Keterikatan Karyawan
Menurut Schaufeli (2004) Keterikatan Karyawan merupakan sikap positif, penuh
makna, dan motivasi yang tinggi pada anggota organisasi terhadap pekerjaan yang
dikarakteristikkan dengan vigor (tingkatan energi yang tinggi, keinginan berusaha yang kuat),
antusias terhadap pekerjaan, pengabdian pada cita-cita, konsentrasi yang penuh pada
pekerjaan). Haid dan Sims (2012), menunjukkan bahwa karateristik yang terdapat pada
keterikatan karyawan digambarkan pula oleh karakteristik yang terdapat pada kualitas
kehidupan kerja. Dalam hasil studi lain ditunjukkann bahwa perilaku kewargaan organisasi
berpengaruh terhadap keterikatan karyawan.
Selanjutnya menurut Raharjo (2017) keterikatan merupakan hubungan yang kuat antara
karyawan dengan pekerjaan dan dengan orang-orang tempat karyawan tersebut bekerja.
Karyawan mampu menemukan makna pribadi dalam pekerjaan, bangga dengan apa yang
dilakukan dan percaya bahwa organisasi akan menghargai apa yang dilakukan untuk
menunjang keberhasilan organisasi. Menurut Marciano (dalam (Akbar, 2017) seorang
karyawan atau pekerja yang engaged akan mempunyai keterlibatan kepada perusahaan sesuai
dengan tujuan menggunakan segenap kemampuannya untuk menyelesaikan tugas dan menjaga
perilakunya saat bekerja, serta memastikan bahwa karyawan tersebut telah menyelesaikan
tugas dengan baik sesuai dengan tujuan dan bersedia mengambil langkah perbaikan atau
evaluasi jika memang diperlukan. Menurut Selfiana (2016) keterikatan karyawan merupakan
sebuah bentuk keterlibatan atau kerikatan pada karyawan dengan organisasi atau perusahaan
yang membuat para karyawan tersebut memiliki komitmen kuat terhadap perusahaan.
Berdasarkan beberapa pengertian dari para ahli diatas, penulis menyimpulkan bahwa
keterikatan karyawan adalah kemampuan karyawan dalam mengelola dirinya untuk dapat
memberikan sumbangsih positif kepada relasi kerja dan organisasinya.
Schaufeli dan Bakker (dalam Akbar, 2013:13) menyebutkan ada tiga pengukuran dari
employee engagement (keterikatan karyawan), diantaranya yaitu:
- Vigor (semangat) dapat dikarakteristikan sebagai level energi tertinggi dan ketangguhan
mental saat bekerja serta ada keinginan untuk memberikan usaha terhadap pekerjaan dan
menjadi ketahanan saat menghadapi kesulitan. - Dedication (dedikasi) dikarakteristikan sebagai rasa antuasias, inspirasi, tantangan, dan
kebanggaan dari karyawan. - Absorption (penyerapan) dapat dikarakteristikan dengan konsentrasi penuh dan senang
saat terlibat dalam pekerjaan sehingga waktu saat bekerja berjalan dengan cepat meskipun
karyawan sedang ada masalah.
Employee engagement merupakan hal positif, yang terkait dengan keadaan pikiran
yang ditandai dengan vigor (semangat), dedikasi, dan absorption atau penyerapan (Schaufeli,
2004). - Vigor atau semangat
Merupakan curahan energi dan mental yang kuat selama bekerja, keberanian untuk
berusaha sekuat tenaga dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, jugakemauan untuk
menginvestasikan segala upaya dalam suatu pekerjaan, dan tetap bertahan meskipun
menghadapi kesulitan mencerminkan kesiapan untuk mengabdikan upaya dalam
pekerjaan seseorang. Sebuah usaha untuk terus energik saat bekerja dan kecenderungan
untuk tetap berusaha dalam menghadapi tugas walau kesulitan atau kegagalan - Dedikasi
Merupakan sebuah pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan dari
suatu usaha dengan tujuan yang mulia. Dedikasi ini bisa juga berarti pengabdian untuk
melaksanakan cita-cita yang luhur dan diperlukan adanya sebuah keyakinan yang teguh
demi tercapainya sebuah tujuan dari organisasi. - Absorption
Absorption (penyerapan) ditandai dimana seseorang menjadi benar-benar tenggelam
dalam pekerjaan dengan waktu tertentu dan akan merasa sulit untuk melepaskan diri dari
pekerjaannya, walaupun pekerjaan yang dilakukannya berulang-ulang karyawan tidak
pernah merasa bosan dengan pekerjaan tersebut.
Comments
Post a Comment