Tingkat Spiritual
Menurut Hasan, (2006) dalam Rani, (2011), tingkat spiritualitas manusia ada
tujuh tingkatan dari yang bersifat egoistik maupun yang suci secara spiritual, yang dinilai
bukan oleh manusia, namun langsung oleh Allah SWT, yaitu:
1. Nafs Ammarah
Pada tahap ini, orang yang nafsunya didominasi godaan yang mengarah pada
kejahatan. Pada tahap ini orang yang tidak dapat mengontrol dirinya dan tidak memiliki
moralitas atau rasa kasih. Dendam, kemarahan, ketamakan, gairah seksual, dan iri hati
adalah sifat seseorang yang muncul pada tahap ini. Pada tahap ini kesadaran dan akal
manusia dikalahkan oleh hawa nafsu.
2. Nafs Lawwamah
Orang yang berada pada tahap ini mulai memiliki kesadaran terhadap perilakuperilakunya dan dapat membedakan yang baik maupun benar, dan menyesali kesalahankesalahannya. Akan tetapi masih belum ada kemampuan untuk mengubah gaya
hidupnya. Sebagai langkah awal, mencoba untuk mengikuti kewajiban agamanya, seperti
sholat, berpuasa, membayar zakat dan mencoba berperilaku baik. Nafsu manusia selalu
mengajak hal-hal dalam kejahatan maupun perilaku keji. Pada tahap ini, ada tiga hal yang
dapat menjadi bahaya, yaitu kemunafikan, kesombongan dan kemarahan. Mereka tidak
akan bisa bebas dari godaan setiap kali beraktifitas.
3. Nafs Mulhiman (The Inspireda Self)
Pada tahap ini, seseorang akan merasakan ketulusan dalam beribadah yang benarbenar termotivasi dari cinta dan kasih sayang, serta adanya pengabdian dan nilai-nilai
moral. Tahap ini merupakan dari awal praktik sufisme seseorang, meskipun seseorang
belum tentu terbebas dari keinginan maupun ego pada tahap ini, namun pada tahap ini
motivasi dan pengalaman spiritual terdahulu dapat mengurangi untuk pertama kalinya.
Pada tahap ini adalah kelembutan, kasih sayang, kreativitas dan perilaku tindakan moral
merupakan perilaku yang umum. Secara keseluruhan orang yang berada pada tahap ini,
memiliki emosi yang matang dan menghargai serta dihargai orang.
4. Nafs Muthma’innah
Pada tahap ini, seseorang merasakan kedamaian dalam hidupnya serta pergolakan
pada tahap awal telah lewat. Kebutuhan dan ikatan lama sudah tidak dibutuhkan oleh
seseorang. Pada tahap ini kepentingan seseorang mulai lenyap membuat lebih dekat
dengan TuhanNya. Pada tingkat ini seseorang akan membuat pikirannya terbuka,
bersyukur, dapat dipercaya, dan penuh kasih sayang. Ketika seseorang menerima segala
kesulitan maupun cobaan dihadapi dengan kesabaran dan ketakwaan, maupun ketika
seseorang mendapatkan sebuah kenikmatan dapat dikatakan seseorang telah mencapai
tingkat jiwa yang tenang. Dari segi perkembangan tahap ini memasuki dalam periode
transisi. Seseorang sudah mulai dapat melepaskan semua belenggu dalam dirinya
sebelumnya dan telah mulai melakukan integrasi kembali pada semua aspek universal
kehidupan.
Seseorang telah merasakan kedamaian, kebahagiaan, kegembiraan dalam
beragama seperti diberi surga di atas dunia. Setiap kata-kata yang diucapkan bersumber
pada Al-Qur’an dan Hadist maupun kata-kata suci lainnya. Ibadah dan pengabdiannya
menghasilkan pada perkembangan spiritualnya.
5. Nafs Radhiyah
Pada tahap ini seseorang tidak hanya tenang dengan dirinya sendiri, namun juga
tetap bahagia dan tegar melewati keadaan sulit, musibah atau cobaan dalam
kehidupannya. Menyadari kesulitan yang datang dari Allah untuk memperkuat dan
memperkokoh imannya. Keadaan bahagia itu sendiri tidak bersifat hedonistik atau
materalistik, dan berbeda dengan hal yang biasa dialami seseorang yang berorientasi pada
hal yang sifatnya duniawi, pemenuhan kesenangan (pleasure principle) dan penghindaran
rasa sakit (paint principle). Ketika seseorang sampai pada tingkat mencintai dan bersyukur
kepada Allah berarti seseorang tersebut telah mencapai tahap perkembangan spiritual ini.
Namun hanya sedikit orang yang dapat mencapai tahap spiritual ini.
6. Nafs Mardhiyah
Pada tahap ini, ketika seseorang mengalami kesulitan akan merasakan
kebahagiaan, musibah atau cobaan dalam kehidupannya. Menyadari akan segala kesulitan
yang diberikan dari Allah untuk memperkuat imannya. Keadaan bahagia itu sendiri tidak
bersifat hedonistik atau materalistik, dan berbeda dengan hal yang biasa dialami oleh
seseorang yang berbeda dengan hal yang biasa dialami seseorang yang berorientasi pada
hal yang sifatnya duniawi, pemenuhan kesenangan (pleasure principle) dan penghindaran
rasa sakit (paint principle). Ketika seseorang sampai pada tingkat mencintai dan bersyukur
kepada Allah berarti seseorang tersebut telah mencapai tahap perkembangan spiritual ini.
Namun sedikit orang yang dapat mencapai tahap ini. dalam segala kejadian
maupun cobaan adalah atas tindakan Allah yang mencintai mereka dalam setiap situasi.
Ketakwaan, kepasrahan, kesabaran, kesyukuran, dan cinta kepada Allah SWT adalah
cobaan dari Allah untuk menanggapinya dengan cepat ketika hamba-Nya kembali
kepada-Nya.
7. Nafs Safiyah
Seseorang yang telah mencapai tahap akhir ini telah mengalami transedensi diri
yang utuh. Tidak ada nafas yang tersisa, hanya penyatuan dengan Allah. Pada tahap ini
seseorang telah menyadari Kebenaran, “Tidak Ada Tuhan Selain Allah”, dan hanya
keilahian yang ada, dan setiap indera manusia atau keterpisahan adalah ilusi semata.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa, dalam mengembangkan spiritual
seseorang untuk menempuh tahap-tahap perkembangan yaitu dengan suatu cara, sarana
atau siasat yang berdasarkan ajaran Islam
Comments
Post a Comment