Kritik Terhadap Resource Based View Theory

 


Pendapat Barney (1991) tentang sumber daya organisasional
yang bernilai dan langka dapat digunakan sebagai sumber
keunggulan kompetitif mendapatkan kritikan dari Priem (2001)
karena definisi dari Barney (1991) tidak dapat diuji secara empirik.
Priem dan Butler (2001) menekankan pada 4 hal, yaitu : (1)
Resource Based View Theory yang dikembangkan Barney (1991)
merupakan teori tautologis, (2) kurang berkembang pada pasar
produk, (3) konfigurasi sumber daya yang berbeda dapat
menghasilkan nilai yang sama pada perusahaan sehingga bukan
menjadi keunggulan kompetitif perusahaan, dan (4) teori yang
dikembangkan oleh Barney (1991) memiliki implikasi preskriptif
managerial yang terbatas.
Priem dan Butler (2001) berpendapat bahwa jika sumber daya
yang bernilai dapat didefinisikan sebagai sumber daya untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas, dan keunggulan kompetitif
merupakan pencapaian peningkatan efisiensi dan efektivitas, maka
hal ini merupakan tautologis. Oleh karena itu karakteristik –
karakteristik sumber daya dan outcome harus dirancang secara
faktual. Oleh karena itu Priem dan Butler (2001) mengemukakan
bahwa Resource Based View (RBV) merupakan teori yang
dikembangkan bukan untuk keunggulan kompetitif yang
berkelanjutan. Hal ini menjadi tantangan RBV untuk dikembangkan
sebagai teori yang dapat menjelaskan bagaimana nilai dapat
diciptakan sehingga dapat menghasilkan nilai yang berkelanjutan.
Kritikan dari Priem dan Butler (2001) ini kemudian dibantah
oleh Barney (2001) melalui pengujian bagi tiap kompenen teori
berbasis sumber daya adalah terukur, sehingga bisa menghasilkan
proposisi yang teruji. Adapun pengukuran terhadap RBV teori
meliputi : (1) pengukuran nilai, (2) pengukuran kelangkaan, (3)
pengukuran imitabilitas, (4) uji empiris RBV dan, (5) equafinalitas
RBV.
Brahma dan Chakraborty (2011) berpendapat bahwa terlepas
dari berbagai kritikan, maka RBV dapat diakui secara luas dalam
studi manajemen strategik karena kerangka kerja RBV ini
didiskusikan dalam berbagai pandangan guna pengembangan ilmu
manajemen. Namun RBV bukan menjadi jaminan sebagai kerangka
kerja pencapaian keunggulan kompetitif organisasi.
Lado et.al. (2006) berpendapat bahwa paradoks dari teori
RBV adalah hal yang logis dan peneliti dapat melakukan studi untuk
memberikan tambahan pemahaman terhadap teori RBV. Barney
(1997) mengemukakan bahwa kerangka kerja RBV akan
menghasilkan keunggulan kompetitif apabila organisasi dapat
mengelola struktur, sistem kontrol dan kebijakan kompensasi
sebagai upaya untuk menggali sumber daya potensial organisasi.
Selain itu, Teece et.al. (1997) mengemukakan bahwa konsep
tentang kapabilitas dinamis dapat digunakan untuk menjelaskan
bagaimana mengkombinasikan kompetensi dan sumber daya
sehingga dapat dikembangkan, dialokasikan dan dipelihara.
Kapabilitas dinamis merupakan kemampuan organisasi untuk
mengintegrasikan, membangun dan merancang kembali kompetensi
internal dan eksternal untuk menghadapi perubahan lingkungan yang
cepat.

Comments

Popular Posts