia harus bertindak. Selain keluarga, pada fase berikutnya anak akan melakukan komunikasi dengan teman sebayanya. Biasanya dengan berinteraksi dengan teman sebayanya, seseorang akan terlibat dalam “perbandingan sosial” untuk membandingkan dirinya dengan orang lain untuk membentuk penilaian tentang kemampuan dan kekurangan atau untuk menentukan apakah dirinya memiliki ras, warna atau agama yang sama. Dengan mengukur kesamaan dan perbedaan ini, seseorang dapat memutuskan dengan mereka siapa cocok antara satu sama lain. pada umumnya, semua orang cenderung menyukai orang-orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya, namun interaksi yang terjalin akan memiskinkan pemahaman dia tentang dirinya dan dunia (Wood, 2012).
Comments
Post a Comment