Faktor-faktor yang Mempengaruhi Spiritualitas

 


Menurut Taylor, Lillis & Le Mone (1997 dalam Hamid, 2008), dan
Craven & Himle (1996), menjabarkan faktor penting yang dapat
mempengaruhi spiritualitas seseorang adalah:
a. Tahap perkembangan
Berdasarkan hasil penelitian terhadap anak-anak dengan empat
agama yang berbeda ditemukan bahwa mereka mempunyai
persepsi tentang Tuhan dan bentuk sembahyang yang berbeda
menurut usia, seks, agama, dan kepribadian anak. Diuraikan
persepsi anak tentang Tuhan mencakup hal-hal: gambaran
tentang Tuhan yang bekerja melalui kedekatan dengan manusia
dan saling keterikatan dengan kehidupan; mempercayai bahwa
Tuhan terlibat dalam perubahan dan pertumbuhan diri serta
transformasi yang membuat dunia tetap segar, penuh kehidupan,
dan berarti; meyakini Tuhan mempunyai kekuatan dan merasa
takut menghadapi kekuasaan Tuhan; gambaran cahaya/sinar.
Bayi dan todler (0-2 tahun): tahap awal perkembangan spiritual
adalah rasa percaya yang mengasuh yang sejalan dengan
perkembangan rasa aman dan dalam hubungan interpersonal.
Bayi dan todler belum memiliki rasa salah dan benar serta
keyakinan spiritual. Mereka mulai meniru kegiatan ritual tanpa
mengerti arti kegiatan yang dilakukan. Usia pra sekolah meniru
apa yang mereka lihat bukan yang dikatakan orang lain.
Menurut Kozier, Erb, Blais, dan Wilkinson (1995 dalam hamid,
2008) pada usia prasekolah ini metode pendidikan spiritual yang
paling efektif adalah memberikan doktrinasi dan memberikan
kesempatan kepada mereka untuk memilih saranya. Usia
sekolah mengharapkan Tuhan menjawab doanya, yang salah
akan dihukum dan yang baik akan diberikan hadiah. Pada masa
prapubertas, anak sering mengalami kekecewaan karena mereka
menyadari bahwa doa tidak selalu dijawab menggunakan cara
mereka dan mulai mencari alasan tanpa mau menerima
keyakinan begitu saja. Pada masa remaja, mereka
membandingkan standar orang tua mereka dengan orang tua lain
dan menetapkan standar yang akan di integrasika dalam
perilakunya. Kelompok usia dewasa muda dihadapkan pada
pertanyaan bersifat keagamaan dari anaknya akan menyadari
apa yang pernah diajarkan kepadanya pada masa kanak-kanak
dahulu, lebih dapat diterima pada masa dewasa daripada waktu
remaja dan masukan dari orang tua tersebut dipakai untuk
mendidik anaknya. Usia pertengahan dan lansia lebih banyak
waktu untuk kegiatan agama dan berusaha unutk mengerti nilai
agama yang diyakini generasi muda.
b. Keluarga
Peran orang tua sangat menentukan perkembangan spiritualitas
anak. Anak mempelajari mengenai Tuhan, kehidupan, dan diri
sendiri dari perilaku orang tua mereka. Oleh karena keluarga
merupakan lingkungan terdekat dan pengalaman pertama anak
dalam mempersepsikan kehidupan di dunia, pandangan anak
pada umumnya diwarnai oleh pengalaman mereka dalam
berhubungan dengan orang tua dan saudaranya.
c. Latar belakang etnik dan budaya
Sikap, keyakinan, dan nilai dipengaruhi oleh latar belakang
etnik dan sosial budaya. Pada umumnya. Seseorang akan
mengikuti tradisi agama dan spiritual keluarga. Anak belajar
pentingnya menjalankan kegiatan agama, termasuk nilai moral
dari hubungan keluarga dan peran serta dalam berbagai kegiatan
keagamaan.
d. Pengalaman hidup sebelumnya
Pengalaman hidup baik yang positif maupun negatif dapat
mempengaruhi spiritualitas seseorang. Pengalaman hidup yang
menyenangkan seperti pernikahan, pelantikan kelulusan,
kenaikan pangkat/jabatan dapat menimbulkan perasaan
bersyukur kepada Tuhan, tetapi ada juga merasa tidak perlu.
Peristiwa dalam kehidupan sering dianggap sebagai suatu
cobaan yang diberikan Tuhan untuk menguji kekuatan iman.
Pada saat ini, kebutuhan spiritual akan meningkat yang
memerlukan kedalaman spiritual dan kemampuan koping untuk
memenuhinya.
e. Krisis dan perubahan
Krisis dan perubahan dapat menguatkan kedlaman spiritual
seseorang (Toth, 1992) dan Craven & Hirnle (1996). Krisis
sering ketika seseorang menghadapi penyakit, penderitaan,
proses penuaan, kehilangan, dan bahkan kematian khususnya
pada klien dengan penyakit terminal. Perubahan dalam
kehidupan dan krisis yang dihadapi tersebut merupakan
pengalaman spiritual selain pengalaman yang bersifat fisik dan
emosional.
f. Terpisah dari ikatan spiritual
Menderita sakit terutama yang bersifat akut, sering membuat
individu merasa terisolasi dan kehilangan kebebasan pribadi dan
sisitem dukungan sosial. Kebiasaan hidup yang berubah antara
lain tidak dapat menghadiri acara resmi, melakukan kegiatan
keagamaan, tidak dapat berkumpul dengan keluarga atau teman
dekat yang biasa memberikan dukungan setiap saat yang
diinginkan. Terpisahnya klien dari ikatan spiritual dapat
beresiko terjadi perubahan fungsi spiritualnya.
g. Isu moral terkait dengan terapi
Pada kebanyakan agama, proses penyembuhan dianggap sebagai
cara Tuhan unutk menunjukkan kebesarannya walaupun ada
yang menolak intervensi pengobatan. Konflik antara jenis terapi
dengan keyakinan agama sering dialami oleh klien dan tenaga
kesehatan.

Comments

Popular Posts