Indikator Resource Based View

 


Resource-Based View (RBV) telah menjadi salah satu diantara banyak
teori yang paling berpengaruh dalam sejarah teori manajemen, terutama dalam
teori manajemen strategik. Indikator untuk mengukur strategi RBV terdiri dari
dua indikator yaitu: sumberdaya dan kapabilitas, (Hitt, et al., 2001). Secara
umum, RBV berfokus pada pemahaman mengenai potensi sumberdaya dan
kapabilitas organisasi (Coulter, 2002:37). Menurut De wit, Meyer dalam Taufiq
Amir (2011:86) Adapun tipe-tipe sumberdaya adalah sebagai berikut:
a. Sumber daya berwujud (tangible) Sumber daya berwujud adalah segala
sesuatu yang tersedia di perusahaan yang secara fisik dapat diamati
(disentuh), seperti bangunan, dan uang.
b. Sumber daya tidak berwujud (intangible) Sumber daya nirwujud tidak
dapat disentuh, tapi sebagian besar dikerjakan oleh karyawan di
organisasi, sumber daya yang tersedia di organisasi yang muncul
akibat interaksi organisasi dengan lingkungan nya.
Menurut Thomson dan Strickland dalam Sampurno (2011) menjelaskan,
untuk menganalisis kekuatan dan kapabilitas sumber daya perusahaan, aspek –
aspek yang perlu mendapat perhatian antara lain adalah :
a) Keterampilan atau keahlian Mencakup anatara lain kekuatan dalam
keahlian, layanan prima, iklan yang unik. Ketrampilan dan keahlian ini
perlu diproteksi oleh perusahaan sehingga tidak mudah ditiru oleh
kompetitor.
b) Aset fisik yang bernilai Mencakup antara lain fasilitas produksi dengan
peralatan yang baik, fasilitas distribusi yang luas, network dan sistem
informasi, nilai dan norma sistem manajerial, sistem teknis berbasis
pengetahuan dan keterampilan.
c) Aset sumber daya manusia Mencakup antara lain pekerja yang
berpengalaman dan capable, pekerja yang berbakat di area kunci,
pekerja yang enerjik dan bermotivasi tinggi. Dalam konteks ini perlu
diperhatikan apakah perusahaan memberikan peluang yang memadai
bagi karyawan untuk meningkatkan kapabilitasnya.
d) Aset organisasi yang bernilai Sistem kontrol yang berkualitas, sistem
tekhnologi yang mumpuni, aset organisasi ini sangat penting karena
berkaitan dengan kecepatan perusahaan dalam menengarai
permasalahan yang telah dan yang akan dihadapi untuk kemudian
mengambil keputusan yang tepat dan cepat.
e) Kapabilitas bersaing Mencakup antara lain kemampuan perusahaan
dalam waktu relatif pendek meluncurkan produk baru, kemitraan yang
kuat dengan pemasok kunci, dan yang terpenting ialah merespons
perubahan yang terjadi pada kondisi pasar dan kemampuan yang
terlatih baik dalam melayani pelanggan.
f) Aliansi dan kerjasama Kolaborasi kemitraan dengan pemasok dan
pemasar dapat memperkuat daya saing perusahaan. Hubungan
perusahaan dengan pemasok dan pemasar sangat strategis karena
dengan kemitraan yang baik dan saling menguntungkan akan dapat
menciptakan keunggulan bersaing

Comments

Popular Posts