Aspek-Aspek Kecerdasan Spiritual
Spiritual Qoutient “menyalakan” manusia seperti adanya
sekarang dan memberi kita potensi untuk tumbuh dan berubah,
serta menjalani lebih lanjut evolusi potensi manusiawi. Menurut
Zohar dan Marshall (2007), tanda-tanda kecerdasan spiritual
yang telah berkembang baik dalam diri seseorang mencakup halhal berikut:
1. Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan
aktif; dapat menempatkan diri dan menerima pendapat
orang lain secara terbuka.
2. Tingkat kesadaran diri yang tinggi; seperti kemampuan
autocritism dan mengerti tujuan serta visi hidup.
3. Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan
penderitaan; menjadikan penderitaan yang dialami sebagai
motivasi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik
dikemudian hari, serta tetap tersenyum dan bersikap
tenang.
4. Kemampuan untuk menghadapi melampaui rasa sakit;
kemampuan seseorang ketika mengalami kesakitan,
menyadari adanya keterbatasan dalam dirinya, dan lebih
mendekatkan diri dengan Tuhan, yakin bahwa hanya Tuhan
yang akan memberikan kesembuhan serta kemampuan
12
untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit ini ditandai
dengan munculnya sikap ikhlas dan pemaaf.
5. Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai; kualitas
hidup seseorang yang didasarkan pada tujuan hidup yang
pasti dan berpegang pada nilai-nilai yang mampu
mendorong untuk mencapai tujuan tersebut, seperti prinsip
dan pegangan hidup dan berpijak pada kebenaran.
6. Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu;
seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi
mengetahui bahwa ketika dia merugikan orang lain, maka
berarti ia merugikan dirinya sendiri sehingga mereka enggan
untuk melakukan kerugian yang tidak perlu. Keengganan
untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu misalnya,
menunda pekerjaan dan cenderung berpikir sebelum
bertindak.
7. Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai
hal (berpandangan “holistik”); mampu untuk berpikir secara
logis dan berlaku sesuai dengan norma sosial.
8. Kecenderungan nyata untuk bertanya “Mengapa?” atau
“Bagaimana jika?” untuk mencari jawaban-jawaban yang
mendasar, yakni memiliki kemampuan untuk berimajinasi
serta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
9. Menjadi apa yang disebut oleh para psikolog sebagai
“bidang mandiri” yaitu memiliki kemudahan untuk bekerja
melawan konvensi (adat istiadat dan kebiasaan sosial),
seperti mau memberi dan tidak mau menerima dan tidak
bergantung dengan orang lain.
Seseorang yang tinggi SQ-nya cenderung menjadi
seorang pemimpin yang penuh pengabdian yaitu seseorang yang
bertanggung jawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih
tinggi kepada orang lain dan memberikan petunjuk
penggunaannya. Dengan perkataan lain, seseorang yang
memberi inspirasi kepada orang lain.
Sedangkan Agustian (dalam Tasmara, 2001) aspek
kecerdasan spiritual adalah sebagai berikut.
1. Shiddiq. Dalam usaha untuk mencapai spiritual sifat shiddiq
seseorang harus melalui beberapa hal, diantaranya: jujur
pada diri sendiri, jujur pada orang lain, jujur terhadap Allah
dan menyebarkan salam.
2. Istiqomah. Sikap istiqomah dapat terlihat pada orang-orang
yakni: mempunyai tujuan, kreatif, menghargai waktu, dan
sabar.
3. Fathanah diartikan sebagai kemahiran, atau penguasan
terhadap bidang tertentu, pada hal makna fathanah merujuk
pada dimensi mental yang sangat mendasar dan
menyeluruh. Seorang yang memiliki sikap fathanah, tidak
hanya menguasai bidangnya saja, begitu juga dengan
bidang-bidang yang lain, keputusan-keputusan
menunjukkan warna kemahiran seorang profesional yang
didasarkan pada sikap moral atau akhlak yang luhur,
memiliki kebijaksanaan atau kearifan dalam berpikir dan
bertindak.
4. Amanah. Seperti halnya agama dan amanah yang dipikulkan
Allah menjadi titik awal dalam perjalanan manusia menuju
sebuah janji. Janji untuk dipertemukan dengan Allah
Subhanallahu Wa Ta’ala, dalam hal ini manusia
dipertemukan dengan dua dinding yang harus dihadapi
secara sama dan seimbang antara dinding jama’ah di dunia
dan dinding kewajiban insan diakhirat nanti. Sebagai
makhluk yang paling sempurna dari ciptaan Allah
Subhanallahu Wa Ta’ala dibandingkan dengan makhluk lain,
maka amanah salah satu sifat yang dimiliki oleh manusia
sebagai khalifah dimuka bumi.
5. Tabligh. Fitrah manusia sejak kelahirannya adalah
kebutuhan dirinya kepada orang lain. Kita tidak mungkin
dapat berkembang dan survive kecuali ada kehadiran orang
lain. Seorang Muslim tidak mungkin bersikap selfish, egois,
atau ananiyah “hanya mementingkan diri sendiri”. Mereka
yang memiliki sifat tabligh mampu membaca suasana hati
orang lain dan berbicara dengan kerangka pengalaman serta
lebih banyak belajar dari pengalaman dalam menghadapi
persoalan-persoalan hidup.
Selanjutnya dimensi kecerdasan spiritual menurut Amram
(dalam Wirawan, 2013) adalah sebagai berikut:
1. Kesadaran (Consciousness). Kesadaran dan pengetahuan
diri yang dikembangkan dan diperbaiki.
2. Doa (Grace) kehidupan menyandarkan kepada yang
disucikan, memanifestasikan kecintaan kepada, dan
kepercayaan dalam kehidupan.
3. Arti (Meaning) mengalami signifikansi dalam aktivitas seharihari melalui suatu perasaan tujuan dan suatu panggilan
untuk melayani, termasuk menghadapi kesakitan dan
penderitaan.
4. Transendens (Transcendence) pergi ke luar bagian dari diri
egoistis menjadi keseluruhan saling terhubung.
5. Kebenaran (Truth) hidup dengan penerimaan terbuka,
keingintahuan, dan cinta untuk semua ciptaan.
6. Ketentraman (Serenity), menyerahkan diri dengan damai
kepada diri (kebenaran, Tuhan, absolut, dan alam
sesungguhnya).
7. Diarahkan dari dalam (Inner Directedness). Kebebasan dari
dalam cenderung tindakan bijak yang bertanggung jawab.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang
dapat dikatakan memiliki kecerdasan spiritual jika mampu
mengetahui tujuan hidup dengan jelas, memiliki rasa empati,
menghormati dan mampu menjaga hubungan dengan orang
lain, memiliki sikap menerima dan mudah memaafkan orang lain
serta menyandarkan diri pada Tuhan dan selanjutnya peka
terhadap kebenaran yakni senantiasa mengarahkan diri perilaku
kebajikan.
Comments
Post a Comment