Konflik Kerja dan Keluarga
Menurut Beutell (2015) Konflik kerja dan keluarga adalah bentuk konflik antara peran
yang diakibatkan oleh tuntutan peran di tempat kerja dan keluarga saling bertentangan dalam
beberapa hal. Konflik kerja dan keluarga diidentifikasikan sebagai bentrokan antara peran yang
berhubungan dengan pekerjaan dan keluarga yang dapat mengurangi kinerja karyawan.
Menurut Netemeyer (2016) mendefinisikan bahwa konflik kerja dan keluarga adalah bentuk
konflik antar peran dimana tuntutan, waktu, dan ketegangan yang berasal dari pekerjaan yang
mengganggu seseorang untuk melakukan tanggung jawabnya pada keluarga.
Sedangkan menurut Frone (2012) Konflik kerja dan keluarga sebagai konflik
peranyang terjadi pada karyawan, dimana disatu sisi seseorang harus melakukan pekerjaan
dikantor dan disisi lain harus memperhatikan keluarga secara utuh. Konflik kerja dan keluarga
merupakan ketidakjelasan atau konflik antar peran pekerjaan dan peran keluarga yang
menyebabkan stres peran keluarga atau stres peran pekerjaan (Grandey, 2019). Menurut Buhali
(2013) Konflik kerja dan keluarga adalah pekerjaan yang mengganggu keluarga, artinya
sebagian besar waktu dan perhatian dicurahkan untuk melakukan pekerjaan sehingga kurang
mempunyai waktu untuk keluarga.
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa konflik kerja dan keluarga
merupakan tuntutan dua domain yaitu pekerjaan dan keluarga yang harus dilakukan secara
bersamaan oleh seseorang terutama wanita yang bekerja.
Beutell (2015) membagi indicator work family conflict menjadi tiga, yaitu:
a. Time-based conflict (konflik berdasar waktu)
Time-based conflict yaitu konflik yang terjadi karena waktu yang digunakan untuk
memenuhi satu peran yang tidak dapat tidak dapat digunakan untuk memenuhi peran
lainnya. Artinya pada saat yang bersamaan seseorang yang mengalami konflik peran ganda
tidak akan bisa melakukan dua atau lebih peran sekaligus. Bentuk konflik ini antara lain
jumlah jam kerja, lembur, tingkat kehadiran, ketidakhadiran sift, dan kontrol jadwal.
Misalnya: seorang ibu yang harus bekerja lembur hingga larut malam di kantor tidak bisa
memasakkan makan malam untuk anak dan suaminya di rumah.
Menurut Beutell (2015) terdapat dua bentuk time-based conflict yaitu: (1) tuntutan
waktu dari peran yang satu membuat individu secara fisik tidak dapat memenuhi
ekspektasi dari peran yang lain, (2) tekanan waktu juga dapat membuat seseoang terlalu
menikmati satu peran bahkan etika seseorang secara fisik berusaha memenuhi tuntutan
peran lain.
b. Strain-based conflict (konflik berdasarkan ketegangan)
Konflik ini didasarkan pada keterlibatan peran. Konflik ini muncul saat ketegangan
yang diakibatkan dari menjalankan salah satu peran yang mempengaruhi kinerja seseorang
pada peran yang lain. Artinya peran-peran tersebut menjadi bertentangan karena
ketegangan akibat peran yang satumembuat individu lebih sulit memenuhi tuntutan
perannya yang lain. Gejala tekanan pada konflik ini seperti: ketegangan, kecemasan,
kelelahan, karakter peran kerja, kehadiran anak baru, dan ketersediaan dukungan sosial
anggota keluarga. Misal: ketika seorang ibu semalaman tidak tidur menemani anaknya
yang dirawat di rumah sakit. Esoknya ketika ia ke kantor atau bekerja ia akan merasa
cemas maupun lelah.
c. Behaviour-based conflict (konflik berdasarkan perilaku)
Konflik ini muncul ketika suatu tingkah laku efektif untuk satu peran namun tidak
efektif digunakan untuk peran yang lain. Konflik ini berhubungan dengan ketidaksesuaian
antara pola perilaku seseorang dengan yang diinginkan oleh kedua bagian (pekejaan dan
keluarga). Misal: Ketika seorang ibu bekerja sebagai polisi ia harus tegas dan disiplin.
Sementara sebagai ibu ketika ia menerapkan hal itu di rumah belum tentu seluruhnya
cocok, karena ia harus tetap menjadi seseorang yang lemah lembut, peduli dan baik hati.
Comments
Post a Comment