Pengertian Pemberdayaan Karyawan

 


Definisi (Menurut Pradapti,2009) memperoleh hasil dari pemberdayaan
karyawan berpengaruh positif terhadap komitmen organisasi. Hal ini
menunjukkan bahwa pemberdayaan pegawai mampu meningkatkan komitmen
organisasi. (Karim dan Rehman,2012) dalam (Diputri,2017) memperoleh hasil
bahwa pemberdayaam yang diberikan untuk karyawan akan meningkat komitmen
organisasi dari karyawan.
Hashmi dan Naqvi (2012) mendefinisikan pemberdayaan karyawan
memiliki peranan penting melalui apa yang diberikan dengan perlakuan yang
mengarah pada keinginan terhadap karyawan. Apabila karyawan merasa mereka
telah memberi kontribusi untuk tujuan suatu organisais dan dapat memeberi
pengaruh dari hasil pekerjaan mereka, maka dapat menimbulkan rasa senang yang
mengarah pada komitmen organisasi. Abadi dan Chegini (2013) memberikan
penjelasan melalui pemberdayaan karyawan diakui dapat memeberi suatu
dorongan utama supaya karywan yang mempunyai kompetensi tinggi, agar bisa
mengaplikasikan melalui inovasi dan ide – ide yang dimiliki.
Menurut (Diputri dan Rahyuda, 2016) dalam (setiawan,2018) adalah
sebagai cara untuk mendorong komitmen organisasi karena meningkatkan
kesesuaian antara peran kerja dan kepercayaan diri dalam kemampuan individu 
untuk melakukan pekerjaan dengan baik dan mendorong karyawan untuk
melakukan upaya lebih atas nama organisasi dan kebih berpartisipasi dalam
pengambilan keputusan. Abdullah et al. (2015) menyatakan pemberdayaan dapat
dilihat sebagai cara untuk mendorong komitmen individu untuk organisasi karena
meningkatkan kesesuaian antara peran kerja dan kepercayaan diri dalam
kemampuan individu untuk melakukan pekerjaan dengan baik dan mendorong
karyawan untuk melakukan upaya lebih atas nama organisasi dan lebih
berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Fenomena rendahnya komitmen
organisasional menjadi masalah serius yang dihadapi oleh perusahaan dan industri
yang disebabkan oleh rendahnya kebijakan pemberdayaan karyawan. (Kuo et
al.2010) menyatakan pemberdayaan merupakan cara untuk mendorong dan
meningkatkan pengambilan keputusan karyawan di tingkat bawah yang dapat
memperkaya pengalaman kerja karyawan.
Conger dan Kanungo (1998) membagi pemberdayaan karyawan menjadi 2
perspektif, yaitu psychological empowerment dan organizational empowerment.
psychological empowerment merupakan suatu proses untuk memberi motivasi dan
organizational empowerment merupakan sebuah proses untuk berbagi kekuasan.
Greasley et al. (2004) mengidentifikasi dua aspek pemberdaayaan yang terdiri
dari Perspektif multi dimensional, struktural, organisasional dan perspektif
psikologi ,kognitif. Menon (2001) menyatakan psychological empowerment
adalah konstruk motivasi yang berfokus pada kognisi individu yang diberdayakan.
Kazlauskaite et al. (2012) menyatakan organizational empowerment merupakan 
sebagai praktek manajerial memberikan kewenangan kepada bawahan untuk
melaksanakan tugas-tugas utama mereka.
Kegagalan pemberdayaan karyawan terjadi dikarenakan tidak mendapat
dukungan dari pihak manajemen, kurangnya pemahaman para manajer terhadap
kemampuan karyawannya, dan tidak adanya aktivitas tukar menukar informasi
(Martuti, 2004). 

Comments

Popular Posts