Pengertian Kecerdasan Spiritual

 


Secara konseptual kecerdasan spiritual terdiri atas
gabungan kata “kecerdasan” dan “spiritual”. Intelegensi
(kecerdasan) dalam bahasa Inggris disebut Intellegence dan
bahasa Arab disebut al-adzaka menurut arti bahasa adalah
pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti,
kemampuan (al-qudrah) dalam memahami segala sesuatu
secara cepat dan sempurna (Ramayulis, 2002).
Sedangkan Chaplin (2014) mengemukakan bahwa
Intellegence (inteligensi) adalah kemampuan menghadapi dan
menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif;
kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif;
kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan
cepat sekali. Ketiga perumusan tersebut terikat satu sama lain,
ketiganya hanya menekankan aspek-aspek yang berbeda dari
prosesnya.
Adapun makna spiritual, spiritualitas, dan spiritualisme
mengacu kepada kosakata Latin spirit atau spiritus yang berarti
nafas. Adapun kerja spirare yang berarti untuk bernafas.
Berangkat dari pengertian etiomologis ini, maka untuk hidup
adalah untuk bernafas, dan memiliki nafas artinya memiliki spirit.
Spirit dapat juga diartikan kehidupan, nyawa, jiwa, dan nafas
(Jallaluddin, 2012). Dalam buku spiritual Capital, Zohar dan
Marshall (2005) mengatakan bahwa spiritual berasal dari bahasa
latin Spiritus yang berarti prinsip yang memfasilitasi suatu
organisme, bisa juga dari bahasa Latin sapienta (sophia dalam
bahasa Yunani) yang berarti kearifan kecerdasan kearifan
(wisdom intellegence).
Terlepas dari pemaknaan “spiritual”, untuk lebih
memfokuskan pembahasan tentang kecerdasan spiritual (secara
komprehensif, penulis akan mengulas beberapa definisi Spiritual
Quotient (SQ) menurut beberapa para ahli yakni; Emmons
(dalam Wirawan, 2013) menyatakan bahwa kecerdasan spiritual
adalah kerangka untuk mengidentifikasi dan mengorganisir
keterampilan dan kemampuan yang diperlukan untuk
mempergunakan spiritualitas. Lebih lanjut Vauhan (dalam
Wirawan, 2013) mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai
kapasitas untuk memahami secara mendalam pernyataanpernyataan eksistensial dan berwawasan kesadaran multi level.
Sementara Nggermanto mengutip pendapat Khavari
bahwa kecerdasan spiritual adalah fakultas dari dimensi
nonmaterial kita–ruh manusia. Seperti dua bentuk kecerdasan
lainnya, kecerdasan spiritual dapat ditingkatkan dan juga
diturunkan. Akan tetapi, kemampuannya untuk ditingkatkan
tampaknya tidak terbatas (Wahab & Umiarso, 2016). Kemudian,
Agustian (2001) menyebutkan bahwa SQ adalah kemampuan
untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan
kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat
fitrah, menuju manusia yang seutuhnya (hanif) dan memiliki
pola pemikiran tauhidi (integralistik), serta berprinsip “hanya
karena Allah”. Sebagaimana firman Allah Subhanallahu Wa Ta’ala
dalam Al-Qur’an menjelaskan bahwa:
Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama
Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah
Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia
tidak mengetahui (Q.S. Ar-Rum (30) : 30).
Pada ayat ini Allah memerintahkan untuk mengikhlaskan
ibadah kepada Allah dan karena-Nya dalam semua keadaan, dan
memerintahkan untuk menegakkan agama-Nya. Allah sebut
“Wajah” secara khusus, karena dengan menghadapnya wajah
maka yang lain ikut menghadap (seperti hati dan anggota
badan). Mengarahkan hati, niat dan badan untuk menegakkan
syari’at Islam yang tampak, seperti shalat, zakat, puasa, haji,
dan sebagainya. Yang diperintahkan itu adalah fitrah Allah. Oleh
karena itu, barang siapa yang keluar dari fitrah ini, disebabkan
pengaruh luar yang datang kepada fitrah itu sehingga
merusaknya (Zuhaili, 2012).

Comments

Popular Posts