Strategi Komunikasi Krisis

 Dalam menjalankan manajemen krisis atau disebut juga dengan komunikasi

krisis, hal tersebut karena dalam menajlankan manajemen krisis komunikasi
merupakan suatu hal yang sangat fundamental. Praktisi humas harus
mementingkan/memprioritaskan keselamatan masyarakat, oleh karena itu berikut
prinsip-prinsip dalam strategi komunikasi krisis. (Kriyantono. 2015:246)
1. Memiliki Tim Komunikasi
Memiliki tim komunikasi merupakan salah satu tindakan awal yang harus
dipersiapakan dalam membangun manajemen krisis. Perencanaan dalam
komunikasi krisis harus adanya koordinasi yang sejalan dan sesuai dengan
pembagian kerja masing-masing. Tim krisis tidak hanya mengambil
didalam organisasi, misal bisa dari pakar terkait, konsultan eksternal yang
sudah ahli dibidangnya. Tim krisis juga bisa saja di pimpin oleh kepala,
CEO, pimpinan, direktur atau bisa dari manajer humas
2. Kontak Media Massa
Pada saat krisis terjadi segera melakukan kontak dengan media massa
untuk memberikan informasi awal. Pemberian informasi awal yang
kredibel berujuan untuk mengurangi spekulasi khususnya di fase awalawal krisis terjadi. Spekulasi yang dibiarkan akan memunculkan rumor
yang memungkinkan lebih dipercaya oleh publik, mempengaruhi persepsi
dan dianggap sebagai suatu kebenaran. Media massa merupakan prioritas
dalam komunikasi krisis, karenanya segera membentuk media center dan
secepat mungkin melakukan konferesi pers. Sejak awal terjadinya krisis
diusahakan untuk mengkomunikasikan tiga informasi dasar, yaitu:
 Inilah yang terjadi (Penyebab terjadinya krisis termasuk siapa saja
yang menjadi korban)
 Inilah yang telah kami lakukan (Untuk mengatasi masalah dan
dampaknya)
 Inilah yang kami rasakan tentang peristiwa yang telah terkadi
(menyatakan kesedihan, prihatin, bela sungkawa, mohon maaf
terlepas itu benar ataupun salah)
3. Fakta-fakta
Melakukan kegiatan pengumpulan fakta-fakta dan mempersiapkan
pernyataan kepada masyarakat. Tujuan dari tahap ini adalah untuk
mengurangi resiko munculnya shok, kepanikan dan kekhawatiran
masyarakat, kepanikan dapat terjadi jika organisasi tidak memberikan
informasi sejak awal sehingga muncul spekulasi. Fakta-fakta harus
dikonfirmasi untuk memastikan tidak ada fakta palsu atau tidak ada
miscommunication.
4. Konferensi Pers Berkala
Menyelenggarakan kegiatan konferensi pers perlu dilakukan secara
berkala. Tujuannya untuk update informasi sehingga masyarakat tidak
kekurangan informasi serta mengcounter berita-berita atau publisitas
negatif di media
5. Tidak menutup informasi
Terkait dengan memberikan informasi secara regular kepada publik,
organisasi jangan memilih-milih informasi, informasi positif disampaikan
dan yang negatif disembunyikan. Meskipun negatif sekalipun harus
disampaikan jangan ditutup-tutupi. Kuncinya adalah cara menyampaikan
informasi negatif ini jangan sampai membuat reputasi organisasi
menurun.
6. Hati-hati Menyampaikan Informasi
Penyampaian informasi harus berhati-hati pada saat krisis terjadi dan
jangan sampai justru dapat menimbulkan permasalahan baru yang
membuat situasi menjadi semakin keruh, Jangan terburu-buru dalam
menyampaikan informasi. Dalam situasi krisis, desakan media sangat
besar, namun demikian hagan memberikan informasi sampai semua fakta
atau setidaknya kita benar-benar mempunyai fakta yang valid. Terkait
dengan prinsipnya mengutamakan kepentingan masyarakat, maka
organisasi meski berpikiran bahwa krisis membawa akibat yang tidak
menyenangkan bagi masyarakat. Karena itu ucapkan kata-kata
simpati/empati kepada mereka. Hindari menyalahkan pihak yang lain
terlebih dahulu karena masyarakat akan memberikan persepsi terhadap
organisasi lari dari tanggung jawab, tunggu sampai ada hasil investigasi
menyeluruh terkait sumber krisis.
7. Komunikasi Reputasi
Memproteksi perusahaan dari kritik-kritik spekulasi dimasyarakat, yang
biasanya muncul dari diskursus publik media massa. Bersifat dapat
dipercaya, keterbukaan dan komunikasi berbasis keseimbangan
kepentingan. Dengan secara berkala menyediakan dan menyebarkan
informasi tentang apa yang telah dilakukan, sedang dilakukan dan akan
dilakukan organisasi dalam mengatasi krisis, dan informasi ini tersedia
24jam. Strategi ini merupakan upaya komunikasi advocacy yaitu
perusahaan berkewajiban meluruskan informasi yang salah dan menjawab
kritikan
8. Satu suara
Memiliki sistem komunikasi “one gate communication” melalui sebuah
media center dengan satu orang juru bicara. Juru bicara tidak harus CEO,
biasanya praktisi humas.
9. Komunikasi empati
Wujud dari rasa empati: jangan menyebut nama korban sebelum
mengkonfirmuasi/ mengkontak anggota keluarganya. Hal ini juga untuk
mecegah kesalahan identifikasi korban. Kontak juga keluarga korban
untuk menanyakan apakah membolehkan anggota keluarga yang menjadi
korban untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan di liput oleh media
hingga pemakaman. Meskipun krisis bukan kesalahan organisasi, katakan
maaf dan keprihatinan serta kesedihan yang mendalam.
10. Banyak Saluran Komunikasi
Membuka saluran-saluran komunikasi dengan semua pihak yang
terdampak oleh krisis. Sering kali terjadi kebersinggungan antara aspek
komunikasi dan hukum. Komunikasi krisis mesti menggunakan
pendekatan komunikasi bukan pendektan hukum, meskipun tetap harus
berkonsultasi tentang dampak hukum dari suatu peristiwa.

Comments

Popular Posts