Citra Merek
Suatu perusahaan harus memikirkan tentang strategi yang tepat
untuk memperkenalkan produk atau jasanya ke pasar sehingga dapat
mempengaruhi konsumen untuk membeli produk atau jasa yang ditawarkan.
Strategi yang dapat digunakan menurut Foster (2016) adalah dengan
mengatur dan menciptakan sebuah citra merek dari produk atau jasa kepada
konsumen.
Menurut Yasmin (2017) “Brand image is the current view of the
customers about a brand”. Selain itu, Rahmi dan Nizam (2017) menjelaskan
bahwa citra merek adalah aspek yang mendorong konsumen untuk
mengonsumsi nilai lebih pada merek tertentu. Sebuah citra yang baik
membantu untuk menciptakan hubungan jangka panjang antara produk dan
pengguna akhir, hal ini merupakan cara yang sangat konstruktif untuk
membuat suatu merek lebih baik di pasar dengan tujuan untuk
meningkatkan penjualan produk.
Menurut Kotler dan Keller (2015) “Brand image are perception and
beliefs made by consumers, as reflected in the associate happens in
consumer memory”. Dalam hal ini konsumen mengembangkan berbagai
asosiasi dengan merek. Berdasarkan asosiasi ini, mereka membentuk citra
merek. Sebuah citra yang terbentuk tentang suatu merek berdasarkan
persepsi subyektif dari kumpulan asosiasi yang dimiliki konsumen tentang
merek tersebut (Yasmin, 2017).
Diallo et al (dalam Amron, 2018) menempatkan citra merek sebagai
pemahaman konsumen berdasarkan jenis merek terentu. Ketika semakin
tertanaman dalam ingatan konsumen, merek akan menjadi lebih dekat
dengan pilihan konsumen. Oleh karena itu, citra merek yang baik harus
diperkenalkan kepada konsumen secara terus menerus sehingga membentuk
memori yang melekat pada mereka. Kesan merek yang muncul dalam
ingatan konsumen meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah
konsumen untuk mengalami merek. Selanjutnya, ketika asosiasi merek
saling terkait kuat, maka citra merek yang terbentuk juga akan semakin kuat.
Berdasarkan beberapa definisi yang dijelaskan oleh beberapa teori
dan peneliti di atas, citra merek dapat diartikan sebagai kumpulan deskripsi
yang diperoleh konsumen atau persepsi yang terbentuk dalam benak
konsumen terhadap suatu merek tertentu. Menurut Kertajaya dalam
Harwani dan Pradita (2017) mengatakan bahwa citra merek dalam benak
konsumen dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
a. Komunikasi dari sumber lain yang tidak selalu sama dengan yang
dibawa oleh pemasar. Komunikasi dapat berasal dari konsumen lain,
distributor dan pesaing.
b. Pengalaman konsumen melalui percobaan yang dilakukan oleh mereka
dapat mengubah persepsi sebelumnya. Karena itu, banyaknya berbagai
persepsi yang muncul dapat membentuk total citra merek.
c. Pengembangan produk. Posisi merek terhadap produk cukup uni, yaitu
di satu sisi nilai produk dapat naik dengan merek. Di sisi lain, kinerja
juga membentuk citra yang tidak jelas dan tentu saja konsumen akan
membandingkan kinerja produk yang telah dirasakan dengan janji dari
merek tersebut melalui slogannya.
Comments
Post a Comment