Dimensi Kualitas Produk
David Garvin dalam Lembang (2010:18) mengungkapkan adanya delapan
dimensi kualitas produk yang bias dimainkan oleh pemasar.
1. Dimensi performance atau kinerja produk
Kinerja merupakan karakteristik atau fungsi utama suatu produk. Ini
merupakan manfaat atau khasiat utama produk yang kita beli. Biasanya ini
menjadi pertimbangan pertama kali kita membeli produk.
2. Dimensi reliability atau keterandalan produk
Dimensi yang kedua adalah keterandalan, yaitu peluang suatu produk bebas
dari kegagalan saat menjalankan fungsinya.
3. Dimensi feature atau fitur produk
Dimensi ini merupakan karakteristik atau ciri-ciri tambahan yang
melengkapi manfaat dasar suatu produk. Fitur bersifat pilihan atau option
bagi konsumen. Kalau manfaat utama sudah standar, fitur seringkali
ditambahkan. Fitur bisa meningkatkan kualitas produk bila pesaing tidak
memiliki.
4. Dimensi durability atau daya tahan
Daya tahan menunjukkan usia produk, yaitu jumlah pemakaian suatu
produk sebelum produk itu digantikan atau rusak. Semakin lama daya
tahannya tentu semakin awet. Produk yang awet akan dipersepsikan lebih
berkualitas dibandingkan produk yang cepat habis atau cepat diganti.
5. Dimensi conformance atau kesesuaian
Ini adalah dimensi yang menjelaskan mengenai kesesuaian kinerja produk
dengan standar yang dinyatakan oleh suatu produk. Ini semacam janji yang
harus dipenuhi oleh produk. Produk yang memiliki kualitas dari dimensi ini
berarti sesuai standarnya.
6. Dimensi serviceability atau kemampuan diperbaiki
Sesuai dengan maknanya, disini kualitas produk ditentukan atas dasar
kemampuan diperbaiki yakni mudah, cepat, dan kompeten.
7. Dimensi aesthetic atau keindahan tampilan produk
Dimensi yang satu ini adalah menyangkut tampilan produk yang membuat
konsumen tertarik. Ini seringkali dilakukan dalam bentuk desain produk
ataupun kemasannya.
8. Dimensi perceived quality atau kualitas yang dirasakan
Dimensi terakhir yakni kualitas yang dirasakan adalah mengenai penilaian
konsumen terhadap citra, merek, atau iklan. Produk-produk yang bermerek
terkenal biasanya dipersepsikan lebih berkualitas dibanding merek-merek
yang tidak terdengar. Itulah sebabnya produk selalu berupaya membangun
mereknya sehingga memiliki brand equity yang tinggi.
Comments
Post a Comment