Bentuk Motivasi

 


Dalam praktek, hampir setiap perusahaan menganut versinya sendiri
yang lebih kurang tradisional dalam mengancang motivasi. Perbedaan yang
terdapat antara satu perusahaan dengan perusahaan lain dalam pemberian
motivasi hampir selalu terletak pada gaya, selera, atau tekanan, dan bukan
dalam jenisnya (Siswanto, 2005:270).
Pada umumnya bentuk motivasi yang sering dianut perusahaan
meliputi empat unsur utama, yaitu kompensasi bentuk uang, pengarahan dan
pengendalian, penerapan pola kerja yang efektif, serta kebajikan.

  1. Kompensasi Bentuk Uang
    Salah satu bentuk yang paling sering diberikan kepada tenaga
    kerja adalah berupa kompensasi. Kompensasi yang diberikan kepada
    tenaga kerja biasanya berwujud uang. Kompensasi sebagai kekuatan
    untuk memberi motivasi selalu memiliki reputasi atau nama yang
    baik, dan memang sudah selayaknya demikian. Meskipun kurang
    tepat sama sekali bahwa semua orang akan berbuat apa saja untuk
    meningkatkan pendapatan. Namun, selama beberapa dekade terbukti
    bahwa hampir semua orang akan berbuat apa saja untuk mencegah
    agar sumber pendapatan mereka tidak diambil orang lain.
    Rasa takut kehilangan pekerjaan dan sumber uang merupakan
    perangsang kerja yang sangat efektif karena uang sangat diperlukan
    untuk kelangsungan hidup. Uang merupakan kebutuhan yang paling
    fundamental dan paling kuat di antara naluri-naluri biologis lain.
    Makan bukan merupakan hal yang luar biasa, kompensasi berupa uang
    telah mengembangkan reputasinya sebagai perangsang yang mujarab.
    Sebenarnya pemberian kompensasi bentuk uang sebagai
    motivasi kerja para tenaga kerja memiliki dua pengaruh perilaku.
    Keanggotaan adalah pengaruh yang paling luas, yang mempengaruhi
    tenaga kerja pada semua tingkat pendapatan. Pengaruh yang kedua
    adalah negatif dari sudut pandangan perusahaan, dan cenderung
    terbatas hanya pada tenaga kerja yang pendapatannya tidak lebih dari
    tingkat “standar kehidupan yang layak” dan cenderung menganggap
    kompensasi bentuk uang tidak seimbang.
  2. Pengarahan dan Pengendalian
    Pengarahan maksudnya menentukan apa yang harus mereka
    kerjakan atau tidak mereka kerjakan. Sedangkan pengendalian
    maksudnya menentukan bahwa tenaga kerja harus mengerjakan halhal yang telah diinstruksikan. Sebenarnya dua hal tersebut sebagai
    perangsang telah berkembang dan dianut oleh berbagai perusahaan
    sejak berabad-abad lamanya. Hingga kini hal tersebut masih
    digunakan para manajer untuk memotivasi para tenaga kerja.
    Fungsi pengarahan mencakup berbagai proses operasi standar,
    pedoman, dan buku panduan, bahkan Management By Objective
    (MBO)/ manajemen berdasarkan sasaran. Fungsi pengendalian
    mencakup penilaian kerja, pemeriksaan mutu, dan pengukuran hasil
    kerja. Kedua hal tersebut pada dasarnya merupakan metode yang
    dimaksudkan untuk menyalurkan perilaku tenaga kerja dalam
    kegiatan-kegiatan tertentu dan menghindari kegiatan lain dengan
    menetapkan peraturan dan standar, dan kemudian memastikan bahwa
    peraturan tersebut dipatuhi. Pengarahan adalah menentukan dan
    melarang jenis perilaku tertentu, sedangkan pengendalian adalah
    mengukur hasil kerja dan campur tangan apabila hasil yang dicapai
    tenaga kerja kurang memuaskan.
    Pengarahan dan pengendalian dalam suatu bentuk jelas perlu
    mendapatkan kinerja yang terpercaya dan terkoordinasi. Akan tetapi,
    hal itu telah menjadi sumber perdebatan yang sengit dan panjang.
    Jalan terbaik yang harus dilalui adalah dengan cara meningkatkan
    mutu penyeliaan dengan seleksi dan pelatihan yang lebih baik, serta
    merencanakan kembali proses pengarahan dan pengendalian agar
    dapat digunakan dengan hemat, selektif, dan dengan cara
    menyenangkan sehingga tujuan motivasi kerja para tenaga kerja dapat
    terwujud.
  3. Penetapan Pola Kerja yang Efektif
    Pada umumnya, reaksi dari kebosanan kerja akan menghambat
    produktivitas kerja. Karena manajemen menyadari bahwa masalahnya
    bersumber pada cara pengaturan pekerjaan, mereka menanggapinya
    dengan berbagai teknik, beberapa di antaranya efektif dan yang lain
    kurang efektif. Teknik ini, antara lain:
    a) Memperkaya pekerjaan, yaitu penyesuaian tuntutan pekerjaan
    dengan kemampuan tenaga kerja;
    b) Manajemen partisipatif, yaitu penggunaan berbagai cara untuk
    melibatkan pekerja dalam pengambilan keputusan (decision
    making) yang mempengaruhi pekerjaan mereka;
    c) Mengalihkan perhatian para pekerja dari pekerjaan yang
    membosankan kepada instrumen (alat) waktu luang untuk
    istirahat atau sarana lain yang lebih fantastis.

Comments

Popular Posts