Perbedaan Kecerdasan Spiritual
Zohar dan Marshall (dalam Desmita, 2005) secara implisit
menjawab bahwa SQ merupakan suatu kemampuan yang sama
tuanya dengan manusia. Untuk mengetahui secara pasti proses
perkembangan SQ dalam setiap tahap perkembangan manusia,
belum tersedia data penelitian yang dapat dijadikan pedoman.
Hal ini dapat dipahami, karena SQ merupakan konsep baru
dalam ilmu psikologi. Meskipun demikian, yang pasti anak-anak
telah memiliki dasar-dasar kemampuan SQ yang dibawanya
sejak lahir.
Seperti penelitian yang dilakukan oleh Harold G. Koenig
dan kawan-kawan yang telah dipublikasikan Oxford University
Press dalam bentuk buku berjudul Handbook of Religion and
Health. Penelitian yang mereka lakukan menemukan bahwa di
setiap tingkatan pendidikan dan usia, orang yang pergi ke
tempat ibadah (masjid, gereja, vihara atau yang lain
sebagainya), berdoa dan membaca kitab suci secara rutin,
ternyata hidup lebih lama sekitar tujuh hingga 14 tahun dan
memiliki kesehatan fisik yang lebih baik dibandingkan dengan
orang yang tidak menjalankan ritual keagamaan (Wahab &
Umiarso, 2016).
Jika kita kaitkan dengan sejumlah penelitian yang telah
ada bahwa remaja yang terlibat dalam kegiatan keagamaan
cenderung berpartisipasi dalam pembelajaran pelayanan
dibanding remaja yang tidak terlibat dalam keagamaan. Siswa
yang berpartisipasi dalam kelompok keagamaan, mendiskusikan
ajaran agama dan merasa pentingnya agama dalam membentuk
kehidupan sehari-hari cenderung memiliki tingkat kecerdasan
spiritual yang berbeda lebih baik dibandingkan dengan siswa
yang pasif dalam mempelajari ajaran agama dan cenderung
acuh terhadap perintah agama. Selain itu, remaja yang terlibat
dalam kegiatan keagamaan cenderung berpartisipasi dalam
pembelajaran pelayanan dibandingkan remaja yang tidak terlibat
dalam keagamaan (Santrock, 2012).
Berdasarkan beberapa penelitian di atas dapat
disimpulkan bahwa setiap orang diciptakan dengan dasar
kemampuan SQ yang sama yang dibawa sejak lahir. Banyak hal
yang menjadi pemicu berbedanya kecerdasan setiap orang yakni
adanya faktor pembinaan orangtua, keluarga, kondisi
(lingkungan), ideologi, dan sebagainya
Comments
Post a Comment